Reformasi Pembina Pramuka: Saatnya Merombak Total Pola Latihan di Gugus Depan


Kembali pada Spirit Awal Pramuka ala Baden-Powell


Mengubah Latihan dari Pembina-Sentris Menjadi Peserta Didik-Sentris


Menyesuaikan Metode Latihan dengan Karakter Generasi Masa Kini


Menghidupkan Kembali Sistem Beregu sebagai Jantung Pendidikan Pramuka


Mengubah Ukuran Keberhasilan Latihan Pramuka


Latihan Pramuka sebagai Ruang Tumbuh Mental dan Emosional Peserta Didik


Reformasi Mindset dan Kompetensi Pembina Pramuka


Transformasi Gugus Depan: Dari Rutinitas Menuju Pembinaan yang Bermakna

The Nine Experience: Sembilan Proses yang Tidak Instan, Namun Mengubah Segalanya


1. Keberanian Memulai Tanpa Kepastian


2. Belajar dari Kegagalan yang Berulang



4. Tanggung Jawab dalam Kepemimpinan


5. Komunikasi yang Menggerakkan


6. Disiplin dan Konsistensi sebagai Fondasi


7. Bertumbuh di Tengah Keterbatasan


8. Karakter Dibentuk dari Kebiasaan


9. Komitmen untuk Terus Bertumbuh


Penutup

Di Balik Hasduk dan Sarung: Pramuka di Persimpangan Tantangan Zaman dan Pemikiran

Antara Tradisi dan Ketangkasan

Menu Pilihan, Bukan Beban Paksaan

Pramuka di Persimpangan Generasi, Ketika Nilai Masih Sama Namun Cara Sudah Tidak Relevan

Masalahnya Bukan di Anak Muda


Tiga Dunia yang Tidak Selalu Nyambung

1. Kwartir: Penjaga Tradisi


2. Pembina: Terjepit di Tengah


3. Peserta Didik: Generasi yang Berbeda Total


Yang Terjadi di Lapangan (Jujur Saja)

  • Banyak kegiatan Pramuka terasa seremonial, bukan transformasional
  • Banyak pembina masih mengandalkan metode lama untuk generasi baru
  • Banyak peserta hadir… tapi tidak benar-benar terlibat

Ini Bukan Tentang Modern vs Tradisional


Realita yang Harus Diterima


Saatnya Berani Mengubah Cara


Peran Baru Pembina (Ini Kunci!)


Kalau Tidak Berubah, Apa Risikonya?


Penutup (Yang Perlu Kita Renungkan)


Menolak Menjadi Museum: Rejuvenasi Pramuka di Tengah Krisis Relevansi Gen-Z

  1. Modernisasi Satuan Terpisah: Menjadikan Pramuka sebagai “Laboratorium Kepemimpinan” yang mengajarkan digital citizenship, manajemen proyek, dan keberlanjutan lingkungan.
  2. Fleksibilitas Metode: Mengurangi beban administratif yang kaku dan memberikan ruang bagi kreativitas adik-adik dalam merancang kegiatannya sendiri (youth-led movement).
  3. Pramuka sebagai Lifestyle: Mengemas ulang citra Pramuka agar memiliki “prestise” di level mahasiswa melalui penguatan jaringan global (seperti ATAS) dan pengabdian masyarakat yang berbasis keahlian profesi.

Disiplin Tanpa Marah: Pelajaran Pramuka tentang Tanggung Jawab yang Tumbuh dari Kesadaran

Jejak Pramuka – Disiplin sering kali disalahpahami sebagai ketaatan yang lahir dari ketakutan. Padahal, disiplin yang bertahan lama tidak dibentuk oleh amarah, hukuman, atau tekanan, melainkan oleh kesadaran akan tanggung jawab. Pramuka sejak awal mengenalkan disiplin sebagai proses membentuk manusia yang sadar peran, bukan sekadar patuh aturan.

Dalam kegiatan pramuka, keterlambatan, kelalaian, atau kesalahan tidak selalu disambut dengan bentakan. Yang lebih ditekankan adalah konsekuensi dan refleksi. Seorang anggota belajar bahwa setiap pilihan memiliki dampak, bukan karena takut dimarahi, tetapi karena memahami akibatnya bagi diri sendiri dan regu. Inilah disiplin yang mendidik, bukan melukai.

Pendekatan ini relevan dalam keluarga. Banyak orang tua ingin anaknya disiplin, namun lupa bahwa amarah berlebihan justru mematikan tanggung jawab. Pramuka mengajarkan bahwa disiplin tumbuh ketika anak dilibatkan, diajak memahami alasan, dan diberi ruang untuk belajar dari kesalahan. Bukan dimanja, tetapi dibimbing dengan kesadaran.

Di dunia kerja, disiplin tanpa kesadaran hanya melahirkan kepatuhan semu. Orang hadir tepat waktu karena takut sanksi, bukan karena menghargai proses. Pramuka membentuk karakter yang berbeda: individu yang bertanggung jawab meski tidak diawasi. Ini adalah bentuk disiplin tertinggi—ketika nilai sudah menjadi bagian dari diri.

Disiplin ala pramuka juga melatih konsistensi kecil. Bangun tepat waktu, merapikan perlengkapan, menepati janji, dan menyelesaikan tugas. Hal-hal sederhana ini sering diremehkan, padahal justru menjadi fondasi kepercayaan. Orang yang konsisten pada hal kecil, dipercaya pada hal besar.

Menariknya, pramuka tidak meniadakan ketegasan. Aturan tetap ada, struktur tetap dijaga. Namun ketegasan tidak disampaikan dengan kemarahan, melainkan dengan kejelasan dan keteladanan. Pembina yang disiplin tanpa marah memberi pesan kuat: disiplin adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, disiplin berbasis kesadaran menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk anak-anak pramuka, tetapi untuk siapa pun yang ingin hidup lebih tertata, bermakna, dan bertanggung jawab.

Disiplin sejati bukan soal dikontrol dari luar, melainkan kemampuan mengendalikan diri dari dalam. Dan itulah warisan nilai pramuka yang relevan sepanjang zaman.[JP-Red]

8 Kebaikan Pramuka bagi Setiap Orang, Pelajaran Hidup dari Seragam Cokelat yang Tak Lekang oleh Zaman

Jejak Pramuka – Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh distraksi, dan serba instan, Pramuka hadir sebagai ruang belajar kehidupan yang tenang namun berdampak panjang. Ia bukan sekadar kegiatan baris-berbaris, tali-temali, atau kemah di alam terbuka. Pramuka adalah sekolah karakter—tempat nilai-nilai kehidupan tumbuh secara alami, dialami, dan dirasakan.

Berikut delapan kebaikan Pramuka yang sesungguhnya bermanfaat bagi siapa pun, lintas usia, profesi, dan latar belakang.


1. Melatih Kedisiplinan

Pramuka mengajarkan bahwa disiplin bukan paksaan, melainkan kesadaran. Datang tepat waktu, mengenakan seragam dengan rapi, mematuhi aturan regu—semua itu melatih seseorang untuk menghargai waktu, tanggung jawab, dan komitmen.

Disiplin yang dibangun di Pramuka tidak berhenti di lapangan latihan. Ia terbawa ke ruang kelas, dunia kerja, bahkan kehidupan berkeluarga.


2. Mengembangkan Keterampilan Hidup

Dari mendirikan tenda, membaca peta, memasak sederhana, hingga memecahkan masalah di alam terbuka—Pramuka membekali anggotanya dengan life skills yang nyata.

Keterampilan ini mengajarkan satu hal penting: hidup tidak selalu ideal, tapi selalu bisa diupayakan. Pramuka melatih tangan untuk bekerja, otak untuk berpikir, dan hati untuk tetap tenang dalam keterbatasan.


3. Menanamkan Cinta Alam

Pramuka tidak mengajarkan cinta alam lewat teori panjang, tetapi melalui pengalaman langsung. Tidur di bawah langit terbuka, menyusuri hutan, menjaga api unggun, dan merawat lingkungan membuat seseorang memahami bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan dijaga.

Dari sinilah lahir generasi yang peduli lingkungan, sadar ekologi, dan bertanggung jawab terhadap bumi.


4. Melatih Kerja Sama Tim

Di Pramuka, tidak ada keberhasilan yang diraih sendirian. Regu menjadi tempat belajar memahami perbedaan, berbagi peran, dan saling menolong.

Kerja sama yang dibangun melalui permainan, lomba, dan tantangan melatih empati serta komunikasi. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan sosial dan profesional, di mana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan.


5. Membangun Kepemimpinan

Pramuka mengajarkan kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi keteladanan. Seorang pemimpin adalah ia yang berani mengambil tanggung jawab, mau mendengar, dan siap melayani.

Lewat sistem regu, setiap anggota diberi kesempatan belajar memimpin dan dipimpin—sebuah proses penting untuk melahirkan pemimpin yang rendah hati dan berintegritas.


6. Memupuk Rasa Solidaritas

Dalam Pramuka, kebersamaan bukan slogan. Ia hadir dalam bentuk saling membantu saat lelah, berbagi saat kekurangan, dan berdiri bersama saat menghadapi kesulitan.

Solidaritas ini menumbuhkan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial—nilai yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang kerap terjebak individualisme.


7. Mengajarkan Kemandirian

Pramuka melatih seseorang untuk tidak selalu bergantung pada orang lain. Mengurus diri sendiri di perkemahan, mengambil keputusan sederhana, hingga bertanggung jawab atas perlengkapan pribadi adalah latihan kemandirian yang nyata.

Dari sini lahir pribadi tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan hidup.


8. Memupuk Keberanian

Bukan keberanian yang nekat, melainkan keberanian yang bertanggung jawab. Pramuka melatih anggotanya untuk berani mencoba, berani salah, dan berani memperbaiki diri.

Keberanian inilah yang kelak membantu seseorang melangkah maju—menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, dan menghadapi perubahan dengan kepala tegak.


Pramuka adalah Investasi Karakter

Pramuka bukan sekadar kegiatan masa sekolah. Ia adalah investasi karakter jangka panjang. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam Pramuka akan tumbuh bersama waktu, membentuk pribadi yang disiplin, peduli, mandiri, dan berani berbuat baik. Semangat Pramuka adalah semangat kebaikan. Dan kebaikan itu, sejatinya, dibutuhkan oleh setiap orang.[JP-Red]

Hidup Sederhana, Hati Bahagia: Pelajaran Berharga dari Perkemahan

Jejak Pramuka – Ada satu pelajaran berharga yang hampir selalu kita rasakan saat mengikuti perkemahan pramuka: hidup terasa lebih ringan. Bukan karena semuanya serba ada, justru karena kita hanya membawa apa yang benar-benar dibutuhkan. Sebuah ransel, isinya terbatas. Dan dari keterbatasan itulah, kita belajar memilih.

Di perkemahan, tidak ada lemari penuh pakaian, tidak ada pilihan makanan berlebihan, tidak ada ruang untuk membawa ego. Yang ada hanyalah cukup. Anehnya, justru di situlah banyak orang merasa lebih tenang, lebih fokus, dan lebih bahagia. Pramuka mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari kesadaran akan apa yang perlu dan apa yang bisa ditinggalkan.

Filosofi ransel pramuka sejatinya sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Di tengah gaya hidup serba cepat dan konsumtif, banyak orang kelelahan bukan karena kurang, tetapi karena kebanyakan. Terlalu banyak keinginan, terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak pembanding. Pramuka sejak awal melatih kita untuk mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh keadaan.

Kesederhanaan dalam pramuka bukan berarti kekurangan, melainkan kecakapan mengelola diri. Kita diajarkan memasak dengan alat seadanya, tidur beralaskan tanah, dan tetap menjaga sikap serta keceriaan. Nilai ini jika dibawa ke dalam keluarga, akan melahirkan rumah yang hangat, tidak gaduh oleh ambisi, dan tidak rapuh oleh gengsi.

Dalam keluarga, hidup sederhana berarti tahu kapan berkata cukup. Cukup dalam belanja, cukup dalam tuntutan, cukup dalam membandingkan diri dengan orang lain. Orang tua yang hidup sederhana akan lebih mudah menghadirkan ketenangan bagi anak-anaknya. Anak yang tumbuh dalam kesederhanaan akan lebih tangguh menghadapi kehidupan.

Pramuka tidak pernah mengajarkan kita untuk menolak kemajuan. Namun pramuka selalu menekankan satu hal penting: kendalikan kebutuhanmu, sebelum kebutuhan itu mengendalikanmu. Kesederhanaan adalah bentuk kecerdasan emosional, sekaligus latihan spiritual yang diam-diam membentuk karakter kuat.

Barangkali, sesekali kita perlu “berkemah” dalam hidup. Mengurangi yang tidak perlu, merapikan yang berlebihan, dan kembali pada hal-hal mendasar: keluarga, kebersamaan, dan rasa syukur. Karena sering kali, hidup yang sederhana justru membuat hati terasa paling bahagia.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS., CSE – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997, Direktur HOLISTIQ Training 2007 – Sekarang, Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com;

Viral tapi Bermartabat, Panduan Publikasi Dalam Membangun Scout Branding di Era Media Digital

Jejak Pramuka – Di era media digital, eksistensi sebuah organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa aktif kegiatannya, tetapi oleh seberapa kuat narasi yang disampaikan ke publik. Gerakan Pramuka sesungguhnya kaya akan nilai, aksi nyata, dan kebaikan sosial. Namun tanpa kemampuan mengemas cerita secara tepat, kebaikan itu kerap hanya berhenti di lokasi kegiatan, tidak sampai menjadi inspirasi publik.

Di sinilah peran Humas Kwarran dan Gugus Depan menjadi sangat strategis: bukan sekadar pelapor kegiatan, tetapi Arsitek Citra (Branding) Pramuka di ruang digital.


1. Memahami Esensi Scout Branding

Scout branding bukan soal logo, seragam, atau atribut semata. Scout branding adalah persepsi publik terhadap Pramuka:

  • Apakah Pramuka dianggap relevan?
  • Apakah Pramuka dipandang bermanfaat?
  • Apakah Pramuka dipercaya membentuk karakter generasi muda?

Setiap berita, foto, video, dan unggahan media sosial adalah wakil wajah Pramuka. Karena itu, humas perlu memahami bahwa menulis berita Pramuka berarti sedang membangun reputasi jangka panjang.


2. Prinsip Dasar: Viral Boleh, Bermartabat Wajib

Viral bukan tujuan utama, melainkan dampak lanjutan dari konten yang kuat. Pemberitaan Pramuka harus tetap berpijak pada nilai.

Prinsip utamanya:

  • ✔ faktual (berdasarkan kejadian nyata)
  • ✔ akurat (data, nama, waktu jelas)
  • ✔ relevan (sesuai isu dan kebutuhan publik)
  • ✔ bermanfaat (memberi inspirasi dan nilai)

Konten yang bermartabat justru lebih berpeluang bertahan lama dan dipercaya publik.


3. Mengubah Pola Pikir: Dari “Laporan Kegiatan” ke “Cerita Berdampak”

Kesalahan umum humas Pramuka adalah menulis seperti notulen:

Siapa, Kapan, Di mana, lalu selesai.

Padahal publik ingin tahu:

  • Mengapa kegiatan ini penting?
  • Apa dampaknya bagi peserta dan masyarakat?
  • Nilai apa yang sedang ditanamkan?

Contoh pergeseran:

  • ❌ “Gudep X mengadakan latihan rutin.”
  • ✅ “Latihan rutin Gudep X menjadi ruang membangun disiplin dan kepercayaan diri anggota.”

4. Struktur Berita Pramuka yang Menarik dan Kuat Branding

Gunakan struktur sederhana namun efektif:

  1. Judul kuat dan bermakna
    (tidak harus panjang, tapi menggugah)
  2. Lead (paragraf awal) berbasis dampak
    (apa nilai utama dari kegiatan)
  3. Isi cerita
    (proses, kutipan pembina/anggota, dinamika kegiatan)
  4. Penegasan nilai Pramuka
    (Tri Satya, Dasa Darma, karakter)
  5. Harapan atau ajakan (CTA halus)
    (mengajak terlibat, mengikuti, atau terinspirasi)

5. Visual adalah Setengah Cerita

Dalam dunia digital, foto dan video berbicara lebih cepat daripada teks.

Tips visual branding Pramuka:

  • tampilkan ekspresi (senyum, fokus, kebersamaan),
  • tangkap momen aksi (bergerak, membantu, berdiskusi),
  • hindari foto seremonial berlebihan,
  • pilih kualitas lebih penting dari kuantitas.

Satu foto bermakna bisa menguatkan pesan satu halaman tulisan.


6. Optimalisasi Media Digital: Jangan Asal Posting

Platform digital punya karakter masing-masing:

  • Instagram → visual & storytelling singkat
  • Facebook → narasi kegiatan & komunitas
  • Website → arsip resmi & berita lengkap
  • WhatsApp Group → distribusi cepat & internal

Gunakan:

  • hashtag relevan (#PramukaBerdampak, #PramukaMendidik),
  • caption bernilai, bukan sekadar keterangan foto,
  • CTA sederhana (ikuti, bagikan, terlibat).

7. Libatkan Anak Muda sebagai Subjek dan Kreator

Scout branding akan kuat jika:

  • anggota dilibatkan menulis,
  • penegak/pandega menjadi fotografer & videografer,
  • anak muda diberi ruang bercerita versi mereka.

Inilah praktik citizen journalism Pramuka, yang membuat organisasi terasa hidup dan segar.


8. Konsistensi: Kunci Kepercayaan Publik

Brand tidak dibangun dari satu unggahan viral, tetapi dari konsistensi pesan:

  • konsisten nilai,
  • konsisten kualitas,
  • konsisten narasi kebaikan.

Lebih baik rutin sederhana tapi bermakna, daripada besar namun sesaat.


Penutup

Humas Kwartir dan Gugus Depan hari ini bukan lagi sekadar penyampai informasi, melainkan penjaga marwah dan pembangun citra Pramuka di era digital. Dengan berita yang viral namun tetap bermartabat, serta strategi scout branding yang tepat, Pramuka akan kembali tampil sebagai gerakan yang relevan, menginspirasi, dan dipercaya publik. Karena pada akhirnya, Pramuka tidak pernah kekurangan kebaikan, namun yang dibutuhkan hanyalah cara bagaimana bercerita yang tepat.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS., CSE – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997, Direktur HOLISTIQ Training 2007 – Sekarang, Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com;

Tiga Wajah Pembina Pramuka: Antara Totalitas, Realitas, dan Pengabdian

Jejak Pramuka – Dari hasil pengamatan, refleksi, dan interaksi saya selama lebih dari 25 tahun membina Pramuka di berbagai level, ada satu fakta yang menarik untuk dibaca dengan jujur dan dewasa: pembina Pramuka tidak pernah hadir dalam satu wajah yang sama. Mereka dibentuk oleh latar belakang ekonomi, fase kehidupan, lingkungan kerja, hingga cara memaknai pengabdian itu sendiri.

Setidaknya, dari realitas lapangan, saya mengelompokkan pembina Pramuka ke dalam tiga tipe besar. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami, menguatkan, dan mencari titik keseimbangan agar Gerakan Pramuka tetap hidup, bermartabat, dan berkelanjutan.


1. Pembina Pramuka “Nyel” (Totalitas Tanpa Sisa)

Pembina tipe ini adalah sosok yang nyaris “hidupnya Pramuka”. Hampir seluruh energi, waktu, dan pikirannya dicurahkan untuk membina gugus depan. Tidak jarang, ia membina lebih dari dua gudep sekaligus. Ia hadir paling awal, pulang paling akhir, dan selalu siap ketika dipanggil.

Kelebihan

  • Dedikasi luar biasa dan loyalitas tinggi terhadap Gerakan Pramuka
  • Gudep binaan biasanya hidup, aktif, dan produktif
  • Menjadi figur sentral yang disegani peserta didik
  • Menguasai teknis kepramukaan secara mendalam karena jam terbang tinggi

Kekurangan

  • Rentan kelelahan fisik dan mental (burnout)
  • Ketergantungan ekonomi pada honor pembina yang relatif terbatas
  • Kurang ruang untuk pengembangan diri di luar Pramuka
  • Berisiko stagnan secara finansial dan karier, yang pada jangka panjang bisa memengaruhi semangat pengabdian

👉 Catatan reflektif:
Pembina “Nyel” adalah aset besar, tetapi juga paling rentan “lelah dalam diam”. Tanpa sistem dukungan dan kemandirian ekonomi, totalitas ini bisa berubah menjadi beban.


2. Pembina Pramuka “Nyambi” (Seimbang dan Realistis)

Tipe ini membina Pramuka dengan sadar dan terukur. Biasanya menangani 1–2 gugus depan secara optimal. Pramuka menjadi ruang aktualisasi diri, pengabdian, sekaligus ladang praktik nilai-nilai yang ia pelajari dari kursus, pengalaman lapangan, dan pembina senior sebelumnya.

Kelebihan

  • Manajemen waktu lebih sehat antara Pramuka dan kehidupan pribadi
  • Tidak bergantung pada honor pembina sebagai sumber utama ekonomi
  • Lebih stabil secara psikologis dan finansial
  • Cenderung konsisten dan tahan lama dalam membina

Kekurangan

  • Keterlibatan kadang terbatas oleh pekerjaan utama
  • Intensitas kehadiran bisa fluktuatif
  • Jika tidak dikelola dengan baik, Pramuka bisa menjadi “aktivitas tambahan”, bukan prioritas nilai

👉 Catatan reflektif:
Pembina “Nyambi” adalah model paling realistis di era sekarang. Tantangannya bukan pada kemampuan, tetapi menjaga api idealisme agar tidak padam oleh rutinitas lain.


3. Pembina Pramuka “Ngabdi” (Teladan Kehidupan Nyata)

Ini adalah pembina yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”. Secara ekonomi, karier, dan keluarga relatif mapan. Membina Pramuka bukan untuk honor, bukan untuk jabatan, tetapi sebagai panggilan hidup dan gaya pengabdian.

Kelebihan

  • Kemandirian finansial total, tanpa ketergantungan honor
  • Mampu mengatur waktu dengan matang
  • Menjadi role model nyata: sukses berkarier, berkeluarga, dan bermasyarakat
  • Nilai yang diajarkan tidak berhenti di teori, tetapi hidup dalam keteladanan

Kekurangan

  • Jumlahnya terbatas dan sulit direplikasi
  • Risiko jarak generasi jika tidak adaptif dengan dinamika peserta didik
  • Jika terlalu ideal, bisa kurang peka terhadap realitas pembina lain yang masih berjuang secara ekonomi

👉 Catatan reflektif:
Pembina “Ngabdi” adalah mahkota moral dalam Gerakan Pramuka. Ia bukan sekadar pembina kegiatan, tetapi pembina kehidupan.


Penutup: Bukan Soal Tipe, Tapi Arah

Tidak ada tipe yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Yang keliru adalah ketika pembina tidak sadar sedang berada di fase mana, dan tidak menyiapkan transisi menuju kondisi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Idealnya, pembina Pramuka:

  • Berangkat dari semangat “Nyel”
  • Bertumbuh menjadi “Nyambi” yang seimbang
  • Dan pada waktunya matang sebagai “Ngabdi” yang meneladani

Gerakan Pramuka tidak hanya membutuhkan pembina yang pandai berteriak di lapangan, tetapi pembina yang hidupnya sendiri adalah pelajaran. Karena pada akhirnya, Pramuka tidak diwariskan lewat kata-kata, tetapi ditularkan lewat keteladanan hidup.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS., CSE – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997, Direktur HOLISTIQ Training 2007 – Sekarang, Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com;