Jejak Pramuka — Dewan Kerja Ranting (DKR) Sukodono sukses menyelenggarakan Musyawarah Pramuka Penegak dan Pandega Puteri Putera atau MUSPPANITERA 2026 pada Sabtu (25/04/2026) di SMK Yahari Sukodono. Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah kebijakan serta regenerasi kepemimpinan Pramuka Penegak dan Pandega di tingkat ranting.
Dalam pelaksanaannya, Dewan Kerja Cabang (DKC) Sidoarjo turut hadir sebagai peninjau sekaligus penasihat musyawarah. Perwakilan DKC Sidoarjo, Kak Qeenar dan Kak Rani, mengikuti jalannya kegiatan sebagai bentuk dukungan dan pendampingan terhadap penguatan kapasitas organisasi Dewan Kerja di wilayah Kwartir Cabang Sidoarjo.
MUSPPANITERA 2026 diikuti oleh perwakilan Pramuka Penegak dan Pandega dari berbagai SMA dan SMK di wilayah Kwartir Ranting Sukodono, termasuk dari SMK Yahari Sukodono sebagai tuan rumah. Kehadiran para peserta mencerminkan antusiasme generasi muda dalam berpartisipasi aktif membangun organisasi kepramukaan yang lebih progresif dan berdampak.
Selama musyawarah berlangsung, peserta membahas berbagai agenda penting, di antaranya evaluasi program kerja sebelumnya serta perumusan program kerja baru yang lebih strategis, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Berbagai gagasan dan aspirasi yang disampaikan turut mewarnai dinamika sidang dengan semangat kebersamaan dan demokrasi.
Puncak kegiatan ditandai dengan sidang pemilihan yang menetapkan Kak Mohammad Aditya Saputra sebagai Ketua Dewan Kerja Ranting Sukodono masa bakti 2026–2028. Terpilihnya Kak Aditya disambut penuh optimisme sebagai pemimpin baru yang diharapkan mampu membawa DKR Sukodono semakin berkembang dan memberikan kontribusi nyata.
Perwakilan DKC Sidoarjo, Kak Qeenar, dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap MUSPPANITERA ini menjadi titik awal penguatan organisasi serta meningkatkan peran DKR Sukodono dalam membina Pramuka Penegak dan Pandega di wilayahnya. “Kami dari DKC Sidoarjo akan terus mendukung dan mendampingi setiap langkah pengembangan organisasi,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan MUSPPANITERA 2026, diharapkan DKR Sukodono semakin solid, adaptif, dan mampu menjadi wadah pembinaan generasi muda yang berkarakter, berjiwa kepemimpinan, serta memiliki kepedulian sosial. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat sinergi dan persaudaraan antaranggota Pramuka di wilayah Sukodono dan sekitarnya.[JP-Red]
— Kontributor Berita : Qannaya Qeenar Prameswara I DKC Sidoarjo; —
Jejak Pramuka — Pramuka Pangkalan SMA Negeri 4 Sidoarjo (SMAN 4 Sidoarjo) kembali melaksanakan program kerja unggulannya bertajuk Goes to Pangkalan yang kali ini digelar di SDN Bangsri, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, (25/04/2026). Kegiatan ini diikuti oleh anggota Pramuka SMAN 4 Sidoarjo dengan sasaran siswa-siswi sekolah dasar yang aktivitas kepramukaannya masih perlu penguatan.
Program Goes to Pangkalan bertujuan untuk menumbuhkan kembali semangat kepramukaan sejak dini, sekaligus memberikan pembelajaran dasar yang menyenangkan dan edukatif bagi peserta didik. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pengabdian anggota Pramuka kepada masyarakat melalui berbagi ilmu dan pengalaman.
Kegiatan diawali dengan apel pembukaan yang berlangsung tertib dan penuh semangat. Seluruh peserta dan panitia mengikuti rangkaian pembukaan sebagai tanda dimulainya kegiatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pembina Pramuka SDN Bangsri Sukodono serta ketua pelaksana kegiatan yang menyampaikan harapan agar kegiatan ini mampu meningkatkan minat siswa terhadap Pramuka.
Memasuki sesi inti, peserta mendapatkan materi dasar kepramukaan berupa tali-temali dan semaphore. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif, di mana panitia tidak hanya menjelaskan, tetapi juga langsung mendampingi siswa dalam praktik. Metode ini membuat siswa lebih mudah memahami materi serta meningkatkan keterlibatan mereka selama kegiatan berlangsung.
Suasana semakin meriah saat sesi permainan atau games. Berbagai permainan edukatif disuguhkan untuk melatih kerja sama tim, kekompakan, dan kepercayaan diri. Antusiasme siswa terlihat jelas dari semangat dan keceriaan mereka dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan.
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi memories yang menjadi momen berkesan bagi seluruh peserta. Dalam sesi ini, siswa-siswi melakukan cap tangan menggunakan cat air pada selembar kain putih sebagai simbol kebersamaan dan kenang-kenangan dari kegiatan tersebut.
Melalui kegiatan Goes to Pangkalan ini, diharapkan siswa-siswi SDN Bangsri Sukodono dapat lebih mengenal, memahami, dan mencintai kegiatan Pramuka. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi anggota Pramuka SMAN 4 Sidoarjo dalam mengasah kepedulian, tanggung jawab, serta kemampuan berinteraksi sosial. Ke depan, diharapkan kegiatan kepramukaan di SDN Bangsri dapat semakin aktif dan berkembang secara berkelanjutan.[JP-Red]
— Kontributor Berita : Aisyah Kasih Diwirya I Panitia Goes to Pangkalan; —
Jejak Pramuka — Pramuka Pangkalan SMA Negeri 4 Sidoarjo (SMANIVDA) menggelar kegiatan Latihan Gabungan (Latgab), Jum’at 24/04/2026. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pangkalan Pramuka di wilayah Kwartir Ranting Sidoarjo. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan SMA Negeri 4 Sidoarjo sebagai upaya mempererat persaudaraan sekaligus meningkatkan keterampilan kepramukaan para peserta.
Kegiatan diawali dengan kedatangan dan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan sesi pembukaan serta penyampaian materi. Pada Latgab kali ini, materi yang diangkat adalah keterampilan menganyam, khususnya pembuatan gelang dari bahan sederhana.
Memasuki sesi inti, peserta mendapatkan pembelajaran teknik dasar menganyam, mulai dari pengenalan bahan, penyusunan pola, hingga proses pembuatan gelang secara bertahap. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan menyenangkan. Para peserta tampak antusias berdiskusi, bekerja sama, serta menuangkan kreativitas mereka dalam menghasilkan karya anyaman.
Selain memperoleh keterampilan baru, peserta juga diberi ruang untuk mengembangkan desain gelang sesuai ide masing-masing. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan tangan, tetapi juga mengasah ketelitian, kesabaran, serta kreativitas peserta. Di sisi lain, Latgab ini menjadi sarana memperkuat kebersamaan, solidaritas, dan kerja sama antaranggota Pramuka dari berbagai pangkalan.
Pembina Gugus Depan Pangkalan SMA Negeri 4 Sidoarjo, Amiliya Hidayati, S.Pd., menyampaikan harapannya agar kegiatan Latihan Gabungan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga wadah untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, serta membentuk karakter anggota Pramuka yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dibagikan kembali kepada anggota di pangkalan masing-masing,” ujarnya.
Kegiatan Latihan Gabungan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai penanda kebersamaan dan kenangan yang terjalin selama kegiatan berlangsung.
Melalui kegiatan ini, Pramuka SMANIVDA berharap dapat menumbuhkan semangat berkarya, meningkatkan kecakapan hidup (life skill), serta mempererat hubungan antaranggota Pramuka di wilayah Sidoarjo. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pengamalan nilai-nilai kepramukaan, seperti kerja sama, kreativitas, dan semangat pantang menyerah.[JP-Red]
— Kontributor Berita : Nailah Arsa Faustina – Panitia Latihan Gabungan —
Jejak Pramuka – Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara Daerah Istimewa Yogyakarta (Sako SPN DIY) menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer (TOT) pada Sabtu, 25 April 2025. Kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren Mahasiswa Graha Cendekia, Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Pelatihan ini diikuti oleh para pengurus dan pembina Sako SPN se-DIY, serta Dewan Muda Daerah. Mengusung tema “Mari Berkarya Bersama dan Menjadi Insan Berguna bagi Bangsa”, kegiatan ini menjadi wadah peningkatan kompetensi sekaligus penguatan semangat dalam kegiatan kepanduan.
Ketua Sako SPN DIY, Kak Sarjito, L.M.T., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para pembina agar lebih aktif, kreatif, dan berdaya dalam membina generasi muda melalui kegiatan pramuka.
Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat serta memperluas literasi dan wawasan kepramukaan bagi para peserta.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari tiga narasumber yang berkompeten di bidangnya. Materi pertama disampaikan oleh Kak Sarjito, L.M.T. tentang administrasi Gugus Depan (Gudep).
Selanjutnya, Kak Sumiyati, S.Pd., menyampaikan materi mengenai penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Sementara itu, Kak Faqih Arif membawakan materi tentang penerapan metode pramuka dalam penanaman karakter luhur.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para pembina Sako SPN DIY mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam pembinaan sehari-hari, sehingga dapat mencetak generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan bermanfaat bagi bangsa.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur terus memperkuat implementasi program Pramuka Produktif dengan menjajaki kerja sama di sektor energi terbarukan. Upaya ini ditandai melalui kunjungan resmi ke PT Santinilestari Energi Indonesia di Pasuruan Jawa Timur, Kamis (23/4/2026), hal ini sebagai bagian dari langkah konkret menghadirkan program kepanduan yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Kunjungan tersebut menjadi momentum strategis dalam mempertemukan dunia pendidikan kepanduan dengan sektor industri berbasis teknologi dan keberlanjutan. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi program yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga aplikatif serta berdampak langsung bagi masyarakat.
Rombongan Kwarda Jatim dipimpin oleh Wakil Ketua I Bidang Satuan Karya dan Pramuka Produktif Kwarda Jatim, Kak Dr. H. A. Basuki Babussalam, S.H., M.H.. Turut hadir Sekretaris Kwarda Jawa Timur, Kak Bambang Suyanto, S.H., S.Sos., M.Si., serta jajaran pengurus lainnya, yakni Kak Masul Hadi, Kak Yacob, Kak Rochman, dan Kak Yusya. Kehadiran mereka disambut langsung oleh Direktur PT Santinilestari Energi Indonesia, Sandy Hartono, beserta tim manajemen perusahaan.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat kolaboratif. Kedua belah pihak berdiskusi mengenai potensi kerja sama dalam pengembangan energi terbarukan yang dapat melibatkan anggota Pramuka, mulai dari tahap edukasi hingga implementasi di lapangan.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gerakan Pramuka Jawa Timur 2026 yang diselenggarakan pada 20 April 2026. Dalam forum tersebut, pengembangan energi terbarukan ditetapkan sebagai salah satu prioritas utama dalam program Pramuka Produktif, seiring meningkatnya kebutuhan akan energi ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Wakil Ketua I Bidang Satuan Karya dan Pramuka Produktif Kwarda Jatim, Kak Dr. H. A. Basuki Babussalam, S.H., M.H., menegaskan, bahwa penjajakan kerja sama ini menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem pembelajaran berbasis praktik bagi anggota Pramuka.
“Kami ingin Pramuka tidak hanya menjadi organisasi yang kuat dalam karakter dan kedisiplinan, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Salah satunya melalui pengembangan energi terbarukan,” ujarnya.
Kak Basuki menambahkan, bahwa kerja sama ini diharapkan mampu membuka ruang pelatihan, pendampingan, serta pengembangan proyek-proyek sederhana berbasis energi terbarukan di tingkat gugus depan.
“Harapannya, adik-adik Pramuka bisa belajar langsung, misalnya membuat panel surya sederhana, mengelola energi alternatif di lingkungan sekolah, hingga memahami konsep keberlanjutan secara nyata,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Kwarda Jawa Timur, Kak Bambang Suyanto, S.H., S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya transformasi Gerakan Pramuka agar tetap relevan di era perkembangan teknologi yang begitu pesat.
“Gerakan Pramuka harus mampu beradaptasi dan mengambil peran dalam isu-isu global. Energi terbarukan bukan hanya tren, tetapi kebutuhan masa depan. Karena itu, kami akan mendorong program ini menjadi gerakan yang masif dalam lima tahun ke depan,” ungkapnya.
Menurut Kak Bambang, integrasi antara pendidikan karakter khas Pramuka dengan penguasaan teknologi akan menjadi kekuatan baru dalam mencetak generasi muda yang unggul dan berdaya saing.
“Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai inovasi dari anggota Pramuka, seperti pemanfaatan energi surya, biogas, hingga teknologi ramah lingkungan lainnya yang sesuai dengan potensi daerah masing-masing,” ungkapnya.
Lanjut Kak Bambang, langkah ini sekaligus mempertegas peran Gerakan Pramuka sebagai agen perubahan dalam mendukung isu-isu strategis, seperti ketahanan energi, pelestarian lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan kolaboratif, Pramuka diharapkan tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga subjek yang aktif menciptakan solusi.
“Melalui sinergi dengan berbagai pihak, termasuk sektor industri, Kwarda Jawa Timur optimistis program Pramuka Produktif akan semakin berkembang dan memberikan dampak nyata. Tidak hanya bagi anggota Pramuka, tetapi juga bagi masyarakat luas dalam mendorong terciptanya masa depan yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.
Dari sisi industri, Direktur PT Santinilestari Energi Indonesia, Sandy Hartono, menyambut positif inisiatif yang dibawa Kwarda Jatim. Ia menilai kolaborasi ini memiliki potensi besar untuk menciptakan dampak sosial yang luas.
“Kami melihat ini sebagai peluang yang sangat baik. Pramuka memiliki jaringan yang kuat hingga ke tingkat akar rumput. Jika dipadukan dengan teknologi energi terbarukan, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kesiapan perusahaan untuk mendukung dalam bentuk pelatihan, transfer pengetahuan, hingga kemungkinan pengembangan proyek bersama.
“Kami siap mendukung. Ke depan, kita bisa merumuskan bentuk kerja sama yang konkret, baik dalam bentuk pelatihan, program percontohan, maupun kegiatan edukasi berbasis lapangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kwarda Pramuka Jawa Timur, Kak H.M. Arum Sabil, S.P., S.H., M.KL., dalam pernyataan sebelumnya menegaskan, bahwa pengembangan energi terbarukan merupakan bagian penting dari transformasi besar dalam program Pramuka Produktif.
“Energi terbarukan menjadi bagian strategis dalam membangun Pramuka yang produktif, inovatif, dan peduli terhadap lingkungan. Ini bukan hanya program, tetapi gerakan untuk masa depan,” tegasnya.
Menurut Kak Arum, Pramuka harus hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan global, termasuk krisis energi dan perubahan iklim, melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
“Ke depan, program pengembangan energi terbarukan ini dirancang untuk dapat diimplementasikan hingga tingkat gugusdepan. Bentuk kegiatannya meliputi edukasi berbasis kurikulum nonformal, praktik lapangan, hingga pengembangan teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” tuturnya.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Pramuka Santri Pondok Pesantren Bustanul Ulum Mlokorejo, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, sukses menyelenggarakan ajang bergengsi Kompetisi Penggalang Aktif dan Kreatif (KOMPAK) III Tahun 2026 pada Sabtu (18/04). Acara yang berlangsung meriah ini menjadi wadah bagi ratusan pramuka penggalang untuk mengasah keterampilan, kreativitas, dan sportivitas dalam bingkai nilai-nilai pesantren.
Kegiatan secara resmi dibuka melalui upacara pembukaan yang dipimpin oleh Dr. KH. Robithul Firdaus, Ph.D. Dalam amanatnya, beliau menekankan bahwa pramuka di lingkungan Bustanul Ulum bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan kegiatan unggulan yang menjadi pilar pembentuk karakter santri. Beliau juga berpesan agar seluruh peserta senantiasa berkomitmen mengamalkan Dasadarma Pramuka sebagai landasan moral dalam menuntut ilmu.
Upacara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan satuan pendidikan setempat, di antaranya Kamabigus SMA Bustanul Ulum, Syafiudin, S.Pd.I., M.Pd., serta Kamabigus SMP Bustanul Ulum, Nur Aini, S.Pd. Kehadiran para tokoh pendidikan ini menegaskan dukungan penuh lembaga terhadap pengembangan kepramukaan yang adaptif terhadap perkembangan zaman namun tetap memegang teguh identitas santri.
Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi dengan total kehadiran mencapai 580 peserta yang berasal dari 15 SD/MI dan 14 SMP/MTs. Selain para peserta, tercatat sebanyak 58 pembina pendamping turut hadir mengawal jalannya kompetisi.
Berbagai lomba menarik pun digelar secara intensif dalam satu hari penuh, mulai dari ketangkasan fisik seperti Scout Warrior, Jungle Cook Challenge hingga uji kreativitas melalui Kaligrafi Kontemporer dan lomba Yel-Yel. Melalui momentum ini, Pesantren Bustanul Ulum membuktikan peran aktifnya dalam mengawal kegiatan kepemudaan guna memperkuat karakter bangsa, khususnya melalui gerakan pramuka.
Selain sebagai ajang kompetisi, Pramuka Bustanul Ulum berupaya memperkenalkan wajah pesantren yang humanis dan visioner kepada khalayak umum. Seluruh rangkaian ditutup dengan pembagian hadiah dan pesan hangat untuk kembali bersua pada ajang KOMPAK IV tahun 2027 mendatang.
— Pewarta : Rich – Tim Media Kwarda Jatim | Foto: Humas Pramuka Bustanul Ulum Mlokorejo;
Jejak Pramuka – Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan; ia adalah rahim bagi peradaban Islam di Nusantara. Jauh sebelum sistem klasikal kolonial menginjakkan kaki di tanah ini, pesantren telah berdiri kokoh dengan lima pilar utamanya: kiai, santri, masjid, asrama, dan kitab kuning. Sejarah mencatat bahwa dari bilik-bilik bambu inilah, karakter bangsa ditempa melalui kedalaman ilmu agama dan kemandirian hidup.
Namun, seiring berjalannya waktu, institusi tertua di Indonesia ini dihadapkan pada arus baru yang merangsek masuk ke dalam gerbangnya: Gerakan Pramuka. Sebuah identitas yang kini melahirkan fenomena unik: Santri yang ber-Hasduk. Ia berdiri di antara ketaatan pada tradisi dan ketangkasan hidup di alam terbuka, tepat di tengah kepungan disrupsi zaman yang kian riuh.
Antara Tradisi dan Ketangkasan
Bagi banyak kalangan, pesantren adalah benteng terakhir penjaga tradisi. Fokus utamanya jelas: Tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama. Maka, ketika Pramuka masuk ke lingkungan pesantren, ia disambut dengan kacamata yang beragam. Ada yang menjadikannya “menu penyegar” agar santri tidak jenuh, namun tak sedikit pula yang memandangnya dengan skeptis sebagai kegiatan tambahan yang berisiko menggerus waktu produktif mengaji.
Padahal, jika kita mau menilik lebih dalam, tidak ada jurang pemisah antara Hasduk dan Sarung. Dasa Darma bukan sekadar hafalan untuk syarat kenaikan tingkat, melainkan manifestasi nyata dari Akhlaqul karimah. Menolong sesama hidup adalah implementasi dari Hablum minannas.
Disiplin, berani, dan setia adalah sifat-sifat yang juga ditekankan oleh para mahaguru seperti KH Hasyim Asy’ari dengan corak pengabdiannya yang kental, maupun KH Ahmad Dahlan dengan spirit pembaruan dan kemandiriannya.
Melawan “Brain Rot” dengan Jihad Pangan
Tantangan zaman hari ini bergeser dari fisik menuju mental. Fenomena brain rot yang memicu kedangkalan berpikir akibat konsumsi konten instan, serta ketergantungan berlebih pada Kecerdasan Buatan (AI), adalah musuh nyata bagi ketajaman intelektual santri. Di sinilah Pramuka hadir sebagai antidote (penawar) melalui aksi nyata, salah satunya dalam isu Ketahanan Pangan.
Di saat layar gawai menawarkan simulasi, Pramuka menawarkan realitas: tanah yang becek dan benih yang harus dirawat. Isu ketahanan pangan bukanlah sekadar tugas teknis petani, melainkan jihad modern bagi santri. AI mungkin bisa merangkumkan teori pertanian, namun ia tidak bisa mengajarkan santri bagaimana peluh keringat saat mengolah lahan di pesantren atau bagaimana ketangguhan mental saat menghadapi gagal panen.
Melalui Pramuka, santri membuktikan bahwa kesalehan spiritual harus dibarengi dengan kedaulatan perut bangsa. Inilah bentuk nyata melawan brain rot: mengganti waktu luang yang sia-sia di media sosial dengan produktivitas di lahan-lahan pertanian pesantren.
Menu Pilihan, Bukan Beban Paksaan
Tentu, kita harus bersikap proporsional dalam memandang hal ini. Menjadikan Pramuka sebagai kewajiban mutlak yang dipaksakan secara seragam di seluruh pesantren bukanlah langkah yang bijak. Setiap pesantren memiliki kedaulatan kultur dan spesialisasi keilmuan yang berbeda-beda.
Pesantren dengan corak Hasyimiyah mungkin akan mewarnai kepanduan mereka dengan sentuhan adab, khidmah, dan penghormatan mendalam pada nilai-nilai lokal. Sementara pesantren dengan corak Dahlaniah akan lebih menonjolkan sisi organisasi yang sistematis, rasional, dan kemandirian ekonomi umat.
Biarkan keragaman ini tumbuh secara organis. Pramuka bukanlah kebutuhan mendesak bagi pesantren, namun ia adalah tawaran menu yang sangat bergizi bagi mereka yang ingin mencetak generasi “Alim yang Tangkas”.
Menjadi Penunjuk Jalan dan Perekat Sosial
Di persimpangan tantangan zaman dan pemikiran ini, santri yang memilih untuk ber-Pramuka tidak perlu merasa inferior. Hasduk yang melingkar di leher dan sarung yang membalut kaki adalah simbol bahwa seseorang bisa menjadi religius tanpa harus kaku, dan bisa menjadi modern tanpa harus kehilangan jati diri.
Lebih dari sekadar media dakwah di atas mimbar, integrasi nilai pesantren dan kepanduan ini menempatkan santri sebagai garda terdepan dalam menjaga interaksi sosial. Di lapangan Pramuka, santri belajar untuk tidak eksklusif; mereka dilatih untuk bersinggungan, bekerja sama, dan berempati dengan lapisan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Inilah peran strategis yang dibutuhkan bangsa: santri yang tidak hanya jago berdalil, tapi juga mampu menjadi jembatan di tengah sekat-sekat perbedaan.
Pramuka di pesantren tidak hadir untuk mengubah santri menjadi sekadar aktivis lapangan, melainkan untuk memastikan bahwa setelah lulus nanti, mereka hadir sebagai pemimpin yang solutif, inklusif, dan berdaulat secara pangan. Di situlah esensi sejati dari persimpangan ini: bukan untuk memilih salah satu jalan, tapi untuk membangun jalan baru yang lebih bermartabat bagi masa depan bangsa yang majemuk.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Pramuka Jawa Timur terus memperkuat peran strategisnya dalam aksi kemanusiaan dengan menyiapkan program inovatif Mobil Dapur Umum Layanan Masyarakat. Program ini dirancang sebagai solusi cepat dan adaptif untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak bencana di berbagai wilayah.
Inisiatif tersebut menjadi salah satu langkah konkret Pramuka Jawa Timur dalam merespons meningkatnya kompleksitas penanganan bencana, baik bencana alam maupun nonalam, yang kerap menimbulkan persoalan distribusi logistik, terutama makanan siap saji bagi para penyintas.
Ketua Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Jawa Timur, Kak Yusya Giri Pangestu, S.Ikom., menjelaskan bahwa mobil dapur umum ini akan difungsikan sebagai unit layanan bergerak yang mampu menjangkau lokasi terdampak secara cepat, termasuk daerah yang sulit diakses akibat kerusakan infrastruktur maupun kondisi geografis.
“Selama ini, tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan distribusi makanan dalam waktu cepat. Dengan mobil dapur umum ini, Pramuka bisa langsung hadir di titik terdampak dan menyediakan makanan yang layak, higienis, dan bergizi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Kak Yusya, konsep dapur umum bergerak ini dirancang tidak hanya untuk kecepatan, tetapi juga fleksibilitas dan kemandirian operasional. Mobil akan dilengkapi dengan peralatan memasak lapangan, sistem penyimpanan bahan makanan, serta perlengkapan pendukung lainnya yang memungkinkan proses produksi makanan dilakukan langsung di lokasi bencana.
“Melalui sistem tersebut, distribusi bantuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur logistik konvensional yang sering kali terhambat saat kondisi darurat. Kehadiran mobil dapur umum diharapkan dapat memangkas waktu respons sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan kebutuhan dasar masyarakat,” ungkapnya.
Lebih jauh, Kak Yusya menambahkan, bahwa program ini juga mengintegrasikan aspek edukasi dan pembinaan bagi anggota Pramuka. Para peserta didik akan dilibatkan secara aktif melalui pelatihan khusus, mulai dari manajemen dapur lapangan, pengolahan makanan dalam situasi darurat, hingga pengelolaan logistik bergerak dan koordinasi tim di lokasi bencana.
“Ini menjadi bagian dari pendidikan karakter. Anggota Pramuka tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung bagaimana membantu masyarakat dalam situasi krisis dengan keterampilan yang terukur,” tambahnya.
Kak Yusya menambahkan, bahwa program ini akan melibatkan seluruh unsur Gerakan Pramuka di Jawa Timur, mulai dari tingkat daerah, cabang, hingga gugusdepan. Sinergi lintas sektor juga akan diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, instansi penanggulangan bencana, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Dalam implementasinya, Kwarda Jatim juga tengah menyusun standar operasional prosedur (SOP) untuk memastikan setiap unit mobil dapur umum dapat beroperasi secara optimal, aman, dan sesuai dengan prinsip-prinsip layanan kemanusiaan. Standar tersebut mencakup aspek keamanan pangan, kebersihan, distribusi, hingga manajemen relawan,” tambahnya.
Kak Yusya mengungkapkan, bahwa sebagai bagian dari penguatan kebijakan organisasi, program Mobil Dapur Umum Layanan Masyarakat ini akan menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Kwarda Jawa Timur. Forum tersebut akan menjadi ruang strategis untuk mematangkan konsep, menyelaraskan peran antarwilayah, serta merumuskan strategi implementasi secara menyeluruh.
“Pembahasan di Rakerda juga diharapkan mampu menghasilkan komitmen bersama dari seluruh jajaran Pramuka di Jawa Timur agar program ini dapat dijalankan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program penanggulangan bencana di tingkat daerah,” ungkapnya.
Kak Yusya berharap, bahwa keberadaan Mobil Dapur Umum Layanan Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam kondisi darurat, tetapi juga menjadi model layanan kemanusiaan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah lainnya.
“Dengan semangat gotong royong dan pengabdian, Kwarda Jatim menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjadi garda terdepan dalam membantu sesama, serta berkontribusi nyata dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana,” pungkasnya.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Suasana sejuk di Goeboek Janjoen, Desa Sekarjoho, Prigen, menjadi saksi bisu hangatnya pertemuan keluarga besar purna Pramuka Kwarran Jabon. Pada Minggu (19/04/2026), mereka menggelar acara Halal Bihalal dan Family Gathering Exs Scout Jabon dengan pesan mendalam: “Jarak boleh terpisah, tapi kebersamaan harus tetap terjaga.”
Kegiatan tahunan ini menjadi ajang “Temu Kangen” bagi lintas generasi yang pernah menimba ilmu di Scout Jabon. Lokasi Goeboek Janjoen yang asri menambah kekeluargaan semakin terasa kental saat para alumni mulai berdatangan dan saling melempar tawa mengenang masa-masa berseragam pramuka.
Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Khalim sebagai bentuk syukur dan doa bagi keluarga besar yang telah mendahului.
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah saresehan bersama Abah Kaiyan. Dalam wejangannya, beliau mengingatkan bahwa nilai-nilai dasa darma harus tetap mendarah daging meski raga sudah tidak lagi aktif di gugus depan. Sesi ini kemudian berkembang menjadi diskusi hangat dalam tanya jawab, di mana para peserta saling berbagi inspirasi kehidupan.
“Sesuai tema kita hari ini, meski kesibukan dan tempat tinggal membuat jarak kita berjauhan, namun ikatan batin sebagai saudara satu pramuka di Jabon tidak boleh luntur. Kebersamaan ini adalah energi kita,” ujar salah satu panitia di sela-sela acara.
Setelah pembacaan doa penutup, acara berlanjut ke sesi ramah tamah. Sambil menikmati hidangan khas pedesaan, para peserta asyik bercengkerama. Kebersamaan ini ditutup dengan pelaksanaan Sholat Dzuhur berjamaah dan sesi foto bersama sebagai dokumentasi abadi perjalanan kekeluargaan mereka.
Dengan terlaksananya giat ini, Exs Scout Jabon membuktikan bahwa semangat kepanduan mampu melintasi batas waktu dan jarak, menjaga silaturahmi tetap erat di bawah panji tunas kelapa.[JP-Red]
— Kontributor Berita : Warno – Andalan Kwarran Jabon —
Jejak Pramuka – Ada satu pertanyaan yang jarang diucapkan, tapi diam-diam terasa di banyak gugus depan: Kenapa Pramuka terasa semakin “sepi jiwa”, padahal kegiatannya tetap ramai? Barisan masih rapi. Upacara masih khidmat. Agenda masih berjalan. Tapi ada sesuatu yang hilang: Keterhubungan.
Masalahnya Bukan di Anak Muda
Kita terlalu sering menyalahkan generasi sekarang: “Anak sekarang kurang disiplin”, “Tidak tahan proses”, “Maunya instan”. Tapi pernahkah kita jujur bertanya:
Apakah cara kita mendidik masih layak untuk zaman mereka?
Karena faktanya… Generasi hari ini tidak menolak nilai. Mereka hanya menolak cara yang tidak lagi bermakna.
Tiga Dunia yang Tidak Selalu Nyambung
Dalam Pramuka hari ini, ada tiga kekuatan yang berjalan… tapi tidak selalu sejalan:
1. Kwartir: Penjaga Tradisi
Kuat dalam struktur, Tegas dalam aturan akan tapi sering terlalu nyaman dengan cara lama. Masalahnya: Tradisi dijaga, tapi jarang ditafsir ulang.
2. Pembina: Terjepit di Tengah
Mereka paham senior… Tapi juga mengerti anak-anak. Masalahnya: Sering kelelahan menjadi “penerjemah dua dunia” tanpa dukungan sistem.
3. Peserta Didik: Generasi yang Berbeda Total
Cepat, Visual. Kritis dan tidak mudah tunduk pada otoritas tanpa makna. Masalahnya: Mereka dianggap “bermasalah”… padahal hanya “berbeda”.
Yang Terjadi di Lapangan (Jujur Saja)
Mari kita jujur, tanpa basa-basi:
Banyak kegiatan Pramuka terasa seremonial, bukan transformasional
Banyak pembina masih mengandalkan metode lama untuk generasi baru
Banyak peserta hadir… tapi tidak benar-benar terlibat
Dan yang paling berbahaya:
Kita merasa semua baik-baik saja.
Ini Bukan Tentang Modern vs Tradisional
Ini bukan soal: Ganti seragam, Ganti metode total dan Ikut-ikutan tren. Namun ini soal Kesadaran:
Nilai boleh tetap, tapi cara harus berkembang.
Karena jika tidak… Pramuka akan tetap hidup secara organisasi, tapi mati secara makna.
Realita yang Harus Diterima
Generasi hari ini: Tidak terkesan dengan jabatan, Tidak takut pada senioritas dan Tidak otomatis hormat tanpa alasan. Mereka bertanya: “Kenapa saya harus ikut ini?”, “Apa manfaatnya buat saya?”, “Apa ini relevan dengan hidup saya?” Dan jika tidak ada jawaban yang kuat… Mereka akan tetap datang, tapi hatinya tidak di sana.
Saatnya Berani Mengubah Cara
Kalau kita ingin Pramuka tetap relevan, maka kita harus berani jujur: Berhenti – Mengandalkan “dulu juga begini”, Menganggap disiplin = kaku, Mengajar tanpa memahami. Dan Mulai – Menginspirasi, bukan sekadar menginstruksi, Mengajak, bukan memaksa, Menghidupkan pengalaman, bukan hanya kegiatan.
Peran Baru Pembina (Ini Kunci!)
Pembina hari ini bukan lagi seorang Komandan, akan tetapi merupakan seorang – Connector, Fasilitator, dan Role Model. Mereka harus paham generasi, fleksibel dalam metode dan tegas dalam nilai.
Kalau Tidak Berubah, Apa Risikonya?
Tidak dramatis… tapi pasti, Pramuka hanya jadi “kegiatan tambahan”, Anak-anak hadir karena kewajiban, bukan kebutuhan, nilai besar Pramuka tidak lagi terasa dampaknya. Dan perlahan…
Pramuka kehilangan relevansinya di mata generasi masa depan.
Penutup (Yang Perlu Kita Renungkan)
Masalahnya bukan generasi sekarang yang terlalu jauh. Mungkin… kitalah yang belum cukup dekat. Bukan karena mereka sulit dibina. Tapi karena kita belum benar-benar memahami dunia mereka.
Kalau kita ingin tetap didengar, kita harus belajar berbicara dengan cara yang mereka mengerti.
Karena pada akhirnya… Pramuka bukan tentang mempertahankan masa lalu. Tapi menyiapkan masa depan.[JP-Red]