Jejak Pramuka – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur akan menggelar Perkemahan Wirakarya pada Juni-Juli 2025. Perkemahan Wirakarya menonjolkan kegiatan Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni sebanyak 143 yang tersebar di Kabupaten Kota se Jawa Timur.
Kegiatan pendukung dilaksanakan oleh setiap kwartir cabang selama pembangunan rumah berlangsung. Contohnya cek kesehatan gratis, donor darah, bersih lingkungan, bersih fasilitas umum, Pramuka mengajar, dan sebagainya. Dengan melibatkan ratusan Pramuka Penegak Pandega di wilayah kwartir.
Survei Perkemahan Wirakarya dilaksanakan oleh 4 tim yang bergerak di 4 wilayah berbeda. Tim 2 berawal di Wilayah Kwarcab Lumajang, terdapat 5 rumah yang di survei pada Senin, 10 Juni 2025.
Tim Survei Kwarda Jatim terdiri sebagai Penasehat Kak Bambang Suyanto. Tim Pelaksana Kak Djaka Santosa, Kak Achmat Maskurochman, Kak Yusya Giri Pangestu. Turut hadir Kwarcab Lumajang, Tim Konsultan Pembangunan, Pemerintah Desa Jenggrong, dan Koordinator Tukang.
Yang menarik, salah satu calon penerima pemugaran RTLH dari 5 rumah yang disurvei adalah Ibu Marti’a rumahnya bersanding langsung dengan kandang sapi, tepat berada di dalam dapurnya.
Bu Marti’a berusia 80 tahun yang berprofesi sebagai tukang pencari rumput di sawah, kebun, hutan di sekitar rumahnya. Sehari-hari ia mengerjakan dengan penuh semangat dan suka cita.
Sistem pelihara sapi itu kalau dijual, bagi hasil dengan pemilik sapi tersebut. Hasil yang tidak seberapa itu digunakan Ibu Marti’a untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Rumah yang hanya ada 1 lampu ukuran 5 watt ini menerangi rumahnya yang cukup sunyi sepi, itu pun lampu yang nunut dari listrik tetangganya. Ibu Marti’a yang tinggal sendiri di rumah tersebut mengaku senang ketika mendapatkan bantuan pemugaran rumah dari Kwarda Jatim.
“Iya senang, minta dibongkar hanya bagian rumahnya saja kandangnya biar tetap berdiri karena dari sanalah penghasilan saya” ujarnya.
Bu Marti’a meminta bagian dapur berada di depan kandang sapi pun tidak dibongkar, karena digunakan tempat penampungan sementara barang-barang perabotan rumah saat pemugaran berlangsung.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka di Indonesia, dari gugus depan hingga Kwartir Nasional, hari ini tengah menghadapi tantangan serius yang tidak dapat lagi dibiarkan berlarut-larut. Semangat luhur yang dahulu digelorakan oleh para pendiri gerakan ini tampaknya mulai memudar, terkikis oleh kompleksitas pengelolaan yang belum sepenuhnya mencerminkan visi kemandirian dan pengabdian.
Jerat Terbesar dan Akar Persoalan Utama
Salah satu jerat terbesar dan akar persoalan utama terletak pada lemahnya pengelolaan aset dan sumber daya yang dimiliki oleh satuan organik maupun organisasi pengelola gerakan Pramuka. Aset-aset penting—baik kecil maupun besar—mulai dari peralatan kegiatan di gugus depan seperti tenda, tongkat, dan perlengkapan BLS, hingga bumi perkemahan dan tenda barak milik Kwartir, sering kali tidak dikelola secara optimal. Padahal, dengan manajemen yang tepat, semua aset ini berpotensi menjadi sumber daya produktif yang mampu menopang operasional Pramuka secara mandiri, tanpa terus bergantung pada bantuan pemerintah atau dukungan Majelis Pembimbing.
Namun, langkah menuju kemandirian itu kerap terhambat oleh faktor kepemimpinan. Struktur kepengurusan Kwartir, dari ranting hingga nasional, masih didominasi oleh figur-figur yang menjabat karena kedudukan kedinasan, bukan karena totalitas dedikasi dan pemahaman terhadap kepramukaan. Tidak sedikit dari mereka yang “sendiko dawuh”, menjalankan amanah sekadar formalitas tanpa memperjuangkan urgensi pembinaan generasi muda yang berkelanjutan.
Ini melahirkan pola kepemimpinan yang birokratis, pasif, dan cenderung hanya “gugur kewajiban”. Para pengurus tidak lagi berpikir kritis atau memperjuangkan nilai-nilai ideal kepramukaan, tetapi hanya menjalankan kegiatan formalitas demi laporan pertanggungjawaban. Hierarki birokrasi pun membuat pengurus yang sebetulnya mumpuni menjadi enggan bersuara dan kehilangan semangat untuk berpikir kritis serta membangun gerakan sesuai idealisme sejatinya.
Relevansi Gudep Mandiri dan Kwartir Mandiri
Maka menjadi sangat relevan untuk mulai menggagas model Gudep Mandiri dan Kwartir Mandiri. Konsep ini bukan semata gagasan idealistik, tetapi merupakan kebutuhan nyata untuk menciptakan organisasi yang tangguh, berdaya saing, dan tidak rentan terhadap perubahan dinamika politik maupun kebijakan birokrasi. Melalui pengelolaan aset yang diarahkan pada kegiatan produktif dan berorientasi manfaat, gerakan Pramuka semestinya bisa berdiri di atas kakinya sendiri—tanpa kehilangan jati diri sebagai pembina karakter bangsa.
Pramuka bukan sekadar organisasi kepanduan. Ia adalah bagian dari strategi kebangsaan. Gerakan Pramuka dibentuk oleh negara, bukan oleh pemerintahan, dan berada langsung di bawah Presiden sebagaimana ditegaskan dalam Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961. Ia adalah ujung tombak Nation and Character Building yang bertujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya—beriman, bertanggung jawab, dan mencintai tanah air.
Tata Ulang Paradigma Kepemimpinan dalam Pramuka
Karena itu, penting untuk menata ulang paradigma kepemimpinan dalam Pramuka. Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: berapa banyak pemimpin di struktur kwartir saat ini yang hadir karena panggilan jiwa sebagai Pramuka sejati, dan bukan karena urusan jabatan semata? Tanpa kepemimpinan yang visioner dan paham ruh gerakan ini, pembinaan akan stagnan dan perubahan akan berjalan lamban.
Di sinilah pentingnya networking seorang pemimpin. Jaringan yang kuat mampu membuka akses terhadap berbagai sumber daya, termasuk CSR dan dana sosial yang dapat mendukung kegiatan Pramuka. Maka, pemimpin Pramuka masa kini haruslah mereka yang mampu menjalin koneksi strategis dan menghubungkannya dengan kebijakan-kebijakan progresif demi kemajuan organisasi.
Tiga Kata Kunci Bangkitkan Kembali Gerakan Pramuka
Ada tiga kata kunci untuk membangkitkan kembali gerakan Pramuka: Komunikasi, Kolaborasi, dan Kepercayaan. Komunikasi yang jujur dan terbuka sangat diperlukan untuk menyampaikan arah kebijakan serta mempromosikan kegiatan-kegiatan Pramuka kepada publik. Kolaborasi lintas sektor akan memperkuat peran Pramuka dalam menjawab tantangan kebangsaan. Dan kepercayaan—baik secara moral maupun legal—harus menjadi landasan utama setiap pengurus dalam menjalankan tugasnya.
Lebih lanjut, gerakan Pramuka juga perlu mengembangkan sub-unit nirlaba sebagai pilar kemandirian. Badan usaha gudep dan kwartir, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta pusat data dan informasi, bisa menjadi tulang punggung ekonomi organisasi jika dikelola secara profesional. Hal ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan telah dikuatkan dalam Keputusan Munas XI Tahun 2023 tentang Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
Mari bangun Pramuka yang berdikari, berdaya, dan berpengaruh
Kini saatnya bagi gerakan Pramuka untuk tidak lagi sekadar berjalan, tetapi berlari mengejar ketertinggalannya. Dengan semangat kemandirian, kepemimpinan yang kuat, dan manajemen organisasi yang modern, Pramuka bisa kembali menjadi garda terdepan pembentukan karakter bangsa yang sejati. Jangan biarkan warisan para pendiri kita luntur oleh ketidakmampuan dan ketidakpedulian. Mari bangun Pramuka yang berdikari, berdaya, dan berpengaruh — untuk Indonesia yang lebih tangguh dan berkarakter.[Red]
Catatan Penulis : Tulisan ini merupakan hasil diskusi bersama kak Ganet Budi Utomo – Mantan Kapusdiklatnas Gerakan Pramuka disela-sela Ngopi Pagi di Kantin Polkesbaya Eatery Surabaya (Selasa, 10/06/2025). Disarikan dengan tidak ada maksud menyinggung siapapun dan pihak manapun, namun lebih sebagai Inspirasi yang menggugah setiap pribadi yang peduli;
Ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya ekonomi. Namun, untuk mewujudkan kemandirian gerakan ini secara nyata, pengelolaan aset dan pendanaan perlu dilakukan secara lebih profesional dan berkelanjutan. Inilah saat yang tepat bagi kwartir maupun gugus depan untuk berani melangkah membentuk Badan Usaha sebagai upaya mewujudkan kemandirian organisasi.
Dasar Hukum yang Kuat
Pembentukan badan usaha oleh kwartir dan gugus depan sejatinya bukan gagasan baru. Landasan hukumnya telah jelas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Pada Pasal 32 disebutkan bahwa kwartir dan gugus depan sesuai tingkatannya dapat membentuk berbagai organisasi pendukung, termasuk badan usaha. Ini diperkuat kembali dalam Keputusan Munas XI Gerakan Pramuka Tahun 2023 Nomor: 7/Munas/2023, yang secara eksplisit menyatakan bahwa badan usaha adalah bagian integral dari kwartir.
Tidak hanya memiliki legalitas, keberadaan badan usaha juga memiliki fungsi strategis sebagaimana diatur dalam Pasal 46 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yaitu sebagai wadah pengembangan usaha dalam rangka mendukung pendanaan Gerakan Pramuka. Kepala badan usaha dapat berasal dari anggota dewasa Gerakan Pramuka maupun kalangan profesional, dengan tanggung jawab langsung kepada ketua kwartir.
Mengelola Aset Secara Mandiri dan Profesional
Selama ini, pendanaan Gerakan Pramuka sangat bergantung pada iuran anggota, bantuan majelis pembimbing, sumbangan tidak mengikat, serta dukungan pemerintah melalui APBN atau APBD. Ketergantungan semacam ini, meskipun sah secara hukum, menyulitkan keberlangsungan program jika sewaktu-waktu dukungan tersebut berkurang. Oleh karena itu, sudah saatnya kwartir maupun gugus depan berdiri di atas kaki sendiri melalui pengelolaan aset dan potensi secara mandiri.
Melalui badan usaha, Pramuka dapat mengembangkan unit-unit usaha yang bersifat otonom, seperti penyewaan perlengkapan kemah, pengelolaan bumi perkemahan, produksi merchandise Pramuka, hingga pemanfaatan potensi kewirausahaan para anggotanya. Pasal 59 dan Pasal 127 Anggaran Rumah Tangga secara tegas menyebutkan bahwa sumber keuangan Gerakan Pramuka juga berasal dari usaha dana dan badan usaha.
Menjawab Tantangan Masa Depan Gerakan Pramuka
Masa depan Gerakan Pramuka ditentukan oleh kemampuannya untuk terus hidup, tumbuh, dan memberi manfaat kepada anggotanya. Dalam era kompetisi dan digitalisasi saat ini, organisasi yang tidak memiliki sistem pengelolaan keuangan mandiri akan tertinggal. Karena itu, pembentukan badan usaha bukan hanya legal, tetapi juga strategis dan mendesak.
Di sisi lain, pendekatan profesional perlu diterapkan. Badan usaha yang dibentuk oleh kwartir atau gugus depan harus dikelola oleh orang-orang yang memiliki kompetensi manajerial, memiliki akuntabilitas tinggi, dan menjunjung etika Pramuka.
Kesimpulan: Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian
Kemandirian bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan. Dengan landasan hukum yang kuat dan peluang usaha yang terbuka, saatnya kwartir dan gugus depan Gerakan Pramuka membentuk badan usaha yang sehat dan berdaya saing. Langkah ini menjadi bentuk nyata Gerakan Pramuka dalam menjawab tantangan zaman dan menunjukkan bahwa nilai-nilai Trisatya dan Dasa Dharma tidak hanya hidup dalam upacara, tetapi juga dalam praktik pengelolaan organisasi yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.[JP-Red]
Ditulis oleh : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Pimpinan Redaksi jejakpramuka.com, Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Pendiri Program ESCYMO atau Eco Scouting Cyber Movement;
Jejak Pramuka – Kwartir Ranting (Kwarran) Banyuwangi sukses menggelar Musyawarah Penegak dan Pandega Putri Putra (Musppanitera) Ranting sebagai ajang regenerasi kepengurusan Dewan Kerja Ranting (DKR) Banyuwangi. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Korwilkersatdik Kecamatan Banyuwangi, pada Minggu (8/6/2025), dengan dihadiri 17 Pramuka Penegak dan Pandega dari berbagai gugus depan di lingkungan Kwarran Banyuwangi.
Musppanitera resmi dibuka oleh Sekretaris Kwarran Banyuwangi, Kak M. Syafiil Anam. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keikutsertaan dalam organisasi Dewan Kerja merupakan langkah awal yang strategis dalam membentuk kader pemimpin masa depan.
“Mengikuti organisasi Dewan Kerja adalah salah satu bekal awal untuk menjadi kader pemimpin,” ujarnya.
Kak Anam juga membagikan pengalamannya yang dimulai dari DKR Banyuwangi hingga kini menjabat sebagai Sekretaris Kwarran. Ia menyampaikan optimismenya terhadap potensi besar yang dimiliki Kwarran Banyuwangi.
“Prospek Pramuka di Kwarran Banyuwangi sangat besar karena semua gugusdepannya lengkap, dari Siaga hingga Pandega. Saya berharap Ketua DKR terpilih segera menyusun program kerja yang mampu mewarnai kegiatan Kwarran, khususnya bagi Pramuka Penegak dan Pandega,” jelasnya.
Dalam Musppanitera tersebut, Muhammad Samir Adegel resmi terpilih sebagai Ketua DKR Banyuwangi yang baru. Dalam pernyataannya, Samir menegaskan komitmennya untuk memperkuat komunikasi dan membangun hubungan persaudaraan antar gugus depan dan kwartir melalui pendekatan yang lebih santai dan akrab.
“Prioritas kami adalah melanjutkan program DKR yang tertunda akibat berbagai macam kendala sebelumnya. Kami akan memulai dengan kegiatan yang sudah ada, sambil menyesuaikannya dengan minat anggota Penegak dan Pandega,” tegas Samir.
Ia juga menyampaikan harapannya agar DKR Banyuwangi terus berkembang sebagai wadah yang inspiratif dan berprestasi demi kemajuan Gerakan Pramuka di Banyuwangi.[JP-Red]
— Kontributor Berita : M. C. Huda – Pramuka Kwartir Cabang Banyuwangi; —
Jejak Pramuka – Kwartir Ranting (Kwarran) Jabon mendapatkan kepercayaan mengikuti Lomba Kwartir Ranting Tergiat se-Jawa Timur. Hal ini didahului dengan mengikuti Zoom Meeting dari Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur terkait persiapan lomba tersebut dengan pendampingan oleh Kwartir Cabang Sidoarjo, Sabtu (07/06/2025).
Undangan ini menjadi kejutan besar sekaligus kehormatan luar biasa, karena Kwarran Jabon dipercaya untuk mewakili Kwartir Cabang (Kwarcab) Sidoarjo dalam ajang bergengsi tingkat provinsi. Momentum tak terduga ini segera disambut dengan semangat tinggi oleh jajaran Andalan, Mabigus, dan para Pembina Pramuka di wilayah Jabon.
Hanya dalam waktu singkat, berbagai pertemuan intensif pun dilaksanakan selama empat hari berturut-turut. Tim dari Kwarcab Sidoarjo turut hadir memberi pendampingan, antara lain Kak Mariono Subagyo, S.H., M.H., Kak Fatoni, S.Soso dan Kak Nurul Djauhariyah, SE., MM. Suasana kerja sama terasa hangat dan solid, menghasilkan langkah-langkah strategis untuk menyiapkan Kwarran Jabon menghadapi penilaian.
Lomba Kwartir Ranting Tergiat ini adalah yang pertama kalinya diadakan oleh Kwarda Jawa Timur. Setiap kwartir peserta harus mengirimkan penilaian diri paling lambat tanggal 20 Juni 2025. Dokumen tersebut akan menjadi dasar seleksi awal sebelum tim penilai menentukan peringkat 10 besar.
Sebagai bagian dari kelengkapan penilaian, Kwarran Jabon juga diwajibkan mengirimkan video dokumentasi berdurasi maksimal lima menit. Video tersebut harus memuat berbagai aspek penting, antara lain identitas Kwartir, dokumentasi kegiatan dalam bentuk foto dan video, kondisi sekretariat, aktivitas pembinaan di Gugus Depan (Gudep), daftar prestasi yang pernah diraih, keterlibatan Kwarran dalam kegiatan masyarakat, serta informasi pendukung lainnya yang menunjukkan tingkat keaktifan dan kualitas pengelolaan organisasi secara menyeluruh.
Setelah klarifikasi dokumen dilakukan oleh panitia, akan dipilih 10 Kwarran terbaik. Dari sana, disaring lagi menjadi 6 terbaik yang akan mendapatkan kunjungan langsung dari Tim Penilai Kwarda Jawa Timur ke sekretariat masing-masing.
“Kami memohon dukungan dan doa dari seluruh warga Kwarran Jabon. Semoga usaha dan persiapan kami bisa diterima baik oleh tim penilai. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini adalah jalan bagi kami untuk belajar, berkembang, dan meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi kepramukaan di Jabon,” ujar salah satu pengurus Kwarran dengan penuh harap.[JP-Red]
— Kontributor Berita :Warno – Andalan Ranting Jabon —
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka memiliki nilai istimewa yang membedakannya dari banyak organisasi lainnya. Salah satu kekuatan utamanya adalah keterbukaan—organisasi ini tidak memberlakukan batasan ketat bagi siapa pun yang ingin bergabung. Dengan sistem penggolongan usia yang jelas, anggota Pramuka terbagi menjadi dua kelompok besar: anggota muda (usia 7–25 tahun) dan anggota dewasa (di atas 25 tahun).
Menariknya, tidak ada keharusan bagi seseorang untuk memulai dari tingkatan paling dasar. Setiap individu dapat berproses sesuai usia dan kesiapan masing-masing. Namun, apakah fleksibilitas ini merupakan kekuatan, atau justru menyimpan potensi kelemahan?
Mari kita telaah dari sudut pandang pengelolaan organisasi
Dalam struktur organisasi seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Republik Indonesia (Polri), setiap posisi strategis hanya bisa ditempati melalui proses jenjang dan seleksi yang ketat. Setiap personel dibina secara sistematis agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya.
Berbeda dengan Gerakan Pramuka. Di sini, proses seleksi tidak seketat institusi militer atau kepolisian. Siapa pun yang memiliki niat dan keikhlasan untuk memimpin, misalnya di tingkat kwartir, bisa saja terpilih—selama mendapat kepercayaan dari para anggota. Ini mencerminkan semangat keterbukaan dan keadilan yang menjadi jiwa Gerakan Pramuka.
Namun, di balik keunggulan itu, tersimpan potensi tantangan. Keterbukaan tanpa seleksi yang memadai dapat menjadi masalah ketika seseorang dipercaya memimpin namun tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang organisasi. Dalam konteks manajemen modern, prinsip “The Right Man in the Right Place” menjadi sangat relevan. Pemimpin yang tidak tepat dapat menjadi titik lemah dalam suatu masa kepengurusan.
Pahami Cita-cita dan Arah Gerak Organisasi
Oleh karena itu, memahami cita-cita dan arah gerak organisasi secara menyeluruh adalah sebuah keharusan. Kita perlu menyadari posisi dan peran kita, lalu menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Komitmen untuk terus belajar, mengembangkan wawasan, dan meningkatkan kapasitas diri menjadi hal yang mutlak. Organisasi membutuhkan pribadi-pribadi yang tidak hanya hadir, tetapi juga tumbuh dan memberi kontribusi nyata.
Sebaliknya, jika merasa belum siap atau belum mampu menjalankan amanah dengan baik, maka keputusan paling bijak adalah mengundurkan diri sejak awal. Memberi ruang bagi sosok yang lebih kompeten bukanlah kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap keberlangsungan organisasi. Sebab, jika dipaksakan, kehadiran kita justru bisa menjadi beban—bahkan ibarat parasit—yang menghambat laju organisasi yang ingin terus maju.[JP-Red]
— Penulis Opini :Hengky Firmansyah, S. Pd. – Pelatih Pusdiklatcab Kwarcab Banyuwangi —
Jejak Pramuka – Geladian Pimpinan Satuan (Dianpinsat) merupakan salah satu sarana strategis dalam menerapkan sistem among serta melatih secara langsung keterampilan teknik kepramukaan, khususnya melalui prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan berbasis sistem beregu. Berdasarkan Keputusan Kwartir Nasional Nomor: 031/KN/78 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Geladian Pimpinan Satuan Penegak, kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan tugas dan kewajiban sebagai pemimpin satuan, serta memberikan pengalaman praktis kepada pengurus Dewan Ambalan, Pemimpin Sangga, dan Wakil Pemimpin Sangga.
Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Sedati melalui Dewan Kerja Ranting (DKR) Sedati, sesuai program kerja tahun 2025, telah sukses menyelenggarakan Geladian Pimpinan Satuan (Dianpinsat) pada hari Jumat–Sabtu, 30–31 Mei 2025 bertempat di SMK Penerbangan Dharma Wirawan, Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang Pramuka Penegak yang berasal dari Gugus Depan pangkalan SMK Penerbangan Dharma Wirawan, SMK Senopati, SMA Wachid Hasjim, dan MA Nurul Huda.
Dianpinsat resmi dibuka oleh Kak Sudarmadi LG, Sekretaris Kwarran Sedati, yang sekaligus memberikan materi mengenai Pramuka Garuda. Dalam sambutannya, Kak Darma — sapaan akrab beliau — menekankan pentingnya kaderisasi dalam tubuh DKR agar tidak terjadi kekosongan kepengurusan. Menurutnya, DKR merupakan motor penggerak kegiatan Penegak di wilayah Kwarran Sedati dan juga merupakan mitra strategis dalam pelaksanaan berbagai program kepramukaan lainnya.
Materi selanjutnya disampaikan oleh Kak M. Fadeli LT, Andalan Ranting Sedati, yang membahas tentang Pola Pembinaan Penegak Pandega. Dalam pemaparannya, Kak Fadli mengulas secara mendalam pentingnya penguatan pada aspek bina diri, bina satuan, dan bina masyarakat. Dengan memperkuat ketiga aspek ini, citra dan branding Pramuka Penegak diyakini akan semakin baik dan kuat. Berdasarkan pengalamannya sebagai anggota DKR Sedati pada era 1990-an, Kak Fadli menggarisbawahi bahwa tantangan dan bentuk kegiatan DKR saat ini menuntut inovasi, serta kemampuan anggota Penegak untuk menjadi problem solver di tengah masyarakat.
Materi berikutnya disampaikan oleh Kak Misbachul Hidayat, Pembina SMK Penerbangan Dharma Wirawan, mengenai Fundamental Gerakan Pramuka. Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh perwakilan Dewan Kerja Cabang (DKC) Sidoarjo, yakni Kak Satrio dan Kak Amel, yang membawakan materi mengenai Manajemen Dewan Kerja dan Keorganisasian. Mereka juga berbagi tips, trik, serta motivasi dalam mengelola Ambalan dan Dewan Kerja secara efektif dan berdampak. Harapannya, DKR Sedati dapat semakin aktif dan memiliki kontribusi konkret dalam kegiatan Penegak Pandega di tingkat Kwarcab.
Ketua pelaksana Dianpinsat, Erlita, menyampaikan bahwa target utama dari kegiatan ini adalah penjaringan calon pengurus DKR Sedati yang baru. Oleh karena itu, di akhir kegiatan pada Sabtu, 31 Mei 2025, panitia mengadakan Open Recruitment untuk calon anggota DKR Sedati sebagai persiapan menjelang Musppanitera yang akan digelar pada bulan Desember 2025.
Kegiatan Dianpinsat resmi ditutup oleh Ketua Kwartir Ranting Sedati, Kak Hamidah. Dalam sambutannya, Kak Ida — sapaan akrab beliau — menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras dan kerja cerdas seluruh jajaran DKR Sedati dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Ia juga menegaskan pentingnya proses kaderisasi agar DKR tetap eksis, berkelanjutan, dan mampu menjalin kemitraan yang harmonis dengan jajaran Andalan Ranting.[JP-Red]
— Kontributor Berita :Dr. M Fadeli, M.Si – Andalan Ranting Kwarran Sedati; —
Jejak Pramuka – Sebanyak 24 anggota Pramuka Penegak dari Gugusdepan SMA Negeri 1 Wongsorejo mengikuti pembekalan materi kehutanan dari Satuan Karya (Saka) Pramuka Wanabakti pada Jumat malam (30/5/2025).
Kegiatan ini berlangsung di area perkemahan Pantai Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, sebagai bagian dari rangkaian Perkemahan Bantara yang digelar 30–31 Mei 2025.
Koordinator Bidang Kerjasama dan Kemitraan Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Cabang Banyuwangi, Kak Suwadi, menekankan pentingnya pengenalan dunia kehutanan sejak dini kepada anggota Pramuka.
“Satuan Karya perlu dikenalkan di kalangan Penegak. Melalui Saka Wanabakti, Pramuka bisa membina diri dalam bidang kehutanan,” ujar Kak Suwadi. Ia juga mengapresiasi dukungan SMA 1 Wongsorejo dalam membuka ruang kolaborasi ini.
Kak Suwadi menyebut antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi materi.
Sementara itu, Koordinator Bidang Organisasi Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Cabang Banyuwangi, Kak Mohamad Arif Fajartono, mengajak para Penegak yang tertarik untuk bergabung di Pangkalan BKPH Watu Dodol.
“Saka Wanabakti siap menjadi mitra gugusdepan dalam menyiapkan keterampilan generasi muda,” jelasnya. Salah satu peserta kegiatan, Kak Radika Kayla Firmansyah, mengaku sangat menikmati sesi tersebut.
“Penjelasan tentang krida Saka Wanabakti dan kegiatan di alam terbuka sangat menarik. Saya jadi lebih sadar pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.[JP-Red]
— Kontributor Berita : M. C. Huda – Pramuka Kwartir Cabang Banyuwangi; —
Pramuka Delta — Sebanyak 27 Penegak Ambalan Wachid Hasjim, Gugus Depan Pangkalan SMA Wachid Hasjim 3 Sedati, mengucapkan janji dalam prosesi kenaikan Tanda Kecakapan Umum (TKU) pada Jumat malam, 23 Mei 2025.
Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian proses penempuhan Syarat Kecakapan Umum (SKU) yang telah dimulai sejak Agustus 2024, sebagai bentuk kenaikan tingkat dari Calon Penegak menjadi Penegak Bantara, serta dari Penegak Bantara menjadi Penegak Laksana.
Prosesi dilaksanakan secara bertahap dan mendalam agar setiap Penegak benar-benar memahami, memenuhi, dan mampu mempertanggungjawabkan syarat-syarat yang telah ditentukan, sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. SKU bukan hanya tahapan formalitas, tetapi menjadi tolok ukur keberhasilan proses pendidikan kepramukaan yang rutin dilaksanakan.
“SKU adalah alat pendidikan yang dapat mendorong para Penegak untuk berusaha memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan sesuai syarat yang ditentukan. Ini juga menjadi motivasi dalam memenuhi kualifikasi menuju Pramuka Garuda,” ungkap Kak Fadeli, pembina Gugus Depan.
Kegiatan orientasi dilakukan dalam satu malam penuh dengan mengedepankan prinsip kecakapan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik. Rute perjalanan dimulai dari halaman SMA Wachid Hasjim 3 Sedati pukul 20.00 WIB, menyusuri wilayah Desa Sedati Gede, Sedati Agung, Betro, Gemurung (Kecamatan Gedangan), dan berakhir di Desa Kwangsan (Kecamatan Sedati) sekitar pukul 00.00 WIB.
Kak Fadeli menambahkan bahwa peran pembina dalam kegiatan ini lebih sebagai konsultan, motivator, dan dinamisator. “Kami memberikan kepercayaan penuh kepada Dewan Ambalan untuk menyusun rencana, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan ini. Evaluasi dilakukan secara terbuka dengan saran dan masukan yang membangun,” ujarnya.
Prosesi pelantikan dimulai pukul 00.30 WIB di area persawahan antara makam Desa Gemurung dan makam Desa Kwangsan. Sebanyak 13 calon Penegak Bantara dan 14 calon Penegak Laksana mengucapkan Tri Satya dalam suasana yang khidmat meski hujan rintik turun membasahi.
Dalam tradisi Ambalan Wachid Hasjim, Pradana dan Pradani — Naila dan Noval — memimpin pelaporan kesiapan pelantikan kepada pembina upacara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pengucapan janji. Setelah itu, masing-masing peserta menerima TKU yang dipasangkan di pundak mereka.
Kegiatan diakhiri dengan musyawarah ambalan untuk memilih Pradana dan Pradani yang baru. Pukul 06.30 WIB, Sabtu pagi (24 Mei 2025), seluruh rangkaian acara telah selesai. Peserta dan panitia dalam kondisi sehat dan penuh semangat, lalu membubarkan diri setelah sarapan bersama.[Red]
— Kontributor Berita :Dr. M Fadeli, M.Si – Pembina Gudep SMA Wachid Hasjim 3 Sedati; —
Jejak Pramuka – Pramuka Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menggelar ajang perlombaan bergensi yang dinanti-nanti oleh kalangan Pandega se-Indonesia, yakni Racana Orienteering Games (ROG) VII Tahun 2025.
Acara pembukaan resmi dilangsungkan pada Kamis 29 Mei 2025 di Balai Latihan dan Pendidikan Teknik (BLPT) Yogyakarta, dengan penuh semangat dan khidmat.
Kegiatan dibuka dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Satya Darma Pramuka, dilanjutkan dengan laporan Reka Kerja oleh Kak Mahriza Aulia.
Disampaikan bahwa ROG VII akan dilaksanakan dengan 2 bentuk kegiatan yakni pematerian dan perlombaan. Kak Mahriza juga menyampaikan sebanyak 14 tim akan mengikuti kegiatan mulai hari ini hingga 4 hari mendatang.
Agenda pembukaan kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak, diawali dengan sambutan Ketua UKM Pramuka UNY Kak Surya Putra Yudhatama. Kak Yudha menyampaikan terimakasih kepada peserta, reka kerja, dan tamu undangan yang telah hadir.
“Selamat Menambah pengalaman, relasi, dan ilmu, selamat berkegiatan selamat 4 hari ke depan,” tambahnya menutup sambutan.
Tidak ketinggalan Kak Drs. Arifin Budiharjo, Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) Bidang Pembinaan Anggota Muda menyampaikan rasa senangnya melihat pramuka di Perguruan Tinggi aktif berkegiatan.
Pihaknya berpesan agar para peserta dapat mengasah pengalaman selama di Yogyakarta agar dapat membawa pulang pengalaman dan ilmunya bagi kemajuan racana dimana para peserta berasal.
Ketua Gugusdepan Kota Yogyakarta 03-075 Kakak Dr. Tatag Bagus Putra Prakarsa, S.Si., M.Sc. Beliau mengucapkan selamat datang dan selamat mengikuti perlombaan kepada para peserta.
“Harapannya ilmu-ilmu dalam kepramukaan membantu nanti di dunia yang sebenarnya,” tambahnya.
Kak Tatag juga menyampaikan agar kita tetap bisa menjalin silaturahmi kedepannya, saling menghormati, dan sailing memahami. Diakhir sambutannya kak Tatag menyampaikan pantun menyambut kedatangan peserta ROG VII di Yogyakarta sekali lagi.
Puncak acara pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh kak Kokom Komariyah Ketua Gugusdepan 03-076 Pramuka UNY, sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan ROG VII. Dilanjutkan dengan prosesi pengalungan tanda peserta secara simbolis kepada perwakilan peserta putra dan putri.
ROG VII tahun ini menghadirkan kegiatan orienteering yang menantang, serta beberapa perlombaan lainnya diantaranya media pembelajaran, newslettler, komunikasi elektronik, dan pasang anchor.
Tidak hanya itu, ROG VII juga menyajikan kegiatan edukatif yakni workshop ilmu kompas dan ilmu medan, serta berwisata budaya di kota Yogyakarta yakni mengunjungi museum sonobudoyo dan Benteng Vrederburg.
Kegiatan ROG VII ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah. Adapun peserta sebanyak 14 tim dari 11 Universitas di Indonesia antara lain, 3 tim dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2 tim dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
Kemudian masing-masing 1 tim dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Suka), Universitas Perwira Purbalingga, Universitas Muhammadiyah Purworejo, Universitas Tanjungpura, Universitas Negeri Semarang, UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Airlangga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Akademi Teknik Soroako.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah pengembangan diri, pelatihan kepemimpinan, dan mempererat solidaritas antar anggota Pramuka se-Indonesia.
Reka kerja juga menekankan pentingnya menjaga disiplin, ketertiban, dan nilai-nilai etika selama kegiatan berlangsung, sebagaimana tercantum dalam tata tertib umum yang telah disampaikan kepada peserta.[JP-Red]