Quo Vadis Gerakan Pramuka? Membangun Karakter, Menanamkan Nilai, atau Sekadar Mengejar Prestasi dan Pengakuan?

Jejak Pramuka – Pada suatu kegiatan lomba kepramukaan, saya bertemu dengan salah satu adik yang pernah menjadi anggota di ambalan/gugus depan (gudep). Kini, sembari kuliah, ia diminta untuk ikut membantu membina di salah satu gudep yang ada. Dalam perbincangan kami, ia bercerita tentang pengalaman dan pola pembinaan yang ia rasakan saat masih aktif sebagai peserta didik, lalu membandingkannya dengan kondisi di tempatnya membina sekarang.

Dengan penuh semangat, ia mengisahkan bahwa di gudep tempatnya membina saat ini, latihan tidak diadakan secara rutin. Sebaliknya, latihan hanya dilakukan secara situasional, yakni ketika ada event lomba yang akan diikuti. Saat itu barulah diadakan serangkaian latihan intensif dengan peserta yang telah diseleksi sebelumnya. Ia tampak bangga dengan pola pembinaan seperti itu, tetapi saya justru merasa miris. Betapa jauhnya orientasi dan strategi pembinaan di sebagian gudep dari esensi sebenarnya.

Sejatinya, kegiatan dalam kepramukaan, termasuk lomba, merupakan bagian dari metode pendidikan yang bertujuan membentuk karakter dan keterampilan peserta didik. Namun, yang terjadi di beberapa gudep justru sebaliknya. Lomba yang seharusnya menjadi sarana, kini berubah menjadi tujuan utama. Hal ini tak lepas dari tekanan pihak sekolah yang menginginkan prestasi demi menambah poin akreditasi. Akibatnya, pembina lebih fokus pada target kemenangan dibandingkan proses pendidikan jangka panjang yang seharusnya menjadi inti dari kegiatan kepramukaan.

Saya teringat sebuah perumpamaan yang pernah diajarkan dalam kursus kepramukaan. Kepramukaan diibaratkan sebagai lampu di plafon yang menerangi sebuah ruangan. Semakin mendekati lantai, sinarnya semakin melemah, menciptakan tiga wilayah berbeda. Wilayah pertama, yang berada dekat dengan sumber cahaya, tentu bersinar terang. Wilayah kedua mulai temaram, sementara wilayah ketiga, yang jauh dari pusat cahaya, tenggelam dalam kegelapan. Sayangnya, banyak pembina kini hanya berfokus pada segelintir peserta didik yang bersinar terang, sementara mereka yang masih membutuhkan bimbingan justru terabaikan.

Fenomena ini memperlihatkan problematika mendasar dalam Gerakan Pramuka: budaya “seolah-olah” yang semakin akut. Seolah-olah ada pembinaan, padahal hanya berbasis event. Seolah-olah ada latihan rutin, padahal hanya muncul menjelang lomba. Seolah-olah peserta didik berkembang, padahal hanya segelintir yang mendapat perhatian. Padahal, kepramukaan seharusnya menjadi wadah inklusif bagi seluruh peserta didik untuk tumbuh dan berkembang.

Dalam perenungan ini, saya kembali mengingat kutipan Baden Powell: “Scouting is a game for the boys but a job to be done seriously by the adults.” Kepramukaan adalah permainan yang menyenangkan bagi peserta didik, tetapi merupakan tugas serius bagi orang dewasa yang membinanya. Sudahkah kita, para pembina dan pemangku kepentingan di Gerakan Pramuka, menjalankan tugas ini dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita berusaha menghantarkan kaum muda bangsa menuju masa depan yang lebih baik di bawah kibaran Sang Merah Putih?

Quo Vadis Gerakan Pramuka? Ke mana arah gerakan ini akan bermuara? Jawabannya ada pada kita semua yang mengemban amanah sebagai pembina dan penggerak organisasi ini. Kini saatnya kembali kepada hakikat sejati kepramukaan: mendidik generasi muda dengan penuh dedikasi, bukan sekadar mengejar piala atau prestasi instan yang mengorbankan esensi pembinaan.[JP-Red]

— Penulis : Sonny Prima Sanjaya – Pembina Pramuka Denpasar Bali —

Sambut Peran Saka Nasional, Berikut Edaran Resmi Dari Kwarnas

Jejak Pramuka – Peran Saka Nasional merupakan perkemahan yang menjadi ajang pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega yang tergabung dalam Satuan Karya Pramuka. Pada tahun 2025 ini Kwartir Nasional mengadakan Peran Saka Nasional di Gorontalo.

Sesuai dengan Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 075 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perkemahan Antar Satuan Karya Pramuka Tingkat Nasional atau Peran Saka Nasional telah diputuskan beberapa informasi diantaranya : 

  1. Waktu Kegiatan, Peran Saka Nasional 2025 akan dilaksanakan pada tanggal 14 sampai dengan 21 Agustus Tahun 2025
  2. Lokasi Kegiatan, Peran Saka Nasional 2025 akan bertempat di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo
  3. Persyaratan Kegiatan, beberapa persyaratan dari kegiatan Peran Saka Nasional mengenai camp fee dan formulir pendaftaran dapat diakses di edaran resmi

Untuk informasi lebih detail maka kakak-kakak semua dapat mengakses edaran resmi mengenai Peran Saka Nasional di bawah ini.[Red]

Edaran Resmi Peran Saka Nasional 2025

Pewarta : Fajar Amali Kurniawan

Sumber Berita dari : pramuka.id

Keberhasilan Membina Pramuka Penegak dengan Menerapkan Metode “Dispuanko Triangle”

Jejak Pramuka – Dalam dunia kepramukaan, seorang Pramuka Penegak dituntut untuk memiliki berbagai keterampilan dan karakter yang kuat sebagai bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan. Untuk mencapai hal tersebut, terdapat tiga aspek mendasar yang harus dikuasai, yaitu Disiplin, Kemampuan, dan Komunikasi, yang disingkat sebagai DISPUANKO. Konsep ini menjadi dasar dalam membentuk Pramuka Penegak yang tangguh, berkarakter, dan mampu menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Dengan bimbingan seorang pembina Pramuka Penegak, tiga aspek ini dapat dipahami, diterapkan, dan dikembangkan secara maksimal.

Konsep ini sejatinya selaras dengan pemikiran Baden Powell dalam bukunya Rovering to Success. Dalam buku tersebut, Baden Powell menekankan bahwa seorang pemuda harus mampu menjalani kehidupannya layaknya seorang pelaut yang mengarungi samudera menuju keberhasilan. Dengan menguasai disiplin, kemampuan, dan komunikasi yang baik, seorang Pramuka Penegak akan lebih siap menghadapi tantangan hidup dan menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab.

Tujuh Hal Kedisiplinan dalam Pramuka Penegak

Disiplin adalah kunci utama dalam membentuk karakter seorang Pramuka Penegak. Tujuh aspek kedisiplinan yang harus ditanamkan dan diterapkan adalah:

  1. Disiplin dalam Kepemimpinan dan Etika Moral – Seorang Pramuka harus menjadi pemimpin yang adil dan bertanggung jawab, menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, serta menghormati aturan yang berlaku.
  2. Disiplin dalam Berbicara dan Bertindak – Menggunakan bahasa yang sopan, jelas, serta bertindak dengan penuh perhitungan agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
  3. Disiplin dalam Waktu dan Menjalankan Tugas – Datang tepat waktu dalam setiap kegiatan dan menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab tanpa penundaan.
  4. Disiplin dalam Belajar, Berlatih, dan Berorganisasi – Tekun dalam meningkatkan pengetahuan serta keterampilan yang mendukung perkembangan diri, sekaligus mampu mengelola tugas secara sistematis dalam suatu organisasi.
  5. Disiplin dalam Kepedulian Sosial dan Lingkungan – Berkontribusi aktif dalam komunitas, menjaga kebersihan diri serta lingkungan, serta menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap sesama.
  6. Disiplin dalam Berpakaian dan Tata Krama – Mematuhi aturan berpakaian dengan rapi serta menjaga sikap dan kesopanan dalam berinteraksi dengan orang lain.
  7. Disiplin dalam Mengendalikan Diri – Mampu mengelola emosi, menghindari sikap impulsif, serta menjaga sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kepramukaan.

Baden Powell dalam Rovering to Success juga menekankan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter seseorang. Ia menyebutkan bahwa kedisiplinan akan membantu seseorang menjadi lebih kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup.

Lima Kemampuan yang Harus Dikuasai oleh Pramuka Penegak

Kemampuan adalah faktor yang menentukan kualitas seorang Pramuka Penegak dalam menghadapi berbagai situasi. Lima kemampuan yang harus dikuasai adalah:

  1. Kemampuan Bertahan Hidup (Survival Skills) – Seorang Pramuka harus mampu bertahan dalam kondisi darurat, seperti membuat perlindungan dari alam, mencari sumber air, dan mengolah makanan.
  2. Kemampuan Kepemimpinan – Pramuka Penegak harus dapat menjadi pemimpin yang bijaksana, mampu mengambil keputusan, dan mengayomi anggota kelompoknya.
  3. Kemampuan Berorganisasi – Mengelola dan mengatur sebuah kegiatan dengan baik menunjukkan kemampuan dalam organisasi dan kerja sama tim.
  4. Kemampuan Keterampilan Kepramukaan – Seperti tali-temali, sandi, navigasi darat, serta keterampilan lain yang menjadi bagian dari kepramukaan.
  5. Kemampuan Beradaptasi – Pramuka harus fleksibel dalam menghadapi berbagai kondisi dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan serta orang-orang di sekitarnya.

Dalam bukunya, Baden Powell menekankan bahwa kemampuan hidup yang baik adalah hasil dari pengalaman dan latihan yang terus-menerus. Ia mengajarkan bahwa pemuda harus aktif mencari pengalaman baru agar lebih matang dan siap menghadapi dunia nyata.

Dua Aspek Komunikasi yang Harus Dimiliki oleh Pramuka Penegak

Kemampuan komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam kehidupan berorganisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dua aspek komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang Pramuka Penegak adalah:

  1. Komunikasi Verbal yang Efektif – Kemampuan berbicara dengan jelas, lugas, dan tepat sasaran dalam menyampaikan informasi atau gagasan sangat penting, baik dalam forum resmi maupun dalam interaksi sehari-hari. Contoh teknik mudah dalam komunikasi verbal adalah menggunakan metode Think Before You Speak, yaitu berpikir sebelum berbicara agar pesan yang disampaikan jelas dan tidak menyinggung orang lain. Selain itu, latihan berbicara di depan cermin atau dalam diskusi kelompok juga membantu meningkatkan keterampilan komunikasi verbal.
  2. Komunikasi Non-Verbal yang Mempunyai Makna – Bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta gestur yang sesuai dapat mendukung efektivitas komunikasi dan memperjelas pesan yang ingin disampaikan. Salah satu teknik mudah dalam komunikasi non-verbal adalah menjaga kontak mata saat berbicara, yang menunjukkan kepercayaan diri dan ketulusan dalam menyampaikan pesan. Selain itu, postur tubuh yang terbuka dan sikap yang santun akan mencerminkan sikap positif dan mudah diterima oleh lawan bicara.

Baden Powell juga menyoroti pentingnya komunikasi dalam kehidupan seorang pemuda. Dalam Rovering to Success, ia menjelaskan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci dalam membangun hubungan yang sehat dan menciptakan kerja sama yang kuat dalam sebuah kelompok.

Melalui penerapan konsep SEGITIGA DISPUANKO, seorang Pramuka Penegak dapat menjadi pribadi yang disiplin, memiliki kemampuan yang mumpuni, dan mahir dalam berkomunikasi. Ketiga aspek ini merupakan fondasi utama yang akan membantu mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dalam kegiatan kepramukaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan bimbingan seorang pembina yang kompeten, serta meneladani prinsip-prinsip dari Rovering to Success, Pramuka Penegak dapat berkembang menjadi pemimpin yang tangguh dan inspiratif bagi generasi mendatang.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media : jejakpramuka.com;

JENGGALA 2025: Kompetisi Bergengsi Penggalang Tingkat Jawa Timur oleh Pramuka SMPN 1 Tulangan

Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka SMP Negeri 1 Tulangan Sidoarjo menggelar kegiatan JENGGALA 2025 “Ajang Kreasi Pramuka Penggalang Beraksi” tingkat SD/MI & SMP/MTs se-Jawa Timur. Mengusung tema “Ngesti Karya” yang bermakna “Mencapai Karya”, kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 2 Februari 2025 di SMP Negeri 1 Tulangan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Agenda Program Kerja Tahunan yang bertujuan mewujudkan Pramuka yang memiliki potensi berkualitas, kreatif, serta membanggakan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan jiwa kompetitif yang sehat, sekaligus membentuk generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

“JENGGALA 2025 merupakan lomba perdana yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 1 Tulangan. Kami bersyukur atas terselenggaranya acara ini. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah ekspresi kreativitas dan bakat Pramuka Penggalang. Terima kasih kepada peserta, sekolah, sponsor, dan panitia yang telah bekerja keras. Semoga kegiatan ini memotivasi para siswa untuk terus berkarya,” ucap Kak Rizky Akbar Mahendra, Ketua Panitia JENGGALA 2025.

Acara diikuti oleh 960 peserta Pramuka Penggalang se-Jawa Timur dan dibuka oleh Ka.Mabigus SMP Negeri 1 Tulangan, Kak Agus Pujiono, S.Pd., M.Si. Turut hadir perwakilan Ka.Mabigus dari beberapa pangkalan, Ka.Kwarran Tulangan, perwakilan Polsek Tulangan, dan para wakil kepala sekolah SMP Negeri 1 Tulangan.

Dalam sambutannya, Kak Agus menyampaikan dengan penuh semangat bahwa JENGGALA 2025 lahir dari visi luhur SMP Negeri 1 Tulangan, yaitu MEKAR WANGI: Membangun Karakter Pribadi dan Merawat Generasi Insan Mulia. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi sebuah perjalanan pembelajaran yang membentuk kepribadian para peserta.

Melalui setiap tantangan dalam lomba, peserta diajak untuk mengasah keterampilan, menanamkan nilai-nilai luhur, dan mempraktikkan semangat persaudaraan. JENGGALA 2025 diharapkan menjadi wadah efektif dalam menumbuhkan karakter mulia, menjadikan para penggalang bukan hanya unggul secara keterampilan, tetapi juga memiliki jiwa yang penuh integritas, kepedulian, dan cinta tanah air.

Setelah upacara pembukaan, suasana penuh apresiasi menyelimuti arena kegiatan JENGGALA 2025. Panitia secara resmi menyerahkan piagam penghargaan kepada sponsor dan media partner yang telah memberikan dukungan luar biasa. Penghargaan ini bukan hanya simbol terima kasih, tetapi juga bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam menyukseskan kegiatan yang menginspirasi generasi muda Pramuka.

Mata lomba JENGGALA 2025 dirancang untuk mengasah kreativitas, keterampilan, dan kekompakan peserta. Untuk kategori regu, peserta akan berkompetisi dalam Scout Mini Pionering yang menguji kemampuan membuat konstruksi sederhana, Scout Javanese yang mengeksplorasi budaya lokal, Scout Chef yang menantang keterampilan memasak, serta Scout Culture Painting yang menampilkan ekspresi seni bertema budaya Nusantara. Sementara itu, untuk kategori pangkalan, lomba yang digelar adalah Scout Jingle, yang menilai kreativitas dalam membuat lagu khas Pramuka, dan Scout Dance Semaphore, yang mengombinasikan seni gerak dengan keterampilan sandi semaphore.

Penilaian lomba dilakukan secara profesional oleh juri yang berpengalaman di bidangnya. Para juri menilai berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, meliputi aspek kreativitas, teknik, kekompakan, dan nilai edukatif. Namun, JENGGALA 2025 tidak hanya tentang kompetisi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah memperkuat persatuan, persahabatan, dan semangat gotong royong antar peserta dari berbagai pangkalan.

@menschaftproduction

Kemeriahan semakin terasa saat ETLIBS Band dari SMP Negeri 1 Tulangan tampil memeriahkan acara. Dengan semangat muda yang membara, band ini membawakan berbagai lagu yang sukses menghibur peserta, menambah semarak suasana menjelang upacara penutupan. Riuh tepuk tangan dan nyanyian bersama menjadi bukti bahwa JENGGALA 2025 tidak hanya meninggalkan kenangan perlombaan, tetapi juga kebersamaan yang berkesan. Sampai jumpa di JENGGALA 2026! [JP-Red]

— Kontributor Berita : Indah Wahyuni – Pembina Pramuka SMP Negeri 1 Tulangan Sidoarjo —

Menguak Tiga Karya Awal Baden-Powell yang Menginspirasi Dunia dan Membentuk Gerakan Pramuka

Baden Powell, pendiri gerakan Pramuka, dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Ia menulis banyak buku yang menjadi dasar bagi pendidikan kepramukaan di seluruh dunia. Beberapa karyanya yang paling berpengaruh adalah Aids to Scouting, Scouting for Boys, dan Rovering to Success.

Buku-buku ini tidak hanya memberikan wawasan tentang teknik kepanduan tetapi juga menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kemandirian, dan kecintaan terhadap alam. Dalam tulisan ini, akan dibahas secara singkat tiga buku awal yang berkontribusi besar terhadap berkembangnya gerakan kepanduan.

Aids to Scouting: Panduan Militer yang Menginspirasi Kepanduan

Buku pertama, Aids to Scouting, diterbitkan pada tahun 1899 dan awalnya ditulis sebagai panduan bagi pasukan militer Inggris dalam bertahan di medan perang. Baden-Powell, yang saat itu adalah seorang perwira militer, menekankan pentingnya keterampilan bertahan hidup, membaca jejak, dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Buku ini tidak secara khusus ditujukan untuk anak muda, tetapi justru menarik perhatian banyak organisasi pemuda yang melihat potensi penerapannya dalam pendidikan luar ruangan dan pelatihan karakter.

Seiring waktu, konsep yang ada dalam Aids to Scouting berkembang menjadi metode kepanduan yang lebih terstruktur. Setelah Baden-Powell mengadakan eksperimen kamp Pramuka pertama di Pulau Brownsea pada tahun 1907, ia melihat perlunya buku yang lebih terarah bagi anak-anak dan remaja. Hal ini mendorongnya untuk menulis Scouting for Boys yang akhirnya menjadi buku pegangan utama bagi gerakan kepanduan di seluruh dunia.

Scouting for Boys: Buku Pegangan Utama Gerakan Pramuka

Buku kedua, Scouting for Boys, diterbitkan pada tahun 1908 dan dianggap sebagai karya paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan. Buku ini berisi petunjuk praktis tentang cara bertahan di alam, bekerja dalam kelompok, dan menjalankan berbagai kegiatan pramuka. Dalam buku ini, Baden-Powell memperkenalkan sistem beregu dan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi gerakan Pramuka, seperti kewajiban terhadap Tuhan dan negara, menolong sesama, serta menjalankan disiplin diri.

Selain itu, Scouting for Boys juga dipenuhi dengan cerita petualangan, permainan, dan tantangan yang dirancang untuk membangun keterampilan dan karakter anak muda. Gaya penulisan yang menarik dan penuh semangat membuat buku ini sangat populer, bahkan melampaui harapan Baden-Powell. Dengan segera, berbagai kelompok pemuda di berbagai negara mulai menerapkan sistem kepanduan yang diperkenalkan dalam buku ini.

Rovering to Success: Panduan Hidup bagi Dewasa Muda

Buku ketiga, Rovering to Success, diterbitkan pada tahun 1922 dan ditujukan bagi pemuda yang telah memasuki usia dewasa. Dalam buku ini, Baden-Powell memberikan panduan bagi para Rover Scout — pramuka usia 17 tahun ke atas (Pramuka Penegak) — untuk menghadapi kehidupan dengan semangat kepanduan. Buku ini lebih bersifat filosofis dibandingkan dua buku sebelumnya dan berisi nasihat tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, menemukan tujuan hidup, serta menghadapi tantangan dengan sikap positif.

Melalui Rovering to Success, Baden-Powell menekankan bahwa nilai-nilai kepanduan tidak hanya berlaku dalam kegiatan luar ruangan tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini banyak memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk tetap menjalankan prinsip-prinsip kepanduan dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan dan kemandirian.

Kesimpulan: Tiga Buku yang Mengubah Dunia Kepanduan

Ketiga buku ini menjadi tonggak utama dalam perkembangan gerakan Pramuka di seluruh dunia. Dari buku pertama yang bersifat militeristik hingga buku ketiga yang lebih filosofis, karya-karya Baden-Powell berhasil membangun sistem pendidikan nonformal yang berfokus pada pengembangan karakter dan keterampilan hidup. Hingga saat ini, nilai-nilai yang diusung dalam buku-buku tersebut masih terus diterapkan dalam pendidikan kepanduan di berbagai negara, membuktikan bahwa gagasan Baden-Powell tetap relevan sepanjang masa.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media : jejakpramuka.com;

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Mendikdasmen RI Perkuat Sinergi dalam Penguatan Pendidikan Kepramukaan

Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah dalam mendukung pendidikan karakter bagi generasi muda. Dalam audiensi yang berlangsung pada Rabu, 22 Januari 2025, di kediaman Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Dr. Abdul Mu’ti di Jakarta, Pimpinan Kwarnas Gerakan Pramuka membahas berbagai isu strategis terkait pendidikan karakter dan penguatan pendidikan kepramukaan di sekolah dasar dan menengah.

Audiensi ini dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kwarnas, Mayjen TNI (Purn) Dr. Bachtiar, didampingi oleh Wakil Ketua Kwarnas bidang Kerja Sama Dalam Negeri dan Luar Negeri, Binamuda, Binawasa, Bela Negara, serta Humas, Pengabdian Masyarakat dan Informatika. Dalam pertemuan ini, Kwarnas menyampaikan pentingnya sinergi antara Gerakan Pramuka dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mendukung pendidikan karakter dan pengembangan keterampilan bagi peserta didik.

Poin-poin utama hasil audiensi:

  1. Peningkatan Kualitas Pembina Pramuka
    Kwarnas menekankan perlunya peningkatan kompetensi pembina Pramuka di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Banyak pembina belum memiliki sertifikasi Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML), yang berdampak pada efektivitas kegiatan kepramukaan. Oleh karena itu, revitalisasi Gugus Depan (Gudep) dan sistem rayon akan diterapkan guna meningkatkan kualitas pembina.
  2. Usulan Adendum Undang-Undang Gerakan Pramuka
    Kwarnas mengusulkan adendum terhadap Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka agar berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mengingat peserta didik Pramuka mencakup anak-anak di luar kategori pemuda. Mendikdasmen RI menyetujui usulan ini dan merekomendasikan agar prosesnya dilakukan melalui badan legislatif dan Komisi X DPR RI.
  3. Surat Edaran Bersama Tiga Menteri
    Dalam pertemuan ini juga dibahas implementasi Surat Edaran (SE) bersama tiga menteri—Mendikdasmen, Mendagri, dan Menteri Agama—tentang Penguatan Pendidikan Karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kwarnas menekankan pentingnya pemahaman bahwa Gerakan Pramuka merupakan wadah utama pendidikan karakter yang telah memiliki sejarah panjang di Indonesia.
  4. Revisi Permendikbud dan Perjanjian Kerja Sama
    Mendikdasmen RI akan meninjau kembali Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 terkait pendidikan kepramukaan. Selain itu, Memorandum of Understanding (MoU) antara Kwarnas dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan diperbarui untuk memperjelas peran dan dukungan terhadap kegiatan kepramukaan di sekolah.
  5. Peningkatan Status Pembina Pramuka di Sekolah
    Salah satu usulan Kwarnas adalah menyesuaikan beban kerja guru yang menjadi pembina Pramuka. Saat ini, kewajiban mengajar 24 JPL/Minggu akan disesuaikan menjadi 16 JPL Plus, di mana pembina Pramuka akan mendapatkan kredit pengakuan setara 6-8 JPL. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi guru dalam membina Pramuka.
  6. Jalur Prestasi Pramuka dalam Penerimaan Murid Baru
    Kwarnas juga mengusulkan agar jalur prestasi Gerakan Pramuka dijadikan salah satu kriteria dalam penerimaan siswa baru mulai Tahun Ajaran 2025/2026. Mendikdasmen RI menyatakan dukungan terhadap kebijakan ini.
  7. Penguatan Gerakan Pramuka dalam Sistem Pendidikan Nasional
    Kwarnas berharap agar Gerakan Pramuka tetap menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional, sejalan dengan program “Anak Indonesia Hebat” yang sedang dikembangkan pemerintah.

Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap pendidikan kepramukaan, Kwarnas menyerahkan buku Ensiklopedia Praja Muda Karana kepada Mendikdasmen RI. Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam memahami lebih dalam sejarah dan peran Pramuka dalam membangun karakter bangsa.

Dengan adanya sinergi yang lebih erat antara Kwarnas Gerakan Pramuka dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, diharapkan Gerakan Pramuka semakin kuat dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sekilas Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka mulai diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961 yang merupakan organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Kata Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya. Gerakan Pramuka tingkat nasional dikelola langsung oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Saat ini jumlah satuan dalam Gerakan Pramuka yaitu, 1 Kwartir Nasional, 34 Kwartir Daerah, 514 Kwartir Cabang, 5.277 Kwartir Ranting, dan 239.877 Gugus Depan.[JP-Red]

Sumber Informasi Berita : pramuka.or.id

Jelajah Pengembara 2025: Perjalanan Fisik, Mental, dan Sejarah dalam Satu Petualangan

Jejak Pramuka – Menyusuri jalur menantang, melintasi rimbunnya pepohonan, dan menapaki jejak sejarah, para anggota Dewan Kerja Ambalan Gatutkaca dan Srikandi Pangkalan SMA Avisena Jabon menjalani sebuah perjalanan yang lebih dari sekadar petualangan. Jelajah Pengembara 2025 menjadi ajang pembuktian solidaritas, ketahanan, dan kerja sama tim yang sesungguhnya.

Digelar pada 29 Januari 2025, ekspedisi ini berlangsung di Candi Belahan, Kecamatan Gempol, sebuah lokasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga menyimpan nilai sejarah mendalam. Candi Belahan, yang juga dikenal sebagai Petirtaan Belahan, merupakan situs peninggalan Kerajaan Airlangga yang dibangun pada tahun 1049 oleh Raja Airlangga sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

Candi ini didirikan sebagai tempat peristirahatan dan pemujaan bagi Raja Airlangga, serta memiliki sumber mata air suci yang dipercaya sebagai tempat penyucian diri. Keunikan candi ini terletak pada arca Dewi Sri dan Laksmi yang melambangkan kesuburan serta kemakmuran, menjadikannya salah satu peninggalan sejarah yang memiliki nilai spiritual tinggi.

Sejak fajar menyingsing, tepat pukul 06.00, para peserta telah berkumpul di titik awal, Depan PLN Porong. Sebelum memulai perjalanan, mereka mendapatkan pengarahan dan pembekalan dari pembina. Dengan semangat dan antusiasme tinggi, para pengembara memulai langkah mereka, menyusuri jalur menuju Candi Belahan.

Perjalanan ini bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental dan kebersamaan. Sepanjang rute, peserta dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji kekompakan, komunikasi, dan kerja sama tim. Tantangan-tantangan ini dirancang agar setiap peserta dapat merasakan langsung arti pentingnya saling mendukung dalam sebuah kelompok.

Setibanya di Candi Belahan, suasana penuh refleksi menyelimuti kegiatan. Di tempat yang kaya akan nilai sejarah ini, para peserta diajak untuk memahami lebih dalam tentang budaya lokal sekaligus merenungkan makna solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Momen ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk memperkuat ikatan emosional dan membangun rasa saling percaya yang lebih kokoh.

Jelajah Pengembara 2025 sukses menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para anggota Dewan Kerja Ambalan Gatutkaca dan Srikandi. Lebih dari sekadar perjalanan, kegiatan ini menanamkan nilai kebersamaan yang akan terus menjadi fondasi kuat dalam setiap langkah mereka ke depan, baik di lingkungan pramuka maupun dalam kehidupan bermasyarakat.[JP-Red]

— Kontributor Berita : Seger – Pembina Satuan Gudep SMA Avisena Jabon —