Jejak Pramuka – Pramuka tidak hanya mengajarkan tali-temali, baris-berbaris, atau hidup di alam terbuka. Lebih dari itu, Pramuka membentuk cara berpikir, menumbuhkan ketangguhan, serta menanamkan nilai ketekunan dan keikhlasan yang kelak menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai inilah yang tercermin kuat dalam perjalanan hidup Kusdianto, SH., MH, Sekretaris Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo.
Saat ini, Kusdianto mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan di Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Sebelumnya, beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi/Pendidikan dan Pelatihan pada Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Sidoarjo. Sebuah posisi strategis yang menuntut ketelitian, kecakapan komunikasi, dan kepekaan terhadap pelayanan publik.
Namun, perjalanan menuju titik ini bukanlah sesuatu yang instan.
Pramuka sebagai Sekolah Kehidupan Sejak Dini
Kecintaan Kusdianto terhadap Pramuka tumbuh sejak bangku SD, SMP, hingga SMA. Ia dikenal sebagai pribadi yang aktif dan kerap dipercaya memimpin berbagai kegiatan kepramukaan. Jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab itu semakin terasah ketika pada tahun 1986 ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Ambalan di pangkalan SMA Negeri 1 Krian.
Setahun berselang, kiprahnya berlanjut di tingkat yang lebih luas. Pada tahun 1987, Kusdianto terpilih sebagai Ketua Dewan Kerja Ranting (DKR) Kwartir Ranting Krian, hingga akhirnya dipercaya menjadi Bendahara Dewan Kerja Cabang (DKC) Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo. Pramuka bukan sekadar aktivitas baginya, melainkan ruang belajar kepemimpinan, pengabdian, dan penguatan karakter.
Raimuna, Pendopo, dan Sebuah Mimpi Sederhana
Salah satu pengalaman paling membekas dalam ingatan beliau adalah Raimuna Daerah Jawa Timur sekitar tahun 1987 yang diselenggarakan di Wlingi, Blitar. Saat itu, sebelum pemberangkatan kontingen, para peserta dikumpulkan di Pendopo Kabupaten Sidoarjo untuk menerima arahan Bupati.
Di sanalah, Kusdianto muda terpaku. Bangunan pendopo yang megah, bernuansa klasik, dan terawat bersih menimbulkan kekaguman mendalam. Dalam barisan itu, terlintas sebuah angan sederhana namun tulus: suatu saat bisa bekerja di tempat ini, bahkan meskipun hanya sebagai tukang sapu sekalipun.
Tak disangka, mimpi sederhana itu menjadi doa panjang yang akhirnya dikabulkan.
Pada tahun 1988, Kusdianto mendaftarkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil di Provinsi Jawa Timur. Takdir membawanya ditempatkan di Kabupaten Sidoarjo, dengan tugas awal yang sangat sederhana—menjadi tukang sapu di Pendopo Kabupaten Sidoarjo.
Mimpi Besar, Proses Panjang, dan Tawa Penuh Syukur
Dalam sebuah perbincangan santai, beliau berujar dengan senyum dan tawa khasnya:
“Makanya kalau bermimpi atau menumbuhkan harapan, buatlah yang besar sekalian, hehehe… sebab kita tidak pernah tahu kapan itu diwujudkan oleh Tuhan. Seperti mimpi sederhana saya bekerja di Pendopo Delta Wibawa, meskipun jadi tukang sapu waktu itu… hahahaha.”
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Ia mengajarkan bahwa tidak ada proses yang hina, selama dijalani dengan ketekunan dan keikhlasan. Dari menyapu pendopo, Kusdianto terus belajar, bertumbuh, dan membuktikan diri melalui kerja nyata.
Jejak Pramuka yang Terus Mengalir dalam Kehidupan
Pengalaman kepramukaan yang beliau jalani sudah tak terhitung jumlahnya. Nilai-nilai Pramuka begitu membekas dalam cara berpikir dan bertindak beliau. Bahkan, keberhasilan salah satu putranya yang kini berkiprah sebagai Protokol Provinsi Jawa Timur sekaligus alumni Praja IPDN, tidak terlepas dari jejaring dan nilai-nilai Pramuka yang terus diwariskan dalam keluarga.
Bagi Kusdianto, Pramuka bukan sekadar masa lalu, tetapi jalan hidup yang terus relevan.
Ikhlas, Tekun, dan Membahagiakan Sesama
Beliau meyakini bahwa seluruh capaian hidupnya tidak lepas dari ridho Allah SWT, serta ketekunan dan keikhlasan dalam menjalani setiap proses kehidupan. Tuhan, menurutnya, selalu membuka jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan ikhlas membantu orang lain.
Keyakinan ini sejalan dengan pesan Lord Baden-Powell, Bapak Pramuka Dunia:
“Kebahagiaan adalah membahagiakan orang lain.”
Sebuah prinsip sederhana yang nyata hidup dalam perjalanan Kusdianto—seorang Pramuka sejati yang membuktikan bahwa mimpi, kerja keras, dan ketulusan akan selalu menemukan jalannya.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Kak Idik Sulaeman atau nama lengkapnya Drs. H. IDIK SULAEMAN NATAATMADJA, AT adalah tokoh penting Gerakan Pramuka yang berdedikasi memajukan Pramuka Indonesia. Ia menulis berbagai buku pedoman kepramukaan yang menginspirasi generasi muda, terutama di dunia pendidikan.
Mengenal Kak Idik Sulaeman
Lahir di Kuningan pada hari Kamis, tanggal 20 Juli 1933. Beliau merupakan pencetus nama Pasikibraka. Adik didik Kak Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya. Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA. Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Kak Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960. Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.
Pengalaman Kak Idik dalam Kepanduan
Tahun 1939 ia memasuki Kepanduan Natipy masuk sebagai pandu muda. Baru tahun 1946 Pandu Rakyat berdiri di kota Tasikmalaya, ia masuk Kepanduan itu menjadi Perintis dan dilantik di daerah Manonjaya. Tahun 1950 pindah ke Purwakarta dan masuk Kepanduan lagi sebagai Pandu Pawang. Setamat SMP pindah ke Jakarta dan masuk SMA dan masuk Kelompok Jakarta-17, jadi Pandu Penuntun.
Setamat SMA pindah ke Bandung dan memasuki ITB ambil Jurusan Seni Rupa dan mendirikan Perindukan Pemula. Ketika Gerakan Pramuka berdiri, ia ikut dalam susunan Kwartir Daerah Jawa Barat sebagai Andalan Daerah Urusan Perlengkapan. Dua tahun setelah itu ia mau dijadikan Ketua Kwartir Cabang Kotamadya Bandung, menggantikan sdr. A. Djamil. Karena kepindahan ke Jakarta, ia diangkat menjadi Asisten Sekjen Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Mulai mendirikan Pramuka di Universitas Trisakti, mula-mula mendiskusikan dengan beberapa dosen dan pimpinan Universitas. Kursus orientasi dengan tokoh-tokoh mahasiswa dan mulai mendirikan di kampus A, B, dan C. Menjadi Andalan Nasional mulai tahun 1988 dan berakhir 1998. Mendapat tanda penghargaan: Tanda Bakti, Karya Satya 8 tahun (IV) dan Bunga Melati. Dari Pemerintah mendapat WIBAWA SEROJA NUGRAHA, BINTANG JASA PRATAMA, dan KARYA SATYA XXX TAHUN. Kini ia aktif sebagai Pandu Tua, anggota Pengurus Pusat HIPPRADA.
Kak Idik meninggal pada tahun 2013. Jasa-jasanya juga sangat luar biasa terutama dalam menulis dan menerbitkan buku-buku pramuka di Indonesia. Puluhan buku pramuka telah Beliau tulis dan hingga kini menjadi pegangan para Pembina Pramuka di seluruh Indonesia dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Husein Mutahar atau yang lebih sering dikenal sebagai H. Mutahar atau Hs. Mutahar pastilah sangat dikenal oleh para anggota pramuka. Wajar karena H. Mutahar adalah tokoh pramuka yang pencipta lagu Hymne Pramuka atau lagu Satya Darma Pramuka yang tetap dipergunakan oleh Gerakan Pramuka hingga saat ini.
Namun selain sebagai pengarang lagu Himne Pramuka, adakah anggota pramuka yang sudah mengenal Kak Mut (panggilan akrab Kak Husein Mutahar) lebih lanjut?.
Kak H. Mutahar adalah seorang habaib (keturunan langsung Nabi Muhammad), tokoh kepanduan dan kepramukaan, pejuang kemerdekaan, pencipta lagu, penggagas Paskibraka (Pasukan pengibar Bendera Pusaka), wartawan, hingga Duta Besar Indonesia di Vatikan.
H. Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Agustus 1916. Meninggal di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2004 dalam usia 87 tahun. Nama lengkapnya adalah Habaib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al Muthahar. Namanya kemudian lebih dikenal sebagai Husein Mutahar atau Hs. Mutahar. Di lingkungan Gerakan Pramuka, beliau kerap dipanggil sebagai Kak Mut.
Sumber foto : republika.id
Nama : Haji Husein Mutahar Lahir : Semarang, 5 Agustus 1916
Riwayat Pendidikan : • ELS (Europese Lagere School) (SD Eropa 7 tahun), merangkap mengaji/ membaca Al-Quran pada guru wanita,Encik Nur. • MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs) atau SMP 3 tahun di Semarang, merangkap mengaji pada Kiai Saleh. • AMS (Algemeen Midelbare School) atau SMA, jurusan SastraTimur, khusus • bahasa Melayu, di Yogyakarta. • Universitas Gajah Mada, Jurusan Hukum merangkap Jurusan Sastra Timur, khusus Jawa Kuno di Yogyakarta • (sesudah 2 tahun drop out karena perjuangan). • Semua Kursus/Training Pemimpin Pandu di Indonesia dan di London. • Training School Diplomatic and Consulair Affairs di Nederland. • Training School Diplomatic and Consulair Affairs di kantor PBB (United Nation Organization/UNO), New York.
Riwayat Pekerjaan: • Guru Bahasa Belanda di SD swasta Islam di Pekalongan. • Wartawan berita kota, surat kabar Belanda “Het Noorderi’ di Semarang, 1938. • Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor, Noord Midden Java, Departement Ekonomische • Zaken, 1939-1942. • Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa Tengah, 1943. • Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di Semarang, 1943-1948. • Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indone-sia, 1945-1946. • Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik In-donesia, 1946-1948. • Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indone-sia, 1969-1979. • Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Direktur Jenderal Urusan • Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K, 1966-1968. • Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973. • Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara, 1973-1974 • InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan, merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap Kepala Protokol Negara, 1974. • Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IV/e.
Riwayat Pergerakan: • Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969 • Anggota Partai Politik, 1938-1942 • Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman, penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, sebagai gerakan elawan penyebaran semangat Jepang dan bungkus gerakan subversi melawan Jepang, 1942-1945 • Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang, 1945. • Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945. • Anggota redaksi majalah “Revolusi Pemuda”, 1945-1946. • Gerilya, 1948-1949 • Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indo-nesia”, 28-12-1945 s.d. 20-5-1961. • Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan,1961-1969. • Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004. • Alumni Penataran P-4 Tingkat Nasional XIX, 1980. • Ketua Umum organisasi sosial di bidang pendidikan “Parani Dharmabakti Indonesia” (PADI), 1987-2004. • Ketua Dewan Pengawas “Yayasan Idayu”.
Hobi dan Kegemaran : • Seni Suara • Studi Agama Islam dan perbandingan agama-agama serta organisasi kerohanian, baik di dunia Timur maupun Barat. Keluarga: • Tidak menikah, namun mempunyai 8 anak semang (6 laki-laki dan 2 perempuan). Sebagian merupakan “serahan” dari ibu mereka —yang janda— atau bapak mereka —beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Ada pula bapak/ibu yang sukarela menyerahkan anaknya untuk diakui sebagai anak sendiri. Semua sudah berumah tangga dan mempunyai 15 orang cucu (7 laki-laki dan 8 perempuan).
Meninggal dunia : • Hari Rabu, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB, dalam usia 87 tahun di Jln. Damai No.20 Cipete, Jakarta Selatan. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Ja-karta Selatan. Sebetulnya, beliau berhak dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki tanda kehormatan “Mahaputera” atas jasa menyelamatkan bendera pusaka Merah Putih dan “Bintang Gerilya” atas jasanya ikut perang gerilya tahun 1948-1949. Tetapi, beliau tidak mau, bahkan mengurus hal itu kepada pengacara dengan membuat surat wasiat. [Sumber: Drs H. Idik Sulaeman, AT, Booklet Paskibraka 2004 – SEKELUMIT KISAH TENTANG HUSEIN MUTAHAR]. – Sumber Informasi : korwilsolear.blogspot.com
H. Mutahar dan Kepramukaan;
H. Mutahar atau Husein Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan (sebelum lahirnya Pramuka), saat berdirinya Gerakan Pramuka, maupun setelah kelahiran Pramuka. Beliau telah aktif menjadi anggota kepanduan saat masih bersekolah di MULO dan AMS.
Dalam sejarah kepramukaan di Indonesia, beliau berperan aktif dalam Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia yang kemudian menyelenggarakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia pada tanggal 27 – 29 Desember 1945. Konggres ini sendiri kemudian berhasil membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan saat itu. Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia (1945 – 1961).
H. Mutahar juga berperan aktif dalam usaha pendirian Gerakan Pramuka pada tahun 1961. Bersama tokoh-tokoh kepramukaan lainnya, beliau berjuang keras ketika saat usaha peleburan kepanduan menjadi pramuka berusaha dibelokkan oleh Partai Komunis Indonesia menjadi gerakan Pionir Muda yang berhaluan komunis.
Setelah berdirinya Gerakan Pramuka (14 Agustus 1961), Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Nasional hingga beberapa kali periode. Menjabat sebagai Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka periode 1973 – 1978. Selain itu, beliau juga aktif sebagai pembina pramuka hingga usia tuanya.
Bahkan dua minggu menjelang wafatnya, H. Mutahar meminta difoto dengan mengenakan pakaian pramuka lengkap dengan bintang jasa dan penghargaan yang diterimanya. Foto inilah yang kemudian dicetak dalam ukuran besar dan diletakkan di dekat jenazahnya saat beliau meninggal dunia. Padahal menurutu berbagai pihak, H. Mutahar termasuk tokoh yang kerap menghindar ketika hendak difoto.
H. Mutahar Sang Pencipta Lagu Perjuangan;
Bagi anggota pramuka H. Mutahar dikenal sebagai pencipta lagu Himne Pramuka atau Satya Darma Pramuka. Lagu Hymne Pramuka sendiri diciptakan pada tahun 1964. Lagu Satya Darma Pramuka ditetapkan sebagai Himne Pramuka dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 51.
Selain lagu Satya Darma Pramuka, Husein Mutahar juga menciptakan berbagai lagu lainnya, seperti:
Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi)
Bagi anggota pramuka Satya Darma Pramuka (Himne Pramuka), Syukur, Saat Berpisah, dan Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi) merupakan lagu-lagu yang cukup dikenal. Meskipun beberapa diantara kita tidak menyadari bahwa lagu-lagu tersebut adalah karya dari Kak Mutahar.
H. Mutahar Pejuang Kemerdekaan dan Penyelamat Bendera Pusaka;
Kak Husein Mutahar, selain aktif di kepanduan, juga ikut bergerak aktif dalam perjuangan melawan penjajah. Pada Oktober 1945 terlibat langsung dalam ‘Pertempuran Lima Hari’ di Semarang. Ketika pemerintahan RI hijrah ke Yogyakarta pada tahun 1946, Mutahar diangkat menjadi Sekretaris Laksamana Muda Mohammad Nazir Isa yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (Kepala Staf TNI Angkatan Laut). Di tahun yang sama, HS. Mutahar kemudian diangkat menjadi Ajudan Presiden RI, Ir. Soekarno.
Menjelang Ir. Soekarno ditangkap Belanda pada saat Agresi Militer II Belanda (19 Desember 1948), H. Mutahar mendapatkan tugas khusus untuk menyelamatkan ‘bendera pusaka’ (bendera Merah Putih yang dikibarkan pertama kali saat Indonesia merdeka) agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Saat Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan pejabat lainnya ditangkap Belanda, H. Mutahar pun ikut ditangkap, namun dapat melarikan diri sambil menyelamatkan bendera pusaka.
Atas jasa beliau inilah kemudian pemerintah menganugerahkan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra.
H. Mutahar Bapak Paskibraka;
Selain dikenal sebagai tokoh pramuka sekaligus pencipta lagu Hymne Pramuka, Hs. Mutahar pun dikenal sebagai bapak Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka). Menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan pertama kali (17 Agustus 1946), Ir. Soekarno berniat melaksanakan peringatan Detik-Detik Kemerdekaan RI di halaman Gedung Agung Yogyakarta. Ir. Soekarno menugasi H. Mutahar untuk mengonsep dan mempersiapkan acara tersebut. Hingga akhirnya beliau menunjuk lima orang pemuda untuk mengibarkan bendera pusaka. Peringatan tersebut kembali dilaksanakan pada tahun 1947 dan 1948.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk mengonsepo dan mempersiapkan pengibaran bendera pusaka saat peringatan Hari Kemerdekaan RI. Hasilnya, H. Mutahar membentuk ‘Pasukan Pengerek Bendera’ yang formasinya terdiri atas tiga kelompok yaitu Kelompok Pengiring (17 orang), kelompok Pembawa (8 orang), dan kelompok Pengawal (45 orang). Nama ‘Pasukan Pengerek Bendera’ tetap dipergunakan sampai dengan tahun 1972.
Pada tahun 1973, Drs Idik Sulaeman, Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang saat Pramuka Penegak dibina oleh H. Mutahar mengusulkan mengganti nama dari ‘Pasukan Pengerek Bendera’ menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Riwayat Jabatan dan Pekerjaan Lainnya
Wartawan Surat Kabar Het Noordik, Semarang (1938)
Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945
Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (1945 -1946)
Redaksi majalah “Revolusi Pemuda” (1945-1946)
Ajudan Presiden Ir. Soekarno (1946 – 1948)
Perang Gerilya (1948 – 1949)
Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Udaka) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966 – 1968)
Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia (1969)
Duta Besar Republik Indonesia di Vatikan (1969 – 1973)
Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara (1973-1974)
Kak Husein Mutahar tidak menikah sepanjang hidupnya sehingga tidak memiliki keturunan (anak). Meski demikian beliau mengangkat 8 anak semang (anak angkat).
Kak Hs. Mutahar meninggal di Jakarta pada tanggal 8 Juni 2004 akibat sakit tua yang dideritanya. Sebagai penerima tanda jasa penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, beliau seharusnya berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata. Namun sesuai dengan wasiatnya, beliau memilih dimakamkan di pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Tokoh pramuka yang sedari kecil hingga tuanya tetap setia bergelut dengan kepramukaan itu telah tiada. Meninggalkan warisan berharga bagi anggota pramuka se Indonesia. Di samping lagu Satya Darma Pramuka hasil ciptaaannya, semangat, perjuangan, konsistensi, dan kesederhanaan H. Mutahar patut menjadi suri tauladan bagi kita semua.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Kak Sultan Hamengku Buwono IX sebagai sosok yang begitu dalam keterlibatannya sejak awal kepanduan hingga terlahir Gerakan Pramuka dan berkembang lebih luas mempunyai berbagai hal yang istimewa.
Salah satunya adalah Kak Sultan HB IX menyebutkan bahwa Pramuka itu tidak statis, tetapi lebih dinamis. Arena kegiatan nyata itu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut menjadi sebuah pengalaman yang diceritakan oleh Kak Mashudi (Ketua Kwarnas periode 1978-1993) dalam beberapa kesempatan mengulas bagaimana Kak Sultan HB IX memandang bahwa bakti itu harus berwujud nyata.
Dalam mewujudkan gagasannya, Kak Sultan HB IX menjadikan pembangunan Dam di Cibeureum sebagai arena Community Development Project sebagai sebuah media penyadaran bagi anggota Pramuka agar memiliki keterampilan yang kelak diberikan kepada masyarakat.
Di dalam kegiatan pramuka juga terbina sikap bakti terhadap orang tua, bangsa, dan negara. Sehingga Kak Sultan HB IX berprinsip bahwa Pramuka bukan hanya bermain-main, tapi juga tempat untuk mendapatkan ketangkasan membentuk watak dan kekuatan fisik.
Gagasan serta prinsip Kak Sultan HB IX ini menjadikan kesan tersendiri bagi Kak Mashudi yang pertama kali bertemu dengan sosok Raja Yogyakarta tersebut pada tahun 1945 silam.
___ Dikembangkan dari Digital News Book Kompas, Sri Sultan HB IX : Bapak Pramuka Indonesia
Jejak Pramuka – Kak Soekarno, BG, merupakan salah satu tokoh Pramuka yang memiliki dedikasi luar biasa dalam dunia kepramukaan. Bergabung dengan Pramuka sejak tahun 1961, beliau telah melintasi berbagai generasi dengan semangat yang tak pernah pudar. Saat ini, Kak Soekarno aktif sebagai anggota Majelis Pembimbing Cabang Kwartir Cabang Sidoarjo sekaligus pengurus Gugus Darma Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo.
Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, Kak Soekarno tetap setia menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak Gugus Depan Pangkalan SMA Negeri Porong. Kesungguhannya dalam mendidik generasi muda tercermin dari banyaknya alumni didikan beliau yang kini telah menjadi Jenderal, Profesor, Pimpinan Perusahaan, dan tokoh-tokoh penting lainnya. Ketekunan beliau menjadi teladan, hingga membuatnya dijuluki “BG” atau “Bolo Gendheng”—simbol totalitas dan kecintaan mendalam terhadap dunia kepramukaan.
Selain aktif di Pramuka, Kak Soekarno juga dikenal sebagai penggiat seni dan kebudayaan di Kabupaten Sidoarjo. Beliau terus berkontribusi dalam melestarikan warisan budaya lokal, mencerminkan kecintaannya pada seni dan tradisi. Tak hanya itu, Kak Soekarno juga merupakan anggota Rotary Club Surabaya, yang memperluas jangkauan pengabdiannya dalam bidang sosial dan kemanusiaan.
Semboyan hidup Kak Soekarno, “Jangan takut berbuat kebaikan, setiap hari berbuatlah kebaikan, karena tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan itu sendiri”, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dengan prinsip ini, beliau terus menebarkan manfaat dan memotivasi generasi muda untuk menjadi pribadi yang tangguh, peduli, dan berintegritas.
Keikhlasan Kak Soekarno dalam membina anggota Pramuka muda menjadi wujud nyata bakti beliau untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Melalui peran aktifnya di Pramuka, beliau tak hanya mengajarkan keterampilan kepramukaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur, seperti cinta tanah air, tanggung jawab, dan kerja sama. Baginya, mendidik generasi penerus adalah panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati, tanpa memandang usia atau keterbatasan fisik.
Peran Kak Soekarno juga tak lepas dari upayanya berkarya untuk pribadi dan keluarga. Dengan menjadi teladan yang konsisten dalam bertindak dan berbuat baik, beliau telah membuktikan bahwa kontribusi kepada masyarakat adalah bagian dari pengabdian kepada keluarga. Semangatnya mencerminkan filosofi hidup bahwa kebahagiaan sejati datang dari memberi dan menciptakan perubahan positif yang dirasakan oleh banyak orang.[JP-Red]