Krisis Minat di Pramuka Penegak: Analisa Kritis Refleksi atas Pola Pembinaan di Tingkat Penggalang

jejak Pramuka – Pramuka merupakan wadah pembinaan karakter yang berjenjang dan sistematis, di mana setiap golongan memiliki tahapan perkembangan yang harusnya berkesinambungan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan fenomena yang cukup memprihatinkan, yakni banyaknya adik-adik Pramuka Penggalang yang sebelumnya aktif hingga mencapai tingkatan tertinggi seperti Penggalang Garuda, tetapi ketika memasuki jenjang SMA/SMK/MA, mereka tidak lagi berminat untuk melanjutkan ke Pramuka Penegak.

Fenomena ini telah menjadi bahan kajian dalam riset kecil yang dilakukan selama lebih dari 25 tahun dalam setiap kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan (PENTA), dan hasilnya menunjukkan alasan yang konsisten dari tahun ke tahun.

Kesalahan Pola Pembinaan di Tingkat Penggalang

Salah satu faktor utama yang menyebabkan kurangnya minat melanjutkan ke Pramuka Penegak adalah kesalahan pola pembinaan yang diterapkan saat mereka masih berada di tingkat Penggalang. Seharusnya, pembinaan pada tahap ini lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, keterampilan bertahan hidup, kepemimpinan, dan kebersamaan. Namun, dalam praktiknya, fokus lebih diarahkan pada kompetisi dan lomba-lomba yang menuntut kemenangan.

Dominasi Orientasi Lomba Tanpa Pembiasaan Materi

Dalam banyak gugus depan, sistem pembinaan cenderung hanya berorientasi pada kemenangan dalam lomba-lomba Pramuka. Akibatnya, materi latihan lebih diarahkan kepada persiapan untuk menghadapi lomba-lomba tertentu, tetapi tidak diintegrasikan sebagai pembiasaan dalam keseharian. Proses latihan pun dilakukan dalam tempo yang relatif singkat, bahkan hanya dua hingga tiga minggu sebelum perlombaan, dengan intensitas yang sangat tinggi dan tanpa mempertimbangkan keseimbangan fisik serta mental peserta didik.

Latihan Berlebihan hingga Larut Malam

Dampak dari sistem pembinaan berbasis lomba ini adalah pola latihan yang sangat melelahkan. Adik-adik Penggalang harus mengikuti latihan setiap hari sepulang sekolah, bahkan hingga larut malam. Hal ini mengakibatkan mereka mengalami kelelahan fisik yang luar biasa dan berdampak negatif terhadap kesehatan serta keseimbangan waktu belajar mereka di sekolah.

Kekhawatiran Orang Tua terhadap Kesehatan Anak

Fenomena latihan intensif yang dilakukan secara berlebihan tanpa perencanaan yang matang membuat banyak orang tua khawatir terhadap kondisi anak-anak mereka. Tidak sedikit yang akhirnya jatuh sakit akibat kelelahan atau kurang istirahat. Kondisi ini menimbulkan ketidakpercayaan orang tua terhadap sistem pembinaan Pramuka dan membuat mereka enggan memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk melanjutkan ke jenjang Penegak.

Kecemasan akan Pola Pembinaan di Golongan Penegak

Selain faktor dari pengalaman pribadi, adik-adik Penggalang juga memiliki kekhawatiran bahwa pola dan sistem pembinaan di Pramuka Penegak akan sama dengan yang mereka alami di tingkat Penggalang. Ketakutan akan latihan yang melelahkan dan berorientasi pada kemenangan dalam lomba membuat mereka semakin enggan untuk bergabung di Ambalan. Padahal, pada dasarnya, Pramuka Penegak memiliki metode pembinaan yang berbeda, lebih fleksibel, dan berbasis pada pengembangan kepemimpinan serta kemandirian.

Refleksi Berdasarkan Konsep Baden Powell

Lord Baden-Powell, dalam bukunya Scouting for Boys, menekankan bahwa Pramuka seharusnya berbasis pada petualangan, keterampilan hidup, dan pengembangan karakter yang menyenangkan, bukan hanya tentang kompetisi. Ia menegaskan bahwa Pramuka adalah “a game with a purpose” (permainan yang memiliki tujuan), di mana anak-anak dan remaja belajar melalui pengalaman, bukan sekadar teori atau latihan intensif menjelang perlombaan.

Sementara itu, dalam Rovering to Success, yang menjadi panduan bagi Penegak, Baden-Powell menyampaikan bahwa fase ini haruslah menjadi tahap eksplorasi diri, pengabdian kepada masyarakat, serta pencarian jati diri melalui pengalaman-pengalaman nyata. Jika metode pembinaan di Penggalang hanya berorientasi pada kemenangan dalam lomba, maka mereka akan kehilangan esensi dari Pramuka yang sesungguhnya, sehingga tidak tertarik untuk melanjutkan ke tahap Penegak yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab lebih besar.

Solusi untuk Perbaikan Sistem Pembinaan

Dari berbagai permasalahan di atas, sudah saatnya pola pembinaan Pramuka, terutama di tingkat Penggalang, mengalami reformulasi agar lebih menitikberatkan pada keseimbangan antara kompetisi, pembiasaan keterampilan, dan pengembangan karakter. Beberapa solusi yang bisa diterapkan antara lain:

  1. Menata ulang sistem pembinaan agar tidak hanya berorientasi pada kemenangan dalam lomba, tetapi lebih kepada pembentukan karakter dan kecakapan hidup.
  2. Mengintegrasikan materi latihan sebagai bagian dari keseharian sehingga tidak ada lagi metode “kebut semalam” menjelang perlombaan.
  3. Membatasi durasi latihan yang terlalu melelahkan dan mengoptimalkan waktu yang lebih efisien tanpa mengorbankan kesehatan peserta didik.
  4. Meningkatkan komunikasi dengan orang tua agar mereka memahami manfaat dari Pramuka dan tidak lagi khawatir terhadap kondisi anak-anak mereka.
  5. Mengenalkan sistem pembinaan Penegak yang lebih fleksibel dan berbasis kepemimpinan, sehingga adik-adik Penggalang memiliki gambaran yang lebih positif mengenai perjalanan mereka di jenjang berikutnya.

Perbaikan sistem pembinaan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab para Pembina di gugus depan, tetapi juga semua elemen yang terlibat dalam pendidikan Pramuka, termasuk kwartir dan organisasi Pramuka di tingkat nasional. Jika permasalahan ini terus dibiarkan, maka regenerasi kader Pramuka di tingkat Penegak akan terus mengalami penurunan, dan pada akhirnya, tujuan besar Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan berjiwa kepemimpinan akan semakin sulit dicapai.

Kesimpulan

Fenomena berkurangnya minat Pramuka Penggalang untuk melanjutkan ke jenjang Penegak bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari kesalahan sistem pembinaan yang terjadi selama bertahun-tahun. Sudah saatnya kita melakukan refleksi mendalam dan menghadirkan solusi konkret agar Pramuka kembali menjadi pilihan utama bagi generasi muda dalam membangun karakter, kemandirian, dan kepemimpinan mereka. Dengan pembinaan yang lebih baik dan sesuai dengan filosofi Baden-Powell, diharapkan semakin banyak generasi muda yang dengan bangga meneruskan perjalanan mereka di dunia Pramuka hingga ke jenjang tertinggi.[JP-Red]

Catatan Penting : Tulisan ini dihasilkan dari riset selama ± 25 tahun menjadi Pembina Pramuka Penegak di Gugus Depan Pangkalan berbasis Penegak pada saat pelaksanaan Penerimaan Tamu Ambalan atau PENTA. Riset dilakukan dengan random sampling pada 40% dari total peserta PENTA yang berjumlah 300 – 400 peserta didik, yang akhirnya diperoleh kesimpulan sebagaimana tulisan diatas. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung orang per orang, namun lebih dari bagian upaya untuk refleksi penulis akan menurunnya minat bergabung menjadi pramuka penegak. Semoga riset kecil ini memberikan manfaat untuk kemajuan gerakan pramuka, utamanya pramuka penegak.

Disarikan dari hasil riset, oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;

Tuntaskan Dirimu dalam Ikut Pramuka, Sekali Bergabung Jangan Setengah-setengah

Jejak Pramuka – Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler yang mengisi waktu luang di sekolah. Ia adalah wadah pembelajaran karakter, keterampilan, dan kepemimpinan yang melengkapi dunia akademis. Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai yang ditanamkan dalam Pramuka menjadi pelengkap utama bagi setiap individu dalam menghadapi tantangan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Pramuka dan Pembelajaran Nyata

Pramuka mengusung konsep learning by doing, di mana setiap anggota belajar langsung melalui pengalaman. Etika perilaku, kepribadian, serta berbagai keterampilan kepemimpinan dan soft skill diasah dengan metode praktik langsung. Nilai-nilai seperti kerja sama, kemandirian, kedisiplinan, serta kepedulian sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan seorang Pramuka.

Pramuka: Bekal Menghadapi Dunia Nyata

Seluruh keterampilan ini akan sangat membantu saat menghadapi “perang yang sesungguhnya”—yaitu kehidupan setelah lulus sekolah dan terjun ke masyarakat. Dunia kerja dan kehidupan sosial tidak hanya menuntut kecerdasan akademis, tetapi juga keterampilan interpersonal, kepemimpinan, serta kemampuan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, mengikuti Pramuka dengan totalitas adalah investasi berharga bagi masa depan.

Totalitas dalam Pramuka adalah Kunci

Sebagaimana pepatah yang diungkapkan oleh Kak Uays Hasyim, seorang pembina Pramuka Penegak yang telah membina lebih dari 25 tahun sekaligus Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwarcab Sidoarjo:

“Kalau ikut Pramuka jangan setengah-setengah, kalau setengah-setengah jangan ikut Pramuka.”

Kalimat ini bukan hanya semboyan, tetapi sebuah prinsip dalam menjalani setiap amanah yang diberikan di Pramuka. Totalitas dalam berorganisasi dan mengemban tugas menjadi karakter khas seorang Pramuka sejati.

Menyelesaikan Amanah hingga Tuntas

Menjadi seorang pengurus atau anggota aktif dalam Pramuka bukan sekadar soal status, melainkan bagaimana menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan penuh dedikasi. Seorang Pramuka yang sejati akan selalu memastikan bahwa setiap tugas yang diembannya tuntas hingga akhir. Sikap inilah yang akan membentuk karakter kuat dalam dunia kerja maupun dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Pramuka adalah Miniatur Kehidupan

Setiap pengalaman, amanah, dan tanggung jawab dalam Pramuka adalah miniatur dari tantangan yang akan dihadapi di masa depan. Ketika seseorang terbiasa menyelesaikan tugasnya dengan penuh komitmen dalam Pramuka, maka ia akan memiliki mentalitas pekerja keras yang siap mengabdi secara ikhlas dan profesional di dunia nyata.

Pramuka Menurut Baden Powell dan Sri Sultan Hamengkubuwono

Baden Powell, pendiri Gerakan Pramuka dunia, menegaskan bahwa Pramuka adalah “sekolah yang mendidik karakter melalui petualangan dan pengalaman.” Ia percaya bahwa pembelajaran di alam terbuka dan tugas-tugas yang diberikan dalam Pramuka akan membentuk pribadi yang tangguh dan mandiri.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono yang melihat Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter yang tidak hanya mencetak pemimpin, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawab sosial.

Jadilah Pramuka yang Sejati!

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang memilih jalan Pramuka, pastikan untuk menuntaskannya dengan sepenuh hati. Jangan pernah mengikuti Pramuka hanya setengah-setengah, karena sejatinya Pramuka adalah tempat bagi mereka yang siap berkomitmen penuh, belajar, berproses, dan menjadi pribadi yang tangguh serta siap menghadapi tantangan masa depan. Hidup itu hanya sekali, jadilah Pemeran Utamanya, jangan jadi penonton! [JP-Red]

Membabat Habis Kedengkian Sesama Anggota Pramuka di Bulan Suci Ramadhan yang Penuh Berkah dan Ampunan

Jejak Pramuka – Bulan suci Ramadhan adalah momen terbaik untuk memperbaiki diri, baik secara spiritual maupun sosial. Dalam dunia kepramukaan, nilai-nilai luhur seperti persaudaraan, kepedulian, dan ketulusan menjadi landasan dalam membangun karakter yang kuat.

Namun, salah satu penyakit hati yang kerap menghambat perkembangan pribadi dan organisasi adalah kedengkian. Sikap iri dan dengki tidak hanya melemahkan semangat kebersamaan, tetapi juga bertentangan dengan prinsip Tazkiyatun Nafs—penyucian jiwa dari sifat buruk demi mencapai ketakwaan yang lebih tinggi.

Mengikis Kedengkian dengan Prinsip Kepramukaan

Kedengkian sering kali muncul akibat rasa tidak terima terhadap keberhasilan orang lain. Dalam kepramukaan, sikap ini bisa terlihat dalam bentuk ketidaksenangan terhadap pencapaian teman, persaingan tidak sehat, atau upaya menjatuhkan sesama demi pengakuan pribadi. Padahal, Baden-Powell, pendiri Gerakan Pramuka, mengajarkan pentingnya kebersamaan dan saling mendukung.

Ia menekankan bahwa seorang Pramuka sejati harus memiliki jiwa ksatria yang menjunjung tinggi sportivitas dan kejujuran. Sejalan dengan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tokoh yang berjasa dalam perkembangan Pramuka Indonesia, menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tidak tergoda oleh kedengkian, melainkan fokus pada pengabdian dan kebersamaan.

Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Hati dari Kedengkian

Dalam Islam, penyucian jiwa atau Tazkiyatun Nafs menjadi fondasi utama dalam membangun karakter yang baik. Salah satu cara membebaskan diri dari kedengkian adalah dengan meningkatkan rasa syukur. Ketika seseorang mampu menerima kelebihan dan kekurangan dirinya dengan ikhlas, ia tidak akan mudah iri terhadap pencapaian orang lain.

KH Agus Salim, seorang ulama dan tokoh pergerakan nasional yang juga Bapak Pandu Indonesia, mencontohkan ketulusan dalam perjuangan tanpa pamrih. Ia tidak pernah membiarkan kedengkian merusak semangat persatuan, melainkan terus menanamkan keikhlasan dan keteladanan dalam setiap perjuangannya. Dalam konteks Pramuka, sikap seperti ini perlu ditanamkan agar setiap anggota bisa tumbuh dalam suasana yang penuh dukungan dan saling menghormati.

Empati dan Kebersamaan sebagai Kunci Keharmonisan

Selain bersyukur, membangun empati juga merupakan cara efektif untuk mengikis kedengkian. Anggota Pramuka harus belajar untuk merayakan keberhasilan teman dan ikut merasakan kebahagiaan mereka. Sikap ini akan mempererat hubungan dan menciptakan lingkungan yang positif.

Dalam Tazkiyatun Nafs, empati menjadi bagian penting dalam menjaga hati tetap bersih, karena seseorang yang penuh kasih tidak akan mudah terjerumus dalam perasaan iri dan dengki. Baden-Powell sendiri menegaskan bahwa Pramuka bukanlah sekadar organisasi, tetapi sebuah keluarga besar yang anggotanya saling membantu dan mendukung satu sama lain.

Meneladani Para Tokoh: Pemimpin Sejati Tidak Mengenal Kedengkian

Sejarah telah membuktikan bahwa para pemimpin besar selalu menjauhkan diri dari kedengkian. Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan selalu mengutamakan kepentingan bersama. Kepemimpinannya yang adil dan bijaksana menjadikan beliau sebagai panutan dalam membangun persatuan dan keharmonisan.

Demikian pula KH Agus Salim, yang dalam setiap perjuangannya tidak pernah terpengaruh oleh hasrat pribadi, tetapi berjuang demi kebaikan bersama. Prinsip ini sangat relevan dalam kepramukaan, di mana setiap anggota harus menanamkan sikap kepemimpinan yang tulus dan berorientasi pada kebaikan kolektif.

Merenungi Diri di Bulan Ramadhan: Momen untuk Berbenah

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Anggota Pramuka harus bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah aku masih sering merasa iri terhadap teman sendiri?

Dengan refleksi yang mendalam, seseorang dapat menyadari kekurangannya dan mulai memperbaiki diri. Tazkiyatun Nafs mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri, dengan membersihkan hati dari segala bentuk penyakit batin, termasuk kedengkian.

Kesimpulan: Mewujudkan Pramuka yang Berjiwa Besar dan Berakhlak Luhur

Pada akhirnya, membabat habis kedengkian bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga bagi keberlangsungan organisasi Pramuka secara keseluruhan. Dengan lingkungan yang sehat dan penuh kebersamaan, setiap anggota dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal tanpa adanya perasaan negatif yang menghambat.

Mari jadikan bulan Ramadhan ini sebagai kesempatan untuk membersihkan hati, mempererat persaudaraan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani prinsip Baden-Powell dalam sportivitas, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam kepemimpinan yang adil dan bijaksana, serta KH Agus Salim dalam ketulusan dan kesederhanaan, kita tidak hanya menjadi Pramuka yang lebih baik, tetapi juga manusia yang lebih bersih jiwanya dan lebih dekat dengan Allah SWT.

Sebagaimana pesan bijak dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX,
“Janganlah kita berbuat curang, karena kecurangan adalah awal dari kehancuran. Janganlah kita berbuat tamak, karena ketamakan adalah awal dari kehancuran budi pekerti. Janganlah kita berbuat dengki, karena kedengkian adalah awal dari kehancuran persatuan.”

Mari kita jadikan kebersamaan dalam Pramuka sebagai ladang untuk membangun diri, berbuat baik, dan mengamalkan nilai-nilai luhur demi masa depan yang lebih harmonis.[JP-Red]

Level Pembina Pramuka: Apakah Kamu Hanya Mengajar atau Mampu Menginspirasi? Temukan Levelmu di Sini!

Jejak Pramuka – Menjadi Pembina Pramuka bukan sekadar mengajar, tetapi tentang bagaimana menyentuh hati, menginspirasi, dan membentuk karakter generasi muda. Dalam Gerakan Pramuka, Anggota Dewasa memiliki peran penting dalam mendidik dan membimbing peserta didik. Anggota Dewasa adalah mereka yang berusia di atas 25 tahun dan terdiri dari:

✅ Pembina Pramuka
✅ Pelatih Pembina Pramuka
✅ Andalan
✅ Pengurus Satuan Karya Pramuka
✅ Pengurus Satuan Komunitas Pramuka
✅ Majelis Pembimbing
✅ Staf Kwartir

Dua Kategori Anggota Dewasa dalam Kepramukaan

Menurut World Organization of the Scout Movement (WOSM), Anggota Dewasa dalam Pramuka terbagi menjadi dua:

1️⃣ Anggota Dewasa yang Mengabdi Secara Sukarela (Volunteer)

  • Mereka memiliki profesi atau pekerjaan utama, tetapi dengan penuh kesadaran mendedikasikan waktu dan tenaga untuk Pramuka.
  • Contohnya: Pembina Pramuka, Pelatih Pembina, Andalan, dan Majelis Pembimbing.

2️⃣ Anggota Dewasa yang Bekerja Secara Profesional untuk Kepramukaan (Paid Position)

  • Mereka adalah individu yang bekerja secara profesional dan dibayar secara layak oleh Gerakan Pramuka.
  • Contohnya: Staf Kwartir.

🎯 Tujuan utama Anggota Dewasa dalam Pramuka adalah mendukung perkembangan kaum muda melalui pendidikan nonformal yang inspiratif dan penuh makna.


🔺 5 Level Seorang Pembina Pramuka: Dimana Posisi Kamu? 🔺

Menjadi Pembina Pramuka bukan hanya soal memberikan materi atau menjalankan kegiatan. Ada 5 level pembina yang menunjukkan seberapa besar dampak yang kamu berikan kepada peserta didik. Level manakah kamu sekarang?


1️⃣ Pembina Pemula – “Just Tell (Storyteller)”

📌 Ciri-ciri:
✅ Hanya menyampaikan teori atau cerita tanpa keterlibatan aktif peserta didik.
✅ Metode yang digunakan terlalu kaku dan monoton, sering kali hanya berupa ceramah.
✅ Minim interaksi dengan peserta didik.
✅ Tidak ada demonstrasi atau praktik nyata dalam penyampaian materi.

⚠ Dampak:
❌ Peserta didik bosan dan kurang tertarik mengikuti kegiatan.
❌ Ilmu yang diberikan tidak terserap dengan baik karena kurangnya keterlibatan aktif.
❌ Bisa kalah dengan teknologi seperti media sosial dan game yang lebih menarik perhatian anak muda.

💡 Solusi:
✅ Gunakan metode yang lebih interaktif seperti diskusi, permainan edukatif, dan visualisasi.
✅ Bangun komunikasi dua arah agar peserta didik lebih aktif.
✅ Tambahkan elemen cerita yang lebih menarik dan relevan dengan kehidupan mereka.


2️⃣ Pembina Baik – “Explain (Instructor)”

📌 Ciri-ciri:
✅ Menjelaskan materi secara detail dan sistematis.
✅ Menggunakan alat bantu seperti gambar, video, atau slide presentasi.
✅ Mulai ada sedikit interaksi dengan peserta didik.
✅ Penjelasan masih bersifat satu arah, tetapi lebih jelas dibandingkan level pemula.

⚠ Dampak:
❌ Peserta didik paham konsep, tetapi masih kurang terlibat secara aktif.
❌ Hafalan lebih dominan dibandingkan pemahaman mendalam.
❌ Beberapa peserta mungkin mulai merasa bosan jika tidak ada aktivitas praktik.

💡 Solusi:
✅ Gunakan pendekatan “learning by doing” dengan lebih banyak simulasi atau role-play.
✅ Ajak peserta didik untuk berdiskusi dan memberikan pendapat mereka.
✅ Gunakan studi kasus agar peserta dapat menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.


3️⃣ Pembina Unggul – “Excellent (Demonstrator)”

📌 Ciri-ciri:
✅ Tidak hanya menjelaskan, tetapi juga mempraktikkan apa yang diajarkan.
✅ Menggunakan metode “show, don’t tell” (menunjukkan langsung daripada hanya menjelaskan).
✅ Mengajak peserta didik untuk ikut serta dalam kegiatan praktik.
✅ Memberikan contoh nyata yang dapat diikuti oleh peserta didik.

⚠ Dampak:
❌ Peserta didik mulai lebih terlibat, tetapi masih dalam batasan yang ditentukan oleh pembina.
❌ Masih ada ketergantungan pada pembina untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.

💡 Solusi:
✅ Berikan tantangan yang mendorong peserta didik untuk berpikir sendiri.
✅ Biarkan mereka mencoba dan belajar dari kesalahan mereka sendiri.
✅ Gunakan metode role-playing atau simulasi lapangan agar mereka lebih merasakan pengalaman belajar.


4️⃣ Pembina Hebat – “Inspiration (Motivator)”

📌 Ciri-ciri:
✅ Mampu membangkitkan semangat dan antusiasme peserta didik.
✅ Tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memberikan motivasi yang membakar semangat mereka.
✅ Menggunakan kisah inspiratif dan pengalaman nyata untuk memberikan makna lebih dalam pada pembelajaran.
✅ Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang berharga dan mendorong mereka untuk berkembang.

⚠ Dampak:
❌ Peserta didik mulai termotivasi, tetapi masih membutuhkan dorongan eksternal.
❌ Tidak semua peserta didik dapat menangkap makna inspirasi yang diberikan dengan cara yang sama.

💡 Solusi:
✅ Gunakan pendekatan emosional dan personal, sehingga peserta didik merasa lebih terhubung.
✅ Libatkan mereka dalam proyek nyata yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
✅ Dorong mereka untuk menginspirasi orang lain, sehingga mereka merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka.


5️⃣ Pembina Pembuka Hati – “Heart Opener (Life Changer)”

📌 Ciri-ciri:
✅ Mampu membuka hati dan jiwa peserta didik, membuat mereka merasa bahwa Pramuka adalah bagian dari hidup mereka.
✅ Menanamkan nilai-nilai kepribadian, kepemimpinan, dan tanggung jawab yang melekat dalam kehidupan mereka.
✅ Tidak hanya mengajar dan menginspirasi, tetapi mengubah cara berpikir dan hidup peserta didik.
✅ Peserta didik bukan hanya ikut Pramuka, tetapi benar-benar membutuhkannya untuk kehidupan mereka.

⚠ Dampak:
✅ Peserta didik akan menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya dalam Pramuka tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
✅ Mereka akan berkontribusi aktif di masyarakat, membawa nilai-nilai positif yang mereka pelajari.

💡 Solusi:
✅ Bangun hubungan yang kuat dengan peserta didik, sehingga mereka merasa bahwa mereka benar-benar dihargai.
✅ Jadilah role model yang bisa mereka contoh dalam kehidupan nyata.
✅ Libatkan mereka dalam proyek sosial atau kepemimpinan, sehingga mereka bisa mengalami langsung dampak positif dari keterlibatan mereka dalam Pramuka.


🔥 Kesimpulan: Sudah Sampai di Level Mana Kamu?

Apakah kamu hanya mengajar, atau sudah bisa mengubah hidup peserta didik? Jika kamu ingin menjadi Pembina Pramuka yang luar biasa, teruslah belajar, berkembang, dan berusaha naik level! Pramuka butuh pembina yang bisa membuka hati dan mengubah hidup. Bagikan pengalamanmu dan ajak pembina lain untuk naik level bersama.[JP-Red]

Disarikan dan ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;

Orang Tua Berhak Tahu! Jangan Biarkan Kegiatan Pramuka Anda Sekadar Dokumentasi Tanpa Arti

Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka merupakan wadah pembinaan karakter yang telah terbukti efektif dalam membentuk kepribadian, disiplin, dan kepemimpinan generasi muda. Namun, di tengah perkembangan zaman dan maraknya penggunaan media sosial, publikasi kegiatan kepramukaan masih belum mendapat perhatian yang serius dari sebagian besar pembina dan pelatih.

Banyak kegiatan yang hanya terdokumentasi dalam bentuk foto-foto tanpa narasi yang menjelaskan esensi serta manfaat dari kegiatan tersebut. Padahal, publikasi yang baik tidak hanya sekadar berbagi dokumentasi, tetapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial terhadap peserta didik, orang tua, dan masyarakat luas.

➤ Publikasi bukan sekadar berbagi foto, tetapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial agar masyarakat memahami manfaat kepramukaan.

Publikasi yang tepat dapat memberikan gambaran yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai proses pendidikan karakter dalam Gerakan Pramuka. Foto-foto yang diunggah tanpa keterangan yang memadai sering kali hanya menjadi kenangan bagi peserta, tanpa memberi pemahaman lebih dalam bagi orang tua atau masyarakat umum tentang nilai-nilai yang ditanamkan dalam setiap kegiatan. Dengan adanya narasi yang baik, publikasi dapat menjadi sarana edukasi yang menjelaskan bagaimana Pramuka berkontribusi dalam membangun pribadi yang tangguh, disiplin, mandiri, dan berjiwa kepemimpinan.

➤ Publikasi dengan narasi yang jelas dapat menjadi alat edukasi bagi masyarakat mengenai peran Pramuka dalam membangun karakter generasi muda.

Sebagai organisasi pendidikan nonformal, Gerakan Pramuka mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, kepemimpinan, serta kemandirian kepada peserta didiknya. Publikasi kegiatan yang dilengkapi dengan narasi akan memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada masyarakat mengenai tujuan dan dampak positif dari setiap kegiatan. Dengan demikian, orang tua akan lebih memahami bahwa dana yang mereka keluarkan untuk mendukung anak-anaknya dalam kegiatan Pramuka bukan sekadar untuk bermain atau berkemah, melainkan sebagai investasi dalam pembentukan karakter dan mental anak.

➤ Publikasi yang baik akan membuat orang tua lebih memahami bahwa kegiatan Pramuka adalah investasi pendidikan karakter bagi anak-anak mereka.

Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban, publikasi yang baik juga akan meningkatkan citra Gerakan Pramuka di mata masyarakat. Banyak orang tua yang belum memahami betul apa yang dilakukan anak-anak mereka dalam kegiatan kepramukaan. Dengan publikasi yang lebih sistematis dan informatif, masyarakat akan semakin sadar akan pentingnya keikutsertaan anak-anak mereka dalam Pramuka. Bahkan, dukungan terhadap kegiatan Pramuka di lingkungan sekolah maupun masyarakat bisa semakin meningkat karena publikasi yang transparan dan informatif akan menumbuhkan kepercayaan yang lebih besar.

➤ Publikasi yang sistematis dan informatif akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Gerakan Pramuka.

Di era digital saat ini, publikasi kegiatan dapat dilakukan melalui berbagai platform, seperti media sosial, blog, atau website resmi. Setiap unggahan sebaiknya tidak hanya menampilkan foto kegiatan, tetapi juga dilengkapi dengan deskripsi yang menjelaskan maksud, manfaat, dan hasil dari kegiatan tersebut. Misalnya, ketika ada kegiatan penjelajahan, pembina dapat menjelaskan bagaimana kegiatan ini melatih kemandirian, kebersamaan, dan ketahanan mental peserta didik. Dengan cara ini, publikasi tidak hanya menjadi dokumentasi semata, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang efektif dengan masyarakat.

➤ Memanfaatkan media sosial dan platform digital dengan narasi yang kuat akan membuat publikasi lebih efektif dan menjangkau lebih banyak orang.

Para pembina dan pelatih memiliki peran penting dalam memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan dapat tersampaikan dengan baik kepada publik. Pelatihan dan pembiasaan dalam membuat publikasi yang berkualitas harus mulai diterapkan dalam setiap gugus depan. Dengan adanya kesadaran akan pentingnya publikasi yang baik, Pramuka dapat semakin dikenal sebagai organisasi pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman dan terus berkontribusi dalam membangun generasi muda yang unggul.

➤ Pembina dan pelatih harus mulai membiasakan diri untuk membuat publikasi berkualitas agar Pramuka semakin dikenal dan dihargai.

Oleh karena itu, publikasi yang baik bukan hanya sekadar menyimpan kenangan dalam bentuk foto atau video, tetapi juga menjadi sarana transparansi yang menunjukkan bagaimana kegiatan Pramuka dikelola dan dijalankan. Dengan adanya publikasi yang jelas dan informatif, masyarakat dapat melihat langsung bagaimana Pramuka memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Hal ini juga dapat mencegah munculnya kesalahpahaman atau anggapan bahwa kegiatan Pramuka hanya bersifat seremonial tanpa dampak yang berarti. Ketika masyarakat melihat bahwa Pramuka benar-benar berkontribusi dalam pembentukan karakter generasi muda, mereka akan semakin mendukung kegiatan ini, baik dari segi moral maupun materi.

➤ Publikasi bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga alat transparansi dan edukasi yang akan membuat masyarakat semakin mendukung Gerakan Pramuka.

Dengan publikasi yang baik, Gerakan Pramuka akan semakin dikenal, dihargai, dan didukung oleh masyarakat. Pada akhirnya, Pramuka tidak hanya menjadi tempat berkegiatan bagi anak-anak dan remaja, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa melalui pembentukan karakter generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan.[JP-Red]

Ditulis di atas Kereta Api Sritanjung – jurusan Lempuyangan Banyuwangi;

Disarikan dan ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;

8 Pokok-Pokok Pemikiran Baden Powell tentang Hidup, Anak Muda, Pramuka, dan Dunia

Jejak Pramuka – Baden Powell bukan hanya seorang tentara dan petualang ulung, tetapi juga seorang pendidik visioner yang mendirikan Gerakan Pramuka sebagai sistem pendidikan karakter berbasis pengalaman. Dalam bukunya Scouting for Boys (1908), ia menjelaskan bahwa tujuan utama dari Pramuka adalah membentuk pemuda yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri serta lingkungannya. Ia percaya bahwa petualangan di alam terbuka bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan yang lebih efektif daripada teori di dalam kelas.

Melalui berbagai buku dan tulisannya, seperti Rovering to Success (1922), ia memberikan panduan kepada kaum muda tentang bagaimana menjalani hidup dengan semangat, integritas, dan keberanian. Pemikirannya yang dituangkan dalam berbagai karya ini terus relevan hingga sekarang, menginspirasi generasi demi generasi untuk menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat bagi dunia. Berikut pokok-pokok pemikiran Baden Powell tentang Hidup, Anak Muda, Pramuka dan Dunia yang dituangkan dalam berbagai buku karyanya :

  1. Hidup yang Luar Biasa adalah Hidup yang Bermanfaat
    • Makna hidup menurut Baden Powell bukan tentang kesuksesan pribadi, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
  2. Kebahagiaan Sejati Ada dalam Memberi
    • Seseorang akan merasa puas dalam hidup ketika bisa berbagi dan membantu sesama, baik dalam lingkup kecil maupun dalam skala yang lebih besar.
  3. Meninggalkan Dunia dalam Keadaan yang Lebih Baik
    • Setiap individu harus berusaha memberikan perubahan positif, sekecil apa pun, agar dunia menjadi tempat yang lebih baik.
  4. Belajar dari Pengalaman Nyata, Bukan Hanya Teori
    • Pendidikan yang sesungguhnya terjadi melalui pengalaman langsung di alam terbuka, bukan sekadar teori di dalam kelas.
  5. Anak Muda adalah Harapan Masa Depan
    • Generasi muda perlu diarahkan untuk memiliki karakter kuat, berani mengambil inisiatif, dan mampu bekerja sama dengan pendekatan yang menyenangkan.
  6. Pramuka: Lebih dari Sekadar Organisasi Kepemudaan
    • Gerakan Pramuka bukan hanya mengajarkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
  7. Membangun Perdamaian Dunia Melalui Persaudaraan
    • Baden Powell percaya bahwa dunia yang lebih baik hanya bisa terwujud jika ada persaudaraan dan kerja sama antarbangsa, yang dapat dipupuk melalui nilai-nilai Pramuka.
  8. Hidup adalah Petualangan yang Harus Dijalani dengan Semangat dan Tanggung Jawab
    • Hidup yang luar biasa adalah hidup yang penuh makna, di mana seseorang tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi orang lain dan lingkungannya.

Pokok-pokok pemikiran ini mencerminkan visi Baden Powell dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap dalam bertahan hidup, tetapi juga memiliki moralitas dan semangat untuk membangun dunia yang lebih baik.

Warisan Baden Powell tidak hanya hidup dalam organisasi Pramuka, tetapi juga dalam nilai-nilai yang ia tuangkan dalam berbagai buku dan ajarannya. Dalam Aids to Scoutmastership (1919), ia menekankan bahwa pendidikan terbaik bagi pemuda adalah melalui praktik nyata dalam kehidupan, bukan sekadar teori yang diajarkan di sekolah. Ia juga menyoroti pentingnya peran Pramuka dalam membangun perdamaian dunia melalui persaudaraan dan kerja sama lintas budaya.

Prinsipnya yang berbunyi “Leave the world a little better than you found it” menjadi pesan abadi bagi semua orang, bahwa kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang memberikan dampak positif bagi sesama. Jika setiap individu menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Baden Powell, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik—dipenuhi dengan keberanian, kepedulian, dan semangat untuk terus maju.[JP-Red]

Disarikan dan ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;

57 Kata Mutiara Baden-Powell: Inspirasi Abadi untuk Pramuka dan Pemimpin Masa Kini

Jejak Pramuka – Baden-Powell, pendiri Gerakan Pramuka, bukan hanya seorang pemimpin hebat tetapi juga seorang filsuf yang kata-katanya tetap relevan hingga saat ini. Melalui berbagai bukunya, ia memberikan pelajaran tentang kepemimpinan, karakter, kebahagiaan, dan semangat pantang menyerah.

Kutipan-kutipannya tak hanya menginspirasi anggota Pramuka, tetapi juga siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan penuh makna. Dari keteguhan menghadapi tantangan hingga meninggalkan dunia dalam keadaan lebih baik, setiap kata-kata bijaknya membawa pesan yang tak lekang oleh waktu.

Berikut ini adalah 57 kutipan terbaik dari Baden-Powell yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua!

57 Kutipan Baden-Powell dengan Terjemahan Bahasa Indonesia

  1. “Try and leave this world a little better than you found it.”
    → Cobalah tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada saat kamu menemukannya.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)
  2. “The real way to get happiness is by giving out happiness to other people.”
    → Cara nyata untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)
  3. “A Scout is never taken by surprise; he knows exactly what to do when anything unexpected happens.”
    → Seorang Pramuka tidak pernah terkejut; dia tahu persis apa yang harus dilakukan ketika sesuatu yang tak terduga terjadi.
    (Scouting for Boys, 1908)
  4. “A week of camp life is worth six months of theoretical teaching in the meeting room.”
    → Seminggu hidup di perkemahan lebih berharga daripada enam bulan pengajaran teori di ruang kelas.
    (Scouting for Boys, 1908)
  5. “A Scout smiles and whistles under all circumstances.”
    → Seorang Pramuka selalu tersenyum dan bersiul dalam segala situasi.
    (Scouting for Boys, 1908)
  6. “Loyalty is a feature in a boy’s character that inspires boundless hope.”
    → Kesetiaan adalah sifat dalam karakter seorang anak yang menginspirasi harapan tanpa batas.
    (Scouting for Boys, 1908)
  7. “The uniform makes for brotherhood, since when universally adopted, it covers up all differences of class and country.”
    → Seragam menciptakan persaudaraan, karena ketika dikenakan secara universal, ia menyamarkan semua perbedaan kelas dan negara.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  8. “Teach Scouts not how to get a living, but how to live.”
    → Ajarkan Pramuka bukan hanya cara mencari nafkah, tetapi cara menjalani hidup.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  9. “A sense of humor is a great step towards happiness.”
    → Rasa humor adalah langkah besar menuju kebahagiaan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  10. “If you make listening and observation your occupation, you will gain much more than you can by talk.”
    → Jika kamu menjadikan mendengarkan dan mengamati sebagai kebiasaan, kamu akan mendapatkan lebih banyak daripada hanya berbicara.
    (Scouting for Boys, 1908)
  11. “We never fail when we try to do our duty, we always fail when we neglect to do it.”
    → Kita tidak pernah gagal ketika berusaha menjalankan tugas kita, kita selalu gagal ketika mengabaikannya.
    (Scouting for Boys, 1908)
  12. “The sport in Scouting is to find the good in every boy and develop it.”
    → Permainan dalam Pramuka adalah menemukan kebaikan dalam setiap anak dan mengembangkannya.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  13. “No one can pass through life without having at some time to endure a period of darkness and trial.”
    → Tidak ada seorang pun yang bisa menjalani hidup tanpa harus mengalami masa-masa sulit dan ujian.
    (Scouting for Boys, 1908)
  14. “Happiness is open to all, since it merely consists of contentment with what you have got and doing what you can for other people.”
    → Kebahagiaan terbuka untuk semua orang, karena kebahagiaan hanya terdiri dari rasa puas dengan apa yang kita miliki dan melakukan sesuatu untuk orang lain.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)
  15. “The most important object in Boy Scout training is to educate, not instruct.”
    → Tujuan paling penting dalam pelatihan Pramuka adalah mendidik, bukan sekadar mengajarkan.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  16. “Character is what you are when no one is watching.”
    → Karakter adalah siapa dirimu ketika tidak ada yang melihat.
    (Scouting for Boys, 1908)
  17. “Service to others is the true key to happiness.”
    → Pelayanan kepada orang lain adalah kunci sejati menuju kebahagiaan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  18. “A boy is not a sitting-down animal.”
    → Seorang anak bukanlah makhluk yang suka duduk diam.
    (Scouting for Boys, 1908)
  19. “Leadership is not about being in charge. It’s about taking care of those in your charge.”
    → Kepemimpinan bukan tentang berkuasa. Ini tentang merawat mereka yang berada dalam tanggung jawabmu.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  20. “To succeed in life, you must be ready to seize opportunities as they come.”
    → Untuk sukses dalam hidup, kamu harus siap mengambil peluang ketika itu datang.
    (Scouting for Boys, 1908)
  21. “The best preparation for tomorrow is doing your best today.”
    → Persiapan terbaik untuk hari esok adalah melakukan yang terbaik hari ini.
    (Scouting for Boys, 1908)
  22. “Courage is not the absence of fear, but the ability to act in spite of it.”
    → Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemampuan untuk bertindak meskipun takut.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  23. “The best way to find yourself is to lose yourself in service to others.”
    → Cara terbaik menemukan jati diri adalah dengan mengabdikan diri kepada orang lain.
    (Scouting for Boys, 1908)
  24. “A good leader leads by example, not by command.”
    → Pemimpin yang baik memimpin dengan contoh, bukan dengan perintah.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  25. “Enthusiasm is the spark that ignites action.”
    → Antusiasme adalah percikan yang menyalakan tindakan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  26. “Scouting is not a science to be sat down and learned from a book, but an experience to be lived.”
    → Kepramukaan bukanlah ilmu yang bisa dipelajari hanya dari buku, tetapi pengalaman yang harus dijalani.
    (Scouting for Boys, 1908)
  27. “The open-air is the real objective of Scouting and the key to its success.”
    → Udara terbuka adalah tujuan utama Kepramukaan dan kunci keberhasilannya.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  28. “Life without adventure would be deadly dull.”
    → Hidup tanpa petualangan akan terasa membosankan dan hambar.
    (Scouting for Boys, 1908)
  29. “A boy carries out suggestions more wholeheartedly when he understands their aim.”
    → Seorang anak akan lebih sungguh-sungguh menjalankan saran jika ia memahami tujuannya.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  30. “The best workers, like the happiest livers, look upon their work as a kind of game.”
    → Pekerja terbaik, seperti orang yang paling bahagia, menganggap pekerjaannya sebagai permainan yang menyenangkan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  31. “Success in training the boy depends largely on the Scoutmaster’s own personal example.”
    → Keberhasilan dalam melatih anak sangat bergantung pada contoh pribadi yang diberikan oleh Pembina Pramuka.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  32. “No man is much good unless he believes in God and obeys His laws.”
    → Tak seorang pun akan menjadi baik kecuali jika ia percaya kepada Tuhan dan menaati hukum-Nya.
    (Scouting for Boys, 1908)
  33. “Nature study will show you how full of beautiful and wonderful things God has made the world for you to enjoy.”
    → Belajar tentang alam akan menunjukkan betapa dunia ini penuh dengan hal-hal indah yang diciptakan Tuhan untuk kita nikmati.
    (Scouting for Boys, 1908)
  34. “The most worth-while thing is to try to put happiness into the lives of others.”
    → Hal paling berharga dalam hidup adalah berusaha membawa kebahagiaan ke dalam kehidupan orang lain.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)
  35. “A fisherman does not bait his hook with food he likes. He uses food the fish likes.”
    → Seorang nelayan tidak akan menggunakan umpan yang ia suka, tetapi yang disukai oleh ikan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  36. “Don’t be content with what you have done. Always look forward to what you can do next.”
    → Jangan puas dengan apa yang telah kamu lakukan. Selalu lihat ke depan untuk hal yang bisa kamu lakukan berikutnya.
    (Scouting for Boys, 1908)
  37. “Learn to trust yourself and your instincts, but always be prepared.”
    → Belajarlah untuk mempercayai dirimu sendiri dan instingmu, tetapi selalu bersiap-siap.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  38. “The real way to gain happiness is to give it to others.”
    → Cara nyata untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikannya kepada orang lain.
    (Scouting for Boys, 1908)
  39. “The secret of sound education is to get each pupil to learn for himself, instead of instructing him by driving knowledge into him on a stereotyped system.”
    → Rahasia pendidikan yang baik adalah membuat setiap murid belajar sendiri, bukan hanya menghafalkan sistem yang kaku.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  40. “The secret of success is enthusiasm.”
    → Rahasia sukses adalah antusiasme.
    (Scouting for Boys, 1908)
  41. “Be prepared for any fate, and face it like a man.”
    → Bersiaplah untuk segala kemungkinan, dan hadapilah seperti seorang pria sejati.
    (Scouting for Boys, 1908)
  42. “We do not want to make Scouts into soldiers, but into citizens.”
    → Kami tidak ingin menjadikan Pramuka sebagai tentara, tetapi sebagai warga negara yang baik.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  43. “We must change boys from what they are at present into what they may become in the future.”
    → Kita harus mengubah anak-anak dari apa adanya mereka saat ini menjadi seseorang yang bisa mereka capai di masa depan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  44. “The uniform should, by its smartness and correctness, give the boy a pride in himself and in his appearance.”
    → Seragam, dengan kerapian dan ketepatannya, harus membuat seorang anak bangga pada dirinya sendiri dan penampilannya.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  45. “Health is not only a normal condition, but a duty.”
    → Kesehatan bukan hanya kondisi normal, tetapi juga kewajiban.
    (Scouting for Boys, 1908)
  46. “The great thing that I want to see is the boy make himself independent, strong in character, and self-reliant.”
    → Hal terbesar yang ingin saya lihat adalah anak-anak menjadi mandiri, kuat dalam karakter, dan percaya diri.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  47. “A Scoutmaster teaches boys how to live, not merely how to make a living.”
    → Seorang Pembina Pramuka mengajarkan anak-anak bagaimana menjalani hidup, bukan sekadar mencari nafkah.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  48. “It is risky to order a boy not to do something; it immediately opens to him the adventure of doing it.”
    → Berisiko untuk melarang seorang anak melakukan sesuatu; itu justru membuka petualangan baginya untuk mencoba melakukannya.
    (Scouting for Boys, 1908)
  49. “The best progress is made by the boy himself, rather than by the instructions of an instructor.”
    → Kemajuan terbaik terjadi ketika seorang anak belajar sendiri, bukan hanya dari instruksi seorang pengajar.
    (Scouting for Boys, 1908)
  50. “The object of the patrol system is mainly to give responsibility to the boy.”
    → Tujuan utama dari sistem regu adalah memberi tanggung jawab kepada anak-anak.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  51. “A Scout smiles and whistles under all difficulties.”
    → Seorang Pramuka tersenyum dan bersiul di tengah segala kesulitan.
    (Scouting for Boys, 1908)
  52. “The spirit is there in every boy; it has to be discovered and brought to light.”
    → Semangat ada dalam setiap anak; itu harus ditemukan dan dibawa ke permukaan.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  53. “Happiness is open to all, since, when you boil it down, it merely consists of contentment with what you’ve got and doing what you can for other people.”
    → Kebahagiaan terbuka untuk semua orang, karena pada dasarnya, itu hanyalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan berbuat sesuatu untuk orang lain.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)
  54. “If you make listening and observation your occupation, you will gain much more than you can by talk.”
    → Jika kamu menjadikan mendengarkan dan mengamati sebagai kebiasaan, kamu akan mendapatkan lebih banyak daripada hanya berbicara.
    (Scouting for Boys, 1908)
  55. “An individual step in character training is to put responsibility on the individual.”
    → Langkah utama dalam membentuk karakter adalah memberikan tanggung jawab kepada individu itu sendiri.
    (Aids to Scoutmastership, 1919)
  56. “The patrol system leads each boy to see that he has some individual responsibility for the good of his patrol.”
    → Sistem regu mengajarkan setiap anak bahwa ia memiliki tanggung jawab pribadi untuk kebaikan regunya.
    (Scouting for Boys, 1908)
  57. “Leave this world a little better than you found it.”
    → Tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada saat kamu menemukannya.
    (Pesan terakhir kepada Pramuka, 1941)

Dari 57 kutipan di atas, kita bisa belajar bahwa hidup yang baik bukan hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kita berdampak pada orang lain dan dunia di sekitar kita.

Baden-Powell mengajarkan kita untuk tetap tersenyum dalam kesulitan, bertanggung jawab atas diri sendiri, dan selalu siap membantu sesama. Prinsip-prinsip ini tidak hanya berlaku dalam Pramuka, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan kepemimpinan.

Jadi, mari kita ambil hikmah dari kata-kata bijaknya dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti pesannya yang paling terkenal:

🔥 “Tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada saat kamu menemukannya.” 🔥

_____ Diolah dari berbagai sumber _____

Peran Pramuka dalam Pelestarian Lingkungan melalui Eco Scouting Cyber Movement (ESCYMO)

Jejak Pramuka – Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran lingkungan sejak dini. Contohnya, Pramuka di berbagai daerah telah berperan aktif dalam kegiatan seperti penghijauan, pembersihan sungai, serta kampanye edukasi pengelolaan sampah di sekolah-sekolah. Gerakan seperti Bank Sampah Pramuka di beberapa kota telah membantu mengurangi limbah plastik dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya.

Urgensi Gerakan Pramuka dalam Pelestarian Lingkungan

Selain itu, kegiatan perkemahan ramah lingkungan yang menerapkan konsep nol sampah juga menjadi salah satu wujud nyata komitmen Pramuka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dalam menghadapi tantangan krisis sampah dan kelestarian alam, diperlukan aksi konkret yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah. Gerakan ini selaras dengan semangat Eco Scouting Cyber Movement (ESCYMO), yakni inisiatif kepanduan berbasis digital yang berfokus pada pelestarian lingkungan dan keberlanjutan melalui platform daring dengan slogan Change Together, Life a Better.

Prinsip dasar kepramukaan (PDK) adalah norma hidup yang harus dipegang oleh setiap anggota Gerakan Pramuka. PDK terdiri dari: Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup, dan alam seisinya, Peduli terhadap diri pribadi dan Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.

PDK merupakan ciri khas yang membedakan kepramukaan dengan pendidikan lain. PDK juga menjadi landasan kode etik, sistem nilai, dan pedoman pembinaan anggota Pramuka. Salah satu penerapan PDK dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan: Melestarikan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang dan memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidup masyarakat;

Hal ini juga selaras dengan Dasa Darma Pramuka yang ke-2, yaitu “Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia.” Implementasi gerakan lingkungan dalam Pramuka bukan hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga mencerminkan kecintaan terhadap alam dan kepedulian terhadap sesama melalui aksi nyata dalam pelestarian lingkungan.

Langkah Teknis Implementasi Gerakan Lingkungan bagi Pramuka

Secara teknis, pelaksanaan gerakan lingkungan ini sangatlah mudah dipraktekkan oleh siapa saja. Namun membutuhkan komitmen tinggi untuk secara konsisten menjalankannya serta mengajak orang lain mengikutinya secara bertahap. Agar gerakan ini berjalan efektif, setiap anggota Pramuka wajib menerapkan tiga langkah utama:

  • Pemilahan Sampah: Memisahkan sampah organik, anorganik, dan B3 sejak dari rumah.
  • Pengolahan Mandiri: Mengolah sampah organik menjadi kompos, memanfaatkan sampah anorganik untuk daur ulang atau ecobrick.
  • Pengurangan Limbah Rumah Tangga: Mengurangi produksi limbah dengan menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Gerakan Praktis dalam Kegiatan Pramuka

Gerakan lingkungan ini dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan kepramukaan, tidak membutuhkan biaya yang mahal dan waktu persiapan yang panjang namun memberikan dampak manfaat secara langsung, misalnya:

  • Kegiatan Kemah Hijau: Peserta wajib membawa peralatan makan sendiri dan menerapkan sistem nol sampah selama perkemahan.
  • Pekan Eco-Scouting: Aksi bersih-bersih lingkungan, pemanfaatan sampah untuk kerajinan, serta edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan lingkungan yang benar.
  • Patroli Lingkungan: Setiap anggota Pramuka diharapkan menjadi duta lingkungan dengan mengawasi dan menegur praktik yang merusak lingkungan.

Kolaborasi dengan Komunitas dan Pemerintah Daerah

Agar gerakan ini semakin masif, perlu adanya sinergi antara Pramuka dengan komunitas lingkungan, sekolah, serta pemerintah daerah. Kolaborasi dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama dengan komunitas lingkungan untuk mengadakan kegiatan edukasi dan aksi bersih lingkungan, menggandeng sekolah dalam kurikulum berbasis ekologi, serta bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendukung kebijakan pengelolaan sampah dan penghijauan. Program seperti Bank Sampah Pramuka, workshop pengolahan sampah, serta lomba inovasi lingkungan dapat menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem yang mendukung gerakan kepedulian lingkungan.

Eco Scouting Cyber Movement (ESCYMO) sebagai Katalisator Gerakan Di era digital

Pramuka dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan gerakan ini melalui Eco Scouting Cyber Movement (ESCYMO). Kampanye media sosial, webinar edukatif, serta aplikasi pemantauan lingkungan berbasis komunitas dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik. ESCYMO akan menjadi platform digital yang menghubungkan para aktivis lingkungan muda, berbagi pengalaman, serta mendukung gerakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dampak Positif dan Keberlanjutan Gerakan

Jika diterapkan secara konsisten, gerakan ini dapat memberikan dampak positif yang luas, seperti berkurangnya pencemaran lingkungan, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang benar, serta terbentuknya generasi muda yang peduli terhadap lingkungan. ESCYMO sebagai pendukung utama gerakan ini akan menjadi wadah kolaboratif yang mempercepat pertumbuhan ekosistem kepedulian lingkungan.

Pramuka sebagai Agen Perubahan Lingkungan

Eco Scouting Cyber Movement (ESCYMO) bukan sekadar gerakan sesaat, melainkan sebuah gaya hidup yang harus diinternalisasi oleh setiap anggota Pramuka. Contohnya, ESCYMO telah diterapkan dalam kegiatan Pramuka melalui program edukasi daring tentang pengelolaan lingkungan, kampanye digital untuk mengurangi penggunaan plastik, serta penggunaan aplikasi pemantauan lingkungan yang melibatkan anggota Pramuka di berbagai daerah. Dengan semangat kepanduan yang inovatif dan berkelanjutan, serta dukungan dari ESCYMO, Pramuka dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak nyata bagi lingkungan. Kini saatnya Pramuka Sidoarjo memimpin gerakan kepedulian lingkungan dan membuktikan bahwa setiap aksi kecil yang dilakukan dengan disiplin dapat membawa perubahan besar bagi dunia.[JP-Red]

Konsep Triswa – Swabina, Swakelola dan Swaguna, Metode Efektif Pembinaan Multi Manfaat Bagi Pramuka

Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka adalah wadah pendidikan karakter yang membentuk pribadi tangguh, cakap, dan bermanfaat bagi sesama. Pramuka tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam Dasa Dharma, seperti cinta alam, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui berbagai kegiatan, anggota Pramuka dilatih menjadi pribadi yang berintegritas, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam membentuk karakter tersebut, Pramuka mengenal konsep TRISWA: Swabina, Swakelola, dan Swaguna. TRISWA merupakan metode pembinaan yang mencakup tiga aspek penting dalam pengembangan diri: membina diri sendiri (Swabina), mengelola kegiatan secara mandiri (Swakelola), dan memberikan manfaat bagi sesama (Swaguna). Ketiga konsep ini saling terhubung dan membentuk pola kegiatan yang menanamkan kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial secara terintegrasi. Berikut adalah penjelasan detail dari masing-masing aspek dalam konsep TRISWA:


1. Swabina: Membangun Kemandirian dengan Tribina
Swabina adalah proses membina diri secara mandiri melalui konsep Tribina: Bina Diri, Bina Satuan, dan Bina Masyarakat.

  • Bina Diri: Mengasah potensi diri dengan keterampilan dan pelatihan yang membangun karakter kuat.
  • Bina Satuan: Melatih kepemimpinan melalui peran sebagai pemimpin regu atau pengurus sangga.
  • Bina Masyarakat: Mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan bakti sosial.

2. Swakelola: Belajar Mengelola Kegiatan secara Mandiri
Swakelola menekankan pada kemampuan mengelola kegiatan sendiri atau secara berkelompok, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Melalui pengalaman memimpin acara seperti perkemahan atau lomba, anggota Pramuka mengasah keterampilan manajerial dan kepemimpinan.


3. Swaguna: Menjadi Pribadi yang Memberi Manfaat
Swaguna mengajarkan anggota Pramuka agar mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Mereka didorong menjadi pribadi yang bermanfaat seperti matahari yang menerangi tanpa membakar diri, atau sumber air yang menyegarkan banyak orang.


Mengapa Konsep TRISWA Cocok untuk Anggota Pramuka?
TRISWA mengintegrasikan pembelajaran karakter, kepemimpinan, dan pengabdian. Mini riset yang dilakukan terhadap 50 anggota Pramuka Penegak di Sidoarjo menunjukkan hasil yang positif:

  • 88% merasa konsep Swakelola meningkatkan kemampuan kepemimpinan.
  • 82% menyatakan Swabina membantu meningkatkan rasa percaya diri.
  • 90% merasakan manfaat sosial melalui praktik Swaguna.

Kesimpulan:
Konsep TRISWA adalah metode efektif yang membentuk anggota Pramuka menjadi pribadi mandiri, cakap, dan bermanfaat bagi masyarakat. Implementasinya yang rutin dan aplikatif di gugus depan akan membekali anggota Pramuka dengan keterampilan hidup yang berguna sepanjang hayat.[JP-Red]

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media : jejakpramuka.com;

Bosan Latihan Pramuka yang Monoton ?, Ini Rahasia Latihan Pramuka Penegak Yang Lebih Seru dan Menantang

Jejak Pramuka – Pramuka bukan sekadar seragam cokelat dan tepukan semangat, tetapi perjalanan menuju kemandirian, kepemimpinan, dan kebersamaan. Sebagai Pramuka Penegak, kita berada di fase paling dinamis dalam gerakan kepanduan—fase di mana tantangan semakin besar, tanggung jawab semakin nyata, dan jiwa kepemimpinan mulai ditempa.

Namun, bagaimana agar setiap latihan bukan hanya rutinitas biasa, tetapi menjadi pengalaman yang seru, menantang, dan selalu dinantikan?

Bayangkan sebuah latihan yang penuh semangat, di mana setiap baris-berbaris bukan hanya tentang disiplin, tetapi juga strategi dan kekompakan. Setiap materi bukan sekadar teori, tetapi simulasi yang membuat kita merasa sedang menghadapi tantangan di alam bebas. Setiap permainan bukan hanya hiburan, tetapi sarana mempererat persaudaraan dan melatih kecerdasan.

Inilah yang akan kita bahas! Rangkaian latihan mingguan yang tidak membosankan, penuh variasi, dan memberikan pengalaman berharga bagi setiap Pramuka Penegak. Siap untuk latihan yang lebih seru? Mari kita mulai!

Agar latihan Pramuka Penegak setiap minggu lebih menarik, berikut adalah rangkaian kegiatan yang bisa dilakukan dengan alur yang dinamis dan menyenangkan.


Rangkaian Kegiatan Latihan Pramuka Penegak

1. Persiapan Latihan (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Memastikan kelancaran latihan dengan persiapan yang matang.

✅ Kegiatan:

  • Pengurus Dewan Ambalan dan Pembina berkumpul lebih awal untuk mengecek kehadiran, perlengkapan, dan tempat latihan.
  • Regu atau Sangga berkoordinasi dan mempersiapkan diri.
  • Pemanasan ringan untuk menyiapkan fisik sebelum latihan.

💡 Tips: Buat tugas piket bergilir agar semua anggota terbiasa dengan kepemimpinan dan tanggung jawab.


2. Upacara Pembukaan Latihan Pramuka (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Menumbuhkan disiplin, nasionalisme, dan semangat kepramukaan.

✅ Susunan upacara:

  • Persiapan Pasukan
  • Penghormatan kepada kakak pembina.
  • Laporan Pemimpin Upacara.
  • Pengibaran bendera (jika ada).
  • Pembacaan Pancasila diikuti peserta.
  • Pembacaan Dasa Darma (tanpa diikuti peserta).
  • Amanat singkat Pembina.
  • Doa penutup upacara.
  • Laporan Pemimpin Upacara.
  • Penghormatan kepada kakak pembina.

💡 Tips: Sesekali buat variasi amanat berupa kisah inspiratif, motivasi, atau yel-yel semangat!


3. PBB – Latihan Baris-berbaris/Kesamaptaan (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Melatih disiplin, kekompakan, dan fisik yang prima.

✅ Kegiatan:

  • Latihan dasar PBB (sikap sempurna, hadap kanan/kiri, balik kanan, langkah tegap, dsb.).
  • Latihan variasi seperti formasi angka/simbol untuk meningkatkan kreativitas dan kekompakan.
  • Latihan fisik ringan: lari kecil, push-up, plank, atau peregangan untuk menjaga kebugaran.

💡 Tips: Adakan kompetisi antar regu/sangga untuk meningkatkan semangat!


4. Ice Breaking / Permainan Awal / Bernyanyi (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Meningkatkan semangat dan mempererat kebersamaan.

✅ Pilihan kegiatan:

  • Tebak Gaya: Salah satu peserta memperagakan suatu kata, yang lain menebak.
  • Tebak Lagu: Potongan lagu pramuka atau nasional dimainkan, siapa cepat dia menang!
  • Jaring Laba-Laba: Semua peserta berdiri melingkar dan saling melempar bola tali untuk membentuk jaring, sambil menyebutkan nama dan hal unik tentang diri mereka.

💡 Tips: Sesuaikan dengan suasana! Jika masih pagi, pilih permainan yang energik, jika sudah siang, pilih yang lebih santai.


5. Materi Kegiatan Latihan (45 Menit – 1 Jam)

⏳ Waktu: 45 menit – 1 jam
🎯 Tujuan: Mempelajari keterampilan kepramukaan yang menarik dan bermanfaat.

✅ Contoh materi latihan mingguan:

MingguMateriMetode
1Tali TemaliMembuat tandu darurat atau jembatan sederhana.
2Navigasi DaratOrientasi peta dan kompas dengan simulasi pencarian jejak.
3PioneeringMembuat menara, rakit, atau gapura sederhana.
4SurvivalTeknik bertahan hidup di alam, mencari air, dan membuat api unggun.
5Pertolongan PertamaSimulasi penanganan luka dan evakuasi korban.
6Komunikasi LapanganKode morse, semaphore, dan sandi-sandi Pramuka.
7Jurnalistik dan DokumentasiCara membuat laporan dan mendokumentasikan kegiatan Pramuka.
8KewirausahaanSimulasi membuat usaha kecil di lingkungan sekitar.

💡 Tips: Gunakan simulasi atau praktik langsung agar materi lebih menarik!


6. Kesimpulan / Evaluasi Materi (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Merefleksi hasil latihan untuk meningkatkan pemahaman.

✅ Kegiatan:

  • Tanya jawab seputar materi yang telah dipelajari.
  • Setiap sangga menyampaikan hal yang paling menarik dan yang masih perlu dipelajari.
  • Pembina atau Dewan Ambalan memberikan kesimpulan dan catatan penting.

💡 Tips: Bisa dibuat santai, misalnya melalui diskusi dalam lingkaran sambil duduk.


7. Permainan Penutup / Bernyanyi / Kuis (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Mengakhiri latihan dengan suasana gembira dan semangat tinggi.

✅ Contoh kegiatan:

  • Kuis Kepramukaan: Sangga saling beradu menjawab pertanyaan terkait latihan.
  • Lomba Yel-yel: Masing-masing sangga membuat yel-yel dengan tema tertentu.
  • Permainan “Jalan Sehat”: Satu peserta ditutup matanya, yang lain memberi arahan dengan kode tepukan.

💡 Tips: Jangan lupa beri reward sederhana untuk pemenang agar lebih seru!


8. Upacara Penutupan Latihan Pramuka (10 Menit)

⏳ Waktu: 10 menit
🎯 Tujuan: Menutup latihan dengan hikmat dan disiplin.

✅ Susunan upacara:

  • Persiapan Pasukan.
  • Penghormatan kepada kakak Pembina.
  • Laporan Pemimpin Upacara.
  • Penurunan Bendera (jika ada).
  • Amanat singkat Pembina (motivasi atau evaluasi).
  • Doa penutup.
  • Laporan Pemimpin Upacara.
  • Penghormatan kepada kakak pembina.
  • Pembubaran pasukan.

💡 Tips: Tambahkan pengumuman penting atau agenda latihan berikutnya agar peserta lebih siap.


Penutup

Dengan susunan kegiatan yang bervariasi dan interaktif, latihan Pramuka Penegak akan lebih seru, tidak monoton, dan selalu dinantikan. Kuncinya adalah keseimbangan antara disiplin, materi, dan permainan yang menyenangkan.

🔥 “Jadilah Pramuka yang kreatif, aktif, dan selalu siap menegakkan nilai-nilai Trisatya dan Dasa Darma!” 🔥

Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media : jejakpramuka.com;