Jejak Pramuka — Latihan rutin Pramuka Ambalan Ki Hajar Dewantara dan Nyi Ageng Serang, pangkalan SMA Islam Sidoarjo, pada Jumat, 13 Juni 2025, terasa berbeda dari biasanya. Bertempat di Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Sidoarjo, para anggota ambalan menjalankan agenda latihan dengan kegiatan kemanusiaan: donor darah.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya donor darah sekaligus menumbuhkan rasa kepedulian sosial di kalangan Pramuka Penegak. Slogan “Ayo Donor Darah! Gak Donor, Gak Keren!” menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta yang cukup antusias mengikuti kegiatan ini.
Meski demikian, tidak semua anggota bisa mendonorkan darahnya. Beberapa tidak memenuhi syarat medis seperti berat badan kurang dari 45 kg, tekanan darah yang tidak stabil, kadar hemoglobin di bawah standar, atau sedang dalam kondisi menstruasi maupun konsumsi obat tertentu.
Donor darah sendiri merupakan proses sukarela memberikan darah untuk transfusi kepada pasien yang membutuhkan, dan ternyata penuh manfaat. Selain menyelamatkan nyawa, donor darah juga berkontribusi positif terhadap kesehatan pendonor, seperti menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, mengurangi zat besi berlebih, serta memicu tubuh untuk memproduksi sel darah merah baru yang lebih segar.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa donor darah rutin dapat membantu menurunkan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker hati, paru-paru, dan usus besar. Masih banyak mitos keliru yang beredar di masyarakat terkait donor darah, seperti prosesnya yang lama, terasa sakit, menyebabkan kegemukan, hingga anggapan bahwa darah diambil secara cuma-cuma tapi dijual mahal.
Namun dalam kegiatan ini, seluruh isu tersebut berhasil dipatahkan melalui penjelasan langsung dari petugas PMI. Proses donor darah hanya memakan waktu sekitar 15 menit, tidak sesakit yang dibayangkan, dan tubuh justru merespons dengan memperbarui sel darah. Adapun biaya transfusi bukan untuk membeli darah, melainkan untuk menutup proses pengolahan, penyimpanan, dan pemeriksaan laboratorium.
Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para anggota ambalan, tidak hanya sebagai bentuk latihan lapangan, tetapi juga sebagai langkah nyata menumbuhkan karakter kemanusiaan, kepedulian, dan keberanian. Dengan semangat Pramuka yang selalu siap menolong sesama, mereka membuktikan bahwa latihan kepramukaan tidak melulu soal baris-berbaris atau tali-temali, melainkan juga aksi nyata untuk kehidupan.[JP-Red]
— Kontributor Berita : Alfun Salam, S.Pd – Pembina Satuan SMP Islam Sidoarjo; —
Jejak Pramuka – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur akan menggelar Perkemahan Wirakarya dengan pembangunan 143 rumah di 36 Kwarcab di Jawa Timur pada Juni-Juli 2025
Sebanyak 4 rumah diantaranya berada di Kabupaten Situbondo, yang disurvei oleh Tim Kwarda Jatim, Kwarcab Situbondo, Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Tim Konsultan Pembangunan dan Koordinator Tukang.
Di antara 4 sasaran itu bernama Ibu Jumani, seorang wanita berusia 42 tahun yang berprofesi sebagai buruh tani dan penjual layang-layang. Layangan itu dijualnya dengan harga Rp 2.000 per biji, sehari tidak tentu ada yang beli, kadang ada dan kadang tidak ada sama sekali katanya.
Selain berjualan layang-layang, suami Bu Jumani juga memelihara sapi milik orang, sistem bagi hasilnya adalah anak sapi pertama menjadi milik pemelihara, sedangkan anak sapi kedua untuk pemilik sapi.
Bu Jumani berjuang menghidupi keluarganya, apapun dilakoninya, termasuk sebagai buruh tani di sawah setiap pagi sampai siang hari. Ia dibayar 40 ribu per harinya. Pendapatan yang tidak seberapa itu, digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan, listrik, dan kebutuhan lainnya.
Disamping itu Ibunya yang kini berusia 70an tahun sedang sakit akibat kecelakaan dalam bekerja sebagai TKW di Malaysia 2 bulan lalu. Dengan sabar dan terus berusaha, Bu Jumani merawat Ibunya.
Bu Jumani merasa senang karena terbantu rumahnya dipugar dalam program Perkemahan Wirakarya Jawa Timur dan mendoakan semoga keberkahan melimpah bagi Pramuka Jatim.[JP-Red]
— Pewarta Berita : Rochman – Pudatin Kwartir Daerah Jawa Timur; —
Jejak Pramuka – Ibu Sumini (57), seorang penyandang tuna wicara yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Pucangan, Kecamatan Kauman, Tulungagung, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya saat rumahnya ditetapkan sebagai salah satu penerima bantuan pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur.
Ia tinggal bersama tiga saudaranya dalam satu rumah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kamar mandi, toilet, dan dapur digunakan secara bersama-sama, namun semuanya dalam kondisi yang tidak layak pakai. Lantai rumah masih berupa tanah, dinding lapuk, dan atap kerap bocor saat hujan, membuat aktivitas harian mereka penuh keterbatasan dan ketidaknyamanan.
Meskipun tidak dapat berbicara, senyum dan gerakan tangan Ibu Sumini saat menyambut tim survei menggambarkan kebahagiaan yang luar biasa. Dengan bantuan seorang warga yang biasa berkomunikasi dengannya, ia menyampaikan rasa syukurnya. “Ibu sangat bersyukur, ini seperti harapan lama yang akhirnya datang,” ucap sang penerjemah yang mendampingi.
Survei rumah Ibu Sumini dilakukan pada Selasa, 11 Juni 2025 oleh Tim Survei Kwarda Jatim Zona 4, bersama perwakilan Kwartir Cabang Tulungagung, pemerintah desa, tim teknis pembangunan, dan tim konsultan perencanaan. Program pemugaran RTLH ini merupakan bagian dari kegiatan Perkemahan Wirakarya 2025 yang akan digelar oleh Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur pada Juni–Juli 2025. Sebanyak 143 rumah tidak layak huni akan diperbaiki secara serentak di berbagai kabupaten/kota se-Jawa Timur sebagai bentuk nyata pengabdian Pramuka kepada masyarakat.
Selama proses pembangunan berlangsung, setiap kwartir cabang juga akan mengadakan berbagai kegiatan pendukung seperti pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, bersih lingkungan, bersih fasilitas umum, dan Pramuka Mengajar. Seluruh kegiatan ini melibatkan ratusan Pramuka Penegak dan Pandega di wilayah masing-masing. Melalui Perkemahan Wirakarya ini, Pramuka hadir bukan hanya sebagai pelatih keterampilan dan semangat kebangsaan, tetapi juga sebagai penggerak kepedulian sosial. Kisah Ibu Sumini menjadi salah satu potret nyata bahwa kehadiran Pramuka membawa harapan dan perubahan bagi masyarakat yang membutuhkan.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Bu Sari Wanita yang sudah berusia 77 tahun tinggal di Dusun Sukosari Desa Mencek Kecamatan Sukorambi Jember menerima bantuan Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur yang dilaksanakan survei pada Selasa, 11 Juni 2025.
Kegiatan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni ini merupakan kegiatan Perkemahan Wirakarya yang digelar serentak di seluruh wilayah Kabupaten Kota di Jawa Timur.
Di usia yang tidak muda lagi, Bu Sari yang sehari-hari sebagai buruh tani, berpenghasilan 35 ribu bekerja di sawah milik tetangganya dari pagi hingga siang dilakoni untuk mencukupi kebutuhannya. Bu Sari bersyukur dengan penghasilan 35 ribu itu ia merasa sehat dan bugar karena setiap hari ada aktivitas ke sawah.
Di Jember rencana akan dipugar sebanyak 4 unit rumah, salah satunya Bu Sari tinggal di rumah berukuran luas 38,7 meter, yang tidak memiliki kamar mandi dengan 1 lampu kecil sebagai penerangan yang numpang di aliran listrik tetangganya.
Puluhan Pramuka di wilayah Jember akan melaksanakan Bakti dalam Perkemahan Wirakarya selama 10 hari dengan membantu pembangunan rumah tersebut. Tentu selain pembangunan rumah, akan ada berbagai rangkaian kegiatan yang akan dilakukan bertajuk bakti masyarakat.
Tim Survei Kwarda Jatim terdiri sebagai Penasehat Kak Bambang Suyanto. Tim Pelaksana Kak Djaka, Kak Rochman, Kak Yusya. Turut hadir mendampingi Kwarcab Jember, Tim Konsultan Pembangunan, Pemerintah Desa Dukuh Mencek, Pemerintah Kecamatan Sukorambi, dan Koordinator Tukang.
Kak Arum Sabil Ketua Kwarda Jatim mengapresiasi kwarcab yang melaksanakan kegiatan perkemahan wirakarya ini, untuk selalu mengedepankan semangat berbakti tanpa henti mengabdi tanpa batas.
Pengabdian itu menurut Kak Arum Sabil sebagai wujud penghayatan dan pengamalan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka dalam butir menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat, serta cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur akan menggelar Perkemahan Wirakarya pada Juni-Juli 2025. Perkemahan Wirakarya menonjolkan kegiatan Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni sebanyak 143 yang tersebar di Kabupaten Kota se Jawa Timur.
Kegiatan pendukung dilaksanakan oleh setiap kwartir cabang selama pembangunan rumah berlangsung. Contohnya cek kesehatan gratis, donor darah, bersih lingkungan, bersih fasilitas umum, Pramuka mengajar, dan sebagainya. Dengan melibatkan ratusan Pramuka Penegak Pandega di wilayah kwartir.
Survei Perkemahan Wirakarya dilaksanakan oleh 4 tim yang bergerak di 4 wilayah berbeda. Tim 2 berawal di Wilayah Kwarcab Lumajang, terdapat 5 rumah yang di survei pada Senin, 10 Juni 2025.
Tim Survei Kwarda Jatim terdiri sebagai Penasehat Kak Bambang Suyanto. Tim Pelaksana Kak Djaka Santosa, Kak Achmat Maskurochman, Kak Yusya Giri Pangestu. Turut hadir Kwarcab Lumajang, Tim Konsultan Pembangunan, Pemerintah Desa Jenggrong, dan Koordinator Tukang.
Yang menarik, salah satu calon penerima pemugaran RTLH dari 5 rumah yang disurvei adalah Ibu Marti’a rumahnya bersanding langsung dengan kandang sapi, tepat berada di dalam dapurnya.
Bu Marti’a berusia 80 tahun yang berprofesi sebagai tukang pencari rumput di sawah, kebun, hutan di sekitar rumahnya. Sehari-hari ia mengerjakan dengan penuh semangat dan suka cita.
Sistem pelihara sapi itu kalau dijual, bagi hasil dengan pemilik sapi tersebut. Hasil yang tidak seberapa itu digunakan Ibu Marti’a untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Rumah yang hanya ada 1 lampu ukuran 5 watt ini menerangi rumahnya yang cukup sunyi sepi, itu pun lampu yang nunut dari listrik tetangganya. Ibu Marti’a yang tinggal sendiri di rumah tersebut mengaku senang ketika mendapatkan bantuan pemugaran rumah dari Kwarda Jatim.
“Iya senang, minta dibongkar hanya bagian rumahnya saja kandangnya biar tetap berdiri karena dari sanalah penghasilan saya” ujarnya.
Bu Marti’a meminta bagian dapur berada di depan kandang sapi pun tidak dibongkar, karena digunakan tempat penampungan sementara barang-barang perabotan rumah saat pemugaran berlangsung.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka di Indonesia, dari gugus depan hingga Kwartir Nasional, hari ini tengah menghadapi tantangan serius yang tidak dapat lagi dibiarkan berlarut-larut. Semangat luhur yang dahulu digelorakan oleh para pendiri gerakan ini tampaknya mulai memudar, terkikis oleh kompleksitas pengelolaan yang belum sepenuhnya mencerminkan visi kemandirian dan pengabdian.
Jerat Terbesar dan Akar Persoalan Utama
Salah satu jerat terbesar dan akar persoalan utama terletak pada lemahnya pengelolaan aset dan sumber daya yang dimiliki oleh satuan organik maupun organisasi pengelola gerakan Pramuka. Aset-aset penting—baik kecil maupun besar—mulai dari peralatan kegiatan di gugus depan seperti tenda, tongkat, dan perlengkapan BLS, hingga bumi perkemahan dan tenda barak milik Kwartir, sering kali tidak dikelola secara optimal. Padahal, dengan manajemen yang tepat, semua aset ini berpotensi menjadi sumber daya produktif yang mampu menopang operasional Pramuka secara mandiri, tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah atau dukungan Majelis Pembimbing.
Namun, langkah menuju kemandirian itu kerap terhambat oleh faktor kepemimpinan. Struktur kepengurusan Kwartir, dari ranting hingga nasional, masih didominasi oleh figur-figur yang menjabat karena kedudukan kedinasan, bukan karena totalitas dedikasi dan pemahaman terhadap kepramukaan. Tidak sedikit dari mereka yang “sendiko dawuh”, menjalankan amanah sekadar formalitas tanpa memperjuangkan urgensi pembinaan generasi muda yang berkelanjutan.
Ini melahirkan pola kepemimpinan yang birokratis, pasif, dan cenderung hanya “gugur kewajiban”. Para pengurus tidak lagi berpikir kritis atau memperjuangkan nilai-nilai ideal kepramukaan, tetapi hanya menjalankan kegiatan formalitas demi laporan pertanggungjawaban. Hierarki birokrasi pun membuat pengurus yang sebetulnya mumpuni menjadi enggan bersuara dan kehilangan semangat untuk berpikir kritis serta membangun gerakan sesuai idealisme sejatinya.
Relevansi Gudep Mandiri dan Kwartir Mandiri
Maka menjadi sangat relevan untuk mulai menggagas model Gudep Mandiri dan Kwartir Mandiri. Konsep ini bukan semata gagasan idealistik, tetapi merupakan kebutuhan nyata untuk menciptakan organisasi yang tangguh, berdaya saing, dan tidak rentan terhadap perubahan dinamika politik maupun kebijakan birokrasi. Melalui pengelolaan aset yang diarahkan pada kegiatan produktif dan berorientasi manfaat, gerakan Pramuka semestinya bisa berdiri di atas kakinya sendiri—tanpa kehilangan jati diri sebagai pembina karakter bangsa.
Pramuka bukan sekadar organisasi kepanduan. Ia adalah bagian dari strategi kebangsaan. Gerakan Pramuka dibentuk oleh negara, bukan oleh pemerintahan, dan berada langsung di bawah Presiden sebagaimana ditegaskan dalam Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961. Ia adalah ujung tombak Nation and Character Building yang bertujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya—beriman, bertanggung jawab, dan mencintai tanah air.
Tata Ulang Paradigma Kepemimpinan dalam Pramuka
Karena itu, penting untuk menata ulang paradigma kepemimpinan dalam Pramuka. Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: berapa banyak pemimpin di struktur kwartir saat ini yang hadir karena panggilan jiwa sebagai Pramuka sejati, dan bukan karena urusan jabatan semata? Tanpa kepemimpinan yang visioner dan paham ruh gerakan ini, pembinaan akan stagnan dan perubahan akan berjalan lamban.
Di sinilah pentingnya networking seorang pemimpin. Jaringan yang kuat mampu membuka akses terhadap berbagai sumber daya, termasuk CSR dan dana sosial yang dapat mendukung kegiatan Pramuka. Maka, pemimpin Pramuka masa kini haruslah mereka yang mampu menjalin koneksi strategis dan menghubungkannya dengan kebijakan-kebijakan progresif demi kemajuan organisasi.
Tiga Kata Kunci Bangkitkan Kembali Gerakan Pramuka
Ada tiga kata kunci untuk membangkitkan kembali gerakan Pramuka: Komunikasi, Kolaborasi, dan Kepercayaan. Komunikasi yang jujur dan terbuka sangat diperlukan untuk menyampaikan arah kebijakan serta mempromosikan kegiatan-kegiatan Pramuka kepada publik. Kolaborasi lintas sektor akan memperkuat peran Pramuka dalam menjawab tantangan kebangsaan. Dan kepercayaan—baik secara moral maupun legal—harus menjadi landasan utama setiap pengurus dalam menjalankan tugasnya.
Lebih lanjut, gerakan Pramuka juga perlu mengembangkan sub-unit nirlaba sebagai pilar kemandirian. Badan usaha gudep dan kwartir, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta pusat data dan informasi, bisa menjadi tulang punggung ekonomi organisasi jika dikelola secara profesional. Hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan telah dikuatkan dalam Keputusan Munas XI Tahun 2023 tentang Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
Mari bangun Pramuka yang berdikari, berdaya, dan berpengaruh
Kini saatnya bagi gerakan Pramuka untuk tidak lagi sekadar berjalan, tetapi berlari mengejar ketertinggalannya. Dengan semangat kemandirian, kepemimpinan yang kuat, dan manajemen organisasi yang modern, Pramuka bisa kembali menjadi garda terdepan pembentukan karakter bangsa yang sejati. Jangan biarkan warisan para pendiri kita luntur oleh ketidakmampuan dan ketidakpedulian. Mari bangun Pramuka yang berdikari, berdaya, dan berpengaruh — untuk Indonesia yang lebih tangguh dan berkarakter.[Red]
Catatan Penulis : Tulisan ini merupakan hasil diskusi bersama kak Ganet Budi Utomo – Mantan Kapusdiklatnas Gerakan Pramuka disela-sela Ngopi Pagi di Kantin Polkesbaya Eatery Surabaya (Selasa, 10/06/2025). Disarikan dengan tidak ada maksud menyinggung siapapun dan pihak manapun, namun lebih sebagai Inspirasi yang menggugah setiap pribadi yang peduli;
Ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya ekonomi. Namun, untuk mewujudkan kemandirian gerakan ini secara nyata, pengelolaan aset dan pendanaan perlu dilakukan secara lebih profesional dan berkelanjutan. Inilah saat yang tepat bagi kwartir maupun gugus depan untuk berani melangkah membentuk Badan Usaha sebagai upaya mewujudkan kemandirian organisasi.
Dasar Hukum yang Kuat
Pembentukan badan usaha oleh kwartir dan gugus depan sejatinya bukan gagasan baru. Landasan hukumnya telah jelas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Pada Pasal 32 disebutkan bahwa kwartir dan gugus depan sesuai tingkatannya dapat membentuk berbagai organisasi pendukung, termasuk badan usaha. Ini diperkuat kembali dalam Keputusan Munas XI Gerakan Pramuka Tahun 2023 Nomor: 7/Munas/2023, yang secara eksplisit menyatakan bahwa badan usaha adalah bagian integral dari kwartir.
Tidak hanya memiliki legalitas, keberadaan badan usaha juga memiliki fungsi strategis sebagaimana diatur dalam Pasal 46 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yaitu sebagai wadah pengembangan usaha dalam rangka mendukung pendanaan Gerakan Pramuka. Kepala badan usaha dapat berasal dari anggota dewasa Gerakan Pramuka maupun kalangan profesional, dengan tanggung jawab langsung kepada ketua kwartir.
Mengelola Aset Secara Mandiri dan Profesional
Selama ini, pendanaan Gerakan Pramuka sangat bergantung pada iuran anggota, bantuan majelis pembimbing, sumbangan tidak mengikat, serta dukungan pemerintah melalui APBN atau APBD. Ketergantungan semacam ini, meskipun sah secara hukum, menyulitkan keberlangsungan program jika sewaktu-waktu dukungan tersebut berkurang. Oleh karena itu, sudah saatnya kwartir maupun gugus depan berdiri di atas kaki sendiri melalui pengelolaan aset dan potensi secara mandiri.
Melalui badan usaha, Pramuka dapat mengembangkan unit-unit usaha yang bersifat otonom, seperti penyewaan perlengkapan kemah, pengelolaan bumi perkemahan, produksi merchandise Pramuka, hingga pemanfaatan potensi kewirausahaan para anggotanya. Pasal 59 dan Pasal 127 Anggaran Rumah Tangga secara tegas menyebutkan bahwa sumber keuangan Gerakan Pramuka juga berasal dari usaha dana dan badan usaha.
Menjawab Tantangan Masa Depan Gerakan Pramuka
Masa depan Gerakan Pramuka ditentukan oleh kemampuannya untuk terus hidup, tumbuh, dan memberi manfaat kepada anggotanya. Dalam era kompetisi dan digitalisasi saat ini, organisasi yang tidak memiliki sistem pengelolaan keuangan mandiri akan tertinggal. Karena itu, pembentukan badan usaha bukan hanya legal, tetapi juga strategis dan mendesak.
Di sisi lain, pendekatan profesional perlu diterapkan. Badan usaha yang dibentuk oleh kwartir atau gugus depan harus dikelola oleh orang-orang yang memiliki kompetensi manajerial, memiliki akuntabilitas tinggi, dan menjunjung etika Pramuka.
Kesimpulan: Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian
Kemandirian bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan. Dengan landasan hukum yang kuat dan peluang usaha yang terbuka, saatnya kwartir dan gugus depan Gerakan Pramuka membentuk badan usaha yang sehat dan berdaya saing. Langkah ini menjadi bentuk nyata Gerakan Pramuka dalam menjawab tantangan zaman dan menunjukkan bahwa nilai-nilai Trisatya dan Dasa Dharma tidak hanya hidup dalam upacara, tetapi juga dalam praktik pengelolaan organisasi yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.[JP-Red]
Ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;
Jejak Pramuka – Kwartir Ranting (Kwarran) Banyuwangi sukses menggelar Musyawarah Penegak dan Pandega Putri Putra (Musppanitera) Ranting sebagai ajang regenerasi kepengurusan Dewan Kerja Ranting (DKR) Banyuwangi. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Korwilkersatdik Kecamatan Banyuwangi, pada Minggu (8/6/2025), dengan dihadiri 17 Pramuka Penegak dan Pandega dari berbagai gugus depan di lingkungan Kwarran Banyuwangi.
Musppanitera resmi dibuka oleh Sekretaris Kwarran Banyuwangi, Kak M. Syafiil Anam. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keikutsertaan dalam organisasi Dewan Kerja merupakan langkah awal yang strategis dalam membentuk kader pemimpin masa depan.
“Mengikuti organisasi Dewan Kerja adalah salah satu bekal awal untuk menjadi kader pemimpin,” ujarnya.
Kak Anam juga membagikan pengalamannya yang dimulai dari DKR Banyuwangi hingga kini menjabat sebagai Sekretaris Kwarran. Ia menyampaikan optimismenya terhadap potensi besar yang dimiliki Kwarran Banyuwangi.
“Prospek Pramuka di Kwarran Banyuwangi sangat besar karena semua gugusdepannya lengkap, dari Siaga hingga Pandega. Saya berharap Ketua DKR terpilih segera menyusun program kerja yang mampu mewarnai kegiatan Kwarran, khususnya bagi Pramuka Penegak dan Pandega,” jelasnya.
Dalam Musppanitera tersebut, Muhammad Samir Adegel resmi terpilih sebagai Ketua DKR Banyuwangi yang baru. Dalam pernyataannya, Samir menegaskan komitmennya untuk memperkuat komunikasi dan membangun hubungan persaudaraan antar gugus depan dan kwartir melalui pendekatan yang lebih santai dan akrab.
“Prioritas kami adalah melanjutkan program DKR yang tertunda akibat berbagai macam kendala sebelumnya. Kami akan memulai dengan kegiatan yang sudah ada, sambil menyesuaikannya dengan minat anggota Penegak dan Pandega,” tegas Samir.
Ia juga menyampaikan harapannya agar DKR Banyuwangi terus berkembang sebagai wadah yang inspiratif dan berprestasi demi kemajuan Gerakan Pramuka di Banyuwangi.[JP-Red]
— Kontributor Berita : M. C. Huda – Pramuka Kwartir Cabang Banyuwangi; —
Jejak Pramuka – Kwartir Ranting (Kwarran) Jabon mendapatkan kepercayaan mengikuti Lomba Kwartir Ranting Tergiat se-Jawa Timur. Hal ini didahului dengan mengikuti Zoom Meeting dari Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur terkait persiapan lomba tersebut dengan pendampingan oleh Kwartir Cabang Sidoarjo, Sabtu (07/06/2025).
Undangan ini menjadi kejutan besar sekaligus kehormatan luar biasa, karena Kwarran Jabon dipercaya untuk mewakili Kwartir Cabang (Kwarcab) Sidoarjo dalam ajang bergengsi tingkat provinsi. Momentum tak terduga ini segera disambut dengan semangat tinggi oleh jajaran Andalan, Mabigus, dan para Pembina Pramuka di wilayah Jabon.
Hanya dalam waktu singkat, berbagai pertemuan intensif pun dilaksanakan selama empat hari berturut-turut. Tim dari Kwarcab Sidoarjo turut hadir memberi pendampingan, antara lain Kak Mariono Subagyo, S.H., M.H., Kak Fatoni, S.Soso dan Kak Nurul Djauhariyah, SE., MM. Suasana kerja sama terasa hangat dan solid, menghasilkan langkah-langkah strategis untuk menyiapkan Kwarran Jabon menghadapi penilaian.
Lomba Kwartir Ranting Tergiat ini adalah yang pertama kalinya diadakan oleh Kwarda Jawa Timur. Setiap kwartir peserta harus mengirimkan penilaian diri paling lambat tanggal 20 Juni 2025. Dokumen tersebut akan menjadi dasar seleksi awal sebelum tim penilai menentukan peringkat 10 besar.
Sebagai bagian dari kelengkapan penilaian, Kwarran Jabon juga diwajibkan mengirimkan video dokumentasi berdurasi maksimal lima menit. Video tersebut harus memuat berbagai aspek penting, antara lain identitas Kwartir, dokumentasi kegiatan dalam bentuk foto dan video, kondisi sekretariat, aktivitas pembinaan di Gugus Depan (Gudep), daftar prestasi yang pernah diraih, keterlibatan Kwarran dalam kegiatan masyarakat, serta informasi pendukung lainnya yang menunjukkan tingkat keaktifan dan kualitas pengelolaan organisasi secara menyeluruh.
Setelah klarifikasi dokumen dilakukan oleh panitia, akan dipilih 10 Kwarran terbaik. Dari sana, disaring lagi menjadi 6 terbaik yang akan mendapatkan kunjungan langsung dari Tim Penilai Kwarda Jawa Timur ke sekretariat masing-masing.
“Kami memohon dukungan dan doa dari seluruh warga Kwarran Jabon. Semoga usaha dan persiapan kami bisa diterima baik oleh tim penilai. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini adalah jalan bagi kami untuk belajar, berkembang, dan meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi kepramukaan di Jabon,” ujar salah satu pengurus Kwarran dengan penuh harap.[JP-Red]
— Kontributor Berita :Warno – Andalan Ranting Jabon —
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka memiliki nilai istimewa yang membedakannya dari banyak organisasi lainnya. Salah satu kekuatan utamanya adalah keterbukaan—organisasi ini tidak memberlakukan batasan ketat bagi siapa pun yang ingin bergabung. Dengan sistem penggolongan usia yang jelas, anggota Pramuka terbagi menjadi dua kelompok besar: anggota muda (usia 7–25 tahun) dan anggota dewasa (di atas 25 tahun).
Menariknya, tidak ada keharusan bagi seseorang untuk memulai dari tingkatan paling dasar. Setiap individu dapat berproses sesuai usia dan kesiapan masing-masing. Namun, apakah fleksibilitas ini merupakan kekuatan, atau justru menyimpan potensi kelemahan?
Mari kita telaah dari sudut pandang pengelolaan organisasi
Dalam struktur organisasi seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Republik Indonesia (Polri), setiap posisi strategis hanya bisa ditempati melalui proses jenjang dan seleksi yang ketat. Setiap personel dibina secara sistematis agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya.
Berbeda dengan Gerakan Pramuka. Di sini, proses seleksi tidak seketat institusi militer atau kepolisian. Siapa pun yang memiliki niat dan keikhlasan untuk memimpin, misalnya di tingkat kwartir, bisa saja terpilih—selama mendapat kepercayaan dari para anggota. Ini mencerminkan semangat keterbukaan dan keadilan yang menjadi jiwa Gerakan Pramuka.
Namun, di balik keunggulan itu, tersimpan potensi tantangan. Keterbukaan tanpa seleksi yang memadai dapat menjadi masalah ketika seseorang dipercaya memimpin namun tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang organisasi. Dalam konteks manajemen modern, prinsip “The Right Man in the Right Place” menjadi sangat relevan. Pemimpin yang tidak tepat dapat menjadi titik lemah dalam suatu masa kepengurusan.
Pahami Cita-cita dan Arah Gerak Organisasi
Oleh karena itu, memahami cita-cita dan arah gerak organisasi secara menyeluruh adalah sebuah keharusan. Kita perlu menyadari posisi dan peran kita, lalu menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Komitmen untuk terus belajar, mengembangkan wawasan, dan meningkatkan kapasitas diri menjadi hal yang mutlak. Organisasi membutuhkan pribadi-pribadi yang tidak hanya hadir, tetapi juga tumbuh dan memberi kontribusi nyata.
Sebaliknya, jika merasa belum siap atau belum mampu menjalankan amanah dengan baik, maka keputusan paling bijak adalah mengundurkan diri sejak awal. Memberi ruang bagi sosok yang lebih kompeten bukanlah kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap keberlangsungan organisasi. Sebab, jika dipaksakan, kehadiran kita justru bisa menjadi beban—bahkan ibarat parasit—yang menghambat laju organisasi yang ingin terus maju.[JP-Red]
— Penulis Opini :Hengky Firmansyah, S. Pd. – Pelatih Pusdiklatcab Kwarcab Banyuwangi —