Jejak Pramuka – Istilah “Blendrang” mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pencinta kuliner tradisional Jawa. Blendrang adalah seni menghidupkan kembali kelezatan sayur kemarin.
Bayangkan, sayur bersantan atau lodeh yang dihangatkan berulang kali hingga kuahnya menyusut, bahkan mengering, meninggalkan cita rasa pekat yang begitu menggoda. Semakin sering dihangatkan, semakin kuat pula rasa gurih dan pedas yang berpadu dalam setiap suapan.
Layaknya blendrang yang semakin nikmat karena sering dihangatkan, kualitas seorang Pelatih Pembina Pramuka juga perlu dijaga agar tetap “hangat” dan mumpuni.
“Menghangatkan” dalam konteks ini berarti senantiasa memperbarui pengetahuan dan keterampilan melalui Penyegaran Pelatih dan Pitaran Pelatih.
Pitaran Pelatih, wadah untuk berbagi informasi terkini seputar dunia kepelatihan, seperti metode maupun regulasi terbaru, baik dalam kursus maupun saat bertugas sebagai pelatih konsultan di gugusdepan.
Sedangkan Penyegaran Pelatih, menjadi ajang bagi para pelatih pembina pramuka untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan mereka.
Mengapa “menghangatkan” kualitas pelatih begitu penting?
Ibarat api yang terus dijaga agar tetap menyala, kualitas pelatih akan semakin meningkat jika Penyegaran dan Pitaran Pelatih dilaksanakan secara berkala.
Perkembangan zaman yang begitu cepat menuntut para pelatih untuk selalu adaptif dan sigap. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang terus diperbarui, mereka dapat terhindar dari “adegan ngawur” saat melatih, yang bisa berujung pada Pembina Pramuka yang tidak memahami tugas dan tanggung jawabnya.
Dampak terbesar dari ketidakpahaman ini tentu saja akan dirasakan oleh peserta didik. Mereka akan kehilangan arah, bagai kapal tanpa nakhoda yang berlayar di lautan luas. Oleh karena itu, menjaga kualitas pelatih sama dengan menjaga masa depan generasi penerus bangsa.[JP-Red]
— Penulis Opini :Hengky Firmansyah, S.Pd – Pelatih Pembina Pramuka Pusdiklatcab Macan Putih Kwarcab Banyuwangi —
Jejak Pramuka – TK Khadijah 159 Genteng Wetan, Banyuwangi, sukses menggelar Pesta Prasiaga yang diikuti oleh 45 Pramuka Prasiaga. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam menanamkan nilai-nilai kepramukaan kepada anak-anak sejak usia dini.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (15/2/2025) di Wisata Talang Hills ini merupakan upaya sekolah untuk memperkenalkan kegiatan kepramukaan secara menyenangkan dan edukatif. Dengan suasana alam yang asri, anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain melalui berbagai kegiatan yang melatih keberanian, kerjasama, dan kreativitas.
Kepala TK Khadijah 159, Kak Nirna Hidayati, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi terobosan baru bagi sekolah. Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai positif sejak dini melalui kegiatan pramuka.
“Kegiatan ini baru pertama kali kami laksanakan sebagai bentuk memperkenalkan pramuka sejak dini kepada anak-anak kami,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kak Nirna berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman berharga kepada anak-anak sekaligus membentuk karakter mereka.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat belajar tentang nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap alam,” tambahnya.
Ketua Panitia, Kak Dwi Retnani, menjelaskan bahwa rangkaian permainan yang disajikan dirancang untuk mengembangkan berbagai aspek kemampuan anak, mulai dari fisik hingga motorik.
“Saya bangga, antusias anak-anak sangat luar biasa. Tidak kalah juga antusias para orang tua/wali murid. Mereka juga sangat bersemangat mengikuti kegiatan ini,” ungkapnya.
Menurut Kak Dwi, partisipasi orang tua menjadi pendukung utama keberhasilan acara ini. Selain memberikan dukungan moral, kehadiran mereka juga menambah semangat anak-anak.
Salah satu wali murid, Kak Ana Karunia, ibunda dari Nino Alceo Melviano, turut membagikan kesannya. Ia merasa senang melihat anak-anak terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat sekaligus menyenangkan.
“Saya senang sekolah anak saya bisa melaksanakan kegiatan seperti ini. Selain mengurangi anak-anak bermain gadget, ini juga bisa melatih kecerdasan motorik anak-anak. Tahun depan harus dilaksanakan kembali,” tuturnya.
Pesta Prasiaga ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan pramuka dapat diperkenalkan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan. Selain memberikan keceriaan, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai penting yang bermanfaat untuk perkembangan karakter anak-anak.
Dengan keberhasilan ini, TK Khadijah 159 berharap dapat terus konsisten mengadakan kegiatan serupa yang dapat membina generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Latihan Dasar Kepemimpinan dan Kepramukaan (Landak) yang diselenggarakan SMK Negeri 3 Bone, dibuka resmi oleh Kepala Pusdiklatcsb Bone, kakak Syamsuddin, SPd, MG, LG. Kegiatan ini bertempat di areal SMKN 3 Bone, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dan akan berlangsung selama 4 (empat) hari efektif, mulai tanggal 15 Februari sampai 18 Februari 2025.
Kegiatan yang dikoordinasikan dengan lembaga Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) cabang Bone ini merupakan sebuah bentuk kegiatan yang bertolak ukur kepada peningkatan sumber daya siswa/peserta didik untuk mendalami dan memahami tentang konsep dasar sebuah organisasi serta melatih kedisiplinan, kekompakan, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan. “Selain itu juga merupakan proses pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak dan karakter” terang kakak A. Musafir Amar, SPd, MM selalu koordinator penyelenggara Landak 2025
Landak dengan tema ” Pemimpin Tangguh, Regu Unggul” diisi dengan beberapa materi-materi oleh pemateri yang berasal dari pelatih Pusdiklatcab Bone diantaranya kakak Syamsuddin, SPd, MG, LG, Kakak Dr. Musafir, SH, MH, Kakak Andi Akram, MG dan beberapa pelatih damping lainnya.
Dalam arahannya, kakak A.Musafir berharap kepada adik-adik Pramuka penggalang yang menjadi peserta kegiatan Landak ini agar selalu mengikuti semua kegiatan dan materi-materi yang diberikan oleh pemateri dari Pusdiklatcab Bone. ”Dengan adanya kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki jiwa kepemimpinan setidaknya berani memimpin dirinya sendiri. Sehingga diharapkan membentuk karakter dan watak pesetta” ujar kak Andi Musafir yang juga pembina Pramuka SMKN 3 Bone. (Sabtu, 25/02/2025)
Kakak H. Rustam, SPd selalu Kamabigus pangkalan SMKN 3 Bone dan penanggungjawab kegiatan Landak 2025 ini mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memotivasi peserta untuk melakukan hal yang baik dan memaksimalkan kemampuan dalam diri. Tanpa adanya sosok yang berjiwa kepemimpinan, suatu organisasi akan kurang termotivasi dalam mencapai tujuannya.
Kakak Syamsuddin, SPd, MG, LG dalam sambutannya berharap agar kegiatan ini memberikan bekal kepemimpinan kepada para peserta. “Dengan berbagai kegiatan dan materi kepemimpinan, akan membuat peserta memiliki keberanian, mampu berbicara dimuka umum, memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan sistem, dan bermimpi untuk mewujudkan harapan atau tujuan” papar kak Syam.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dan antusiasme dari sekolah/pangkalan gudep dan terdapat beberapa sekolah dari kecamatan tetangga juga ikut serta dalam kegiatan ini. Tercatat sebanyak 92 peserta yang mengikuti kegiatan Landak ini. Para peserta berasal dari 6 (enam) pangkalan yaitu MTsN 4 Bone, SMPN 1 Libureng, SMPN 4 Libureng, SMPN 1 Patimpeng, SMPN 4 Bontocani dan SMPN 3 Lappariaja.
Turut hadir dalam pembukaan Landak ini yaitu Kepala Pusdiklatcab Bone, Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Bone, Pengawas Dinas Pendidikan Provinsi : H. Sabri Made, S.Pd., M.Pd, Pelatih Pusdiklatcab Bone, Perwakilan Koramil Libureng, Ketua Panitia Landak, kakak A. Muh. Fahrizal berserta kakak-kakak panitia Landak, para Andalan Kwarran Libureng dan para pembina Pramuka masing-masing sebagai pembina damping pangkalan para peserta.[JP-Red]
— Kontributor Berita :Yoush A. Yahya – Kwarran Patimpeng, Sulawesi Selatan —
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka mendorong peserta didik untuk mengembangkan segala dimensi kepribadiannya secara seimbang. Secara umum, Gerakan Pramuka menggarap aspek pengembangan diri peserta didik yang dikenal sebagai area pengembangan, yang meliputi aspek spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik. Aspek-aspek ini dijabarkan dalam poin-poin kecakapan yang tertuang dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU). SKU menjadi kurikulum wajib pendidikan kepramukaan di setiap golongan.
Sistem tanda kecakapan merupakan salah satu metode pendidikan kepramukaan yang penting dan strategis. Sistem ini menjadi acuan sekaligus kurikulum pendidikan kepramukaan yang memuat seperangkat kompetensi yang harus dikuasai oleh anggota Pramuka, khususnya golongan Penggalang.
Hal tersebut disampaikan oleh Kak Andi Irwan, S.Pd., Kak Jamaluddin, S.Pd., dan Kak Anna Mariana, S.Pd., selaku Pembina Pramuka Gugus Depan (Gudep) 17.015-17.016 Pangkalan SD Inpres 3/77 Masago, Kecamatan Patimpeng, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (15/02/2025).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Gerakan Pramuka, sistem tanda kecakapan diterapkan dalam pendidikan kepramukaan. Tanda kecakapan adalah bukti yang diberikan kepada anggota Pramuka, khususnya golongan Penggalang, yang telah menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kepramukaan serta memiliki keterampilan tertentu.
“Sistem tanda kecakapan bertujuan mendorong dan merangsang anggota Pramuka agar secara bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kepramukaan serta menguasai berbagai keterampilan tertentu. Oleh karena pentingnya sistem tanda kecakapan tersebut, setiap Pramuka wajib berupaya memiliki keterampilan yang termuat di dalamnya, yang berguna bagi kehidupan diri sendiri dan pengabdian kepada masyarakat,” terang Kak Jamal di hadapan anggota Pramuka Penggalang yang rata-rata berusia 11-12 tahun.
Syarat Kecakapan Umum (SKU) merupakan kurikulum pendidikan kepramukaan yang harus ditempuh seorang anggota Pramuka untuk memperoleh Tanda Kecakapan Umum (TKU). SKU adalah bentuk penerapan sistem tanda kecakapan sesuai Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan.
“SKU adalah syarat kecakapan minimum yang harus dicapai secara umum oleh semua anggota Pramuka sesuai perkembangan jasmani dan rohaninya. Pramuka yang telah memenuhi syarat kecakapan umum akan diberikan Tanda Kecakapan Umum (TKU),” papar Kak Jamal.
Syarat Kecakapan Umum dan Tanda Kecakapan Umum untuk golongan Penggalang dikeluarkan dan ditetapkan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka. TKU merupakan tanda atau bukti bahwa seorang Pramuka telah memenuhi Syarat Kecakapan Umum.
Pada kesempatan tersebut, para guru/pembina secara bergantian memperkenalkan bentuk dan model Tanda Kecakapan Umum (TKU) khusus golongan Penggalang yang berbentuk huruf V dan berwarna merah. Selain anggota Penggalang, kegiatan ini juga diikuti oleh calon anggota Pramuka yang berstatus tamu, yang biasanya menjalani masa tersebut selama satu hingga dua bulan. Harapannya, para calon anggota dapat menyelesaikan SKU sehingga dinyatakan sah sebagai anggota Gerakan Pramuka dan berhak mengenakan seragam Pramuka lengkap dengan atributnya.[JP-Red]
— Kontributor Berita :Yoush A. Yahya – Kwarran Patimpeng, Sulawesi Selatan —
Jejak Pramuka – Gerakan Pramuka adalah wadah pendidikan karakter yang membentuk pribadi tangguh, cakap, dan bermanfaat bagi sesama. Pramuka tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam Dasa Dharma, seperti cinta alam, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui berbagai kegiatan, anggota Pramuka dilatih menjadi pribadi yang berintegritas, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dalam membentuk karakter tersebut, Pramuka mengenal konsep TRISWA: Swabina, Swakelola, dan Swaguna. TRISWA merupakan metode pembinaan yang mencakup tiga aspek penting dalam pengembangan diri: membina diri sendiri (Swabina), mengelola kegiatan secara mandiri (Swakelola), dan memberikan manfaat bagi sesama (Swaguna). Ketiga konsep ini saling terhubung dan membentuk pola kegiatan yang menanamkan kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial secara terintegrasi. Berikut adalah penjelasan detail dari masing-masing aspek dalam konsep TRISWA:
1. Swabina: Membangun Kemandirian dengan Tribina Swabina adalah proses membina diri secara mandiri melalui konsep Tribina: Bina Diri, Bina Satuan, dan Bina Masyarakat.
Bina Diri: Mengasah potensi diri dengan keterampilan dan pelatihan yang membangun karakter kuat.
Bina Satuan: Melatih kepemimpinan melalui peran sebagai pemimpin regu atau pengurus sangga.
Bina Masyarakat: Mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan bakti sosial.
2. Swakelola: Belajar Mengelola Kegiatan secara Mandiri Swakelola menekankan pada kemampuan mengelola kegiatan sendiri atau secara berkelompok, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Melalui pengalaman memimpin acara seperti perkemahan atau lomba, anggota Pramuka mengasah keterampilan manajerial dan kepemimpinan.
3. Swaguna: Menjadi Pribadi yang Memberi Manfaat Swaguna mengajarkan anggota Pramuka agar mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Mereka didorong menjadi pribadi yang bermanfaat seperti matahari yang menerangi tanpa membakar diri, atau sumber air yang menyegarkan banyak orang.
Mengapa Konsep TRISWA Cocok untuk Anggota Pramuka? TRISWA mengintegrasikan pembelajaran karakter, kepemimpinan, dan pengabdian. Mini riset yang dilakukan terhadap 50 anggota Pramuka Penegak di Sidoarjo menunjukkan hasil yang positif:
88% merasa konsep Swakelola meningkatkan kemampuan kepemimpinan.
82% menyatakan Swabina membantu meningkatkan rasa percaya diri.
90% merasakan manfaat sosial melalui praktik Swaguna.
Kesimpulan: Konsep TRISWA adalah metode efektif yang membentuk anggota Pramuka menjadi pribadi mandiri, cakap, dan bermanfaat bagi masyarakat. Implementasinya yang rutin dan aplikatif di gugus depan akan membekali anggota Pramuka dengan keterampilan hidup yang berguna sepanjang hayat.[JP-Red]
Tentang Penulis :Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media :jejakpramuka.com;
Jejak Pramuka – Kak Idik Sulaeman atau nama lengkapnya Drs. H. IDIK SULAEMAN NATAATMADJA, AT adalah tokoh penting Gerakan Pramuka yang berdedikasi memajukan Pramuka Indonesia. Ia menulis berbagai buku pedoman kepramukaan yang menginspirasi generasi muda, terutama di dunia pendidikan.
Mengenal Kak Idik Sulaeman
Lahir di Kuningan pada hari Kamis, tanggal 20 Juli 1933. Beliau merupakan pencetus nama Pasikibraka. Adik didik Kak Husein Mutahar di kepanduan ini jugalah yang menyempurnakan seluruh kelengkapan Paskibraka sebagai sebuah Korps, mulai dari sistem/metode pelatihan, silabus, atribut dan kelengkapannya. Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA. Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.
Kak Idik menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung ITB pada 9 April 1960. Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkan ketika Idik pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.
Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.
Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.
Idik menikah dengan Aisah Martalogawa pada 29 Oktober 1961, Idik dikaruniai tiga anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.
Pengalaman Kak Idik dalam Kepanduan
Tahun 1939 ia memasuki Kepanduan Natipy masuk sebagai pandu muda. Baru tahun 1946 Pandu Rakyat berdiri di kota Tasikmalaya, ia masuk Kepanduan itu menjadi Perintis dan dilantik di daerah Manonjaya. Tahun 1950 pindah ke Purwakarta dan masuk Kepanduan lagi sebagai Pandu Pawang. Setamat SMP pindah ke Jakarta dan masuk SMA dan masuk Kelompok Jakarta-17, jadi Pandu Penuntun.
Setamat SMA pindah ke Bandung dan memasuki ITB ambil Jurusan Seni Rupa dan mendirikan Perindukan Pemula. Ketika Gerakan Pramuka berdiri, ia ikut dalam susunan Kwartir Daerah Jawa Barat sebagai Andalan Daerah Urusan Perlengkapan. Dua tahun setelah itu ia mau dijadikan Ketua Kwartir Cabang Kotamadya Bandung, menggantikan sdr. A. Djamil. Karena kepindahan ke Jakarta, ia diangkat menjadi Asisten Sekjen Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Mulai mendirikan Pramuka di Universitas Trisakti, mula-mula mendiskusikan dengan beberapa dosen dan pimpinan Universitas. Kursus orientasi dengan tokoh-tokoh mahasiswa dan mulai mendirikan di kampus A, B, dan C. Menjadi Andalan Nasional mulai tahun 1988 dan berakhir 1998. Mendapat tanda penghargaan: Tanda Bakti, Karya Satya 8 tahun (IV) dan Bunga Melati. Dari Pemerintah mendapat WIBAWA SEROJA NUGRAHA, BINTANG JASA PRATAMA, dan KARYA SATYA XXX TAHUN. Kini ia aktif sebagai Pandu Tua, anggota Pengurus Pusat HIPPRADA.
Kak Idik meninggal pada tahun 2013. Jasa-jasanya juga sangat luar biasa terutama dalam menulis dan menerbitkan buku-buku pramuka di Indonesia. Puluhan buku pramuka telah Beliau tulis dan hingga kini menjadi pegangan para Pembina Pramuka di seluruh Indonesia dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Husein Mutahar atau yang lebih sering dikenal sebagai H. Mutahar atau Hs. Mutahar pastilah sangat dikenal oleh para anggota pramuka. Wajar karena H. Mutahar adalah tokoh pramuka yang pencipta lagu Hymne Pramuka atau lagu Satya Darma Pramuka yang tetap dipergunakan oleh Gerakan Pramuka hingga saat ini.
Namun selain sebagai pengarang lagu Himne Pramuka, adakah anggota pramuka yang sudah mengenal Kak Mut (panggilan akrab Kak Husein Mutahar) lebih lanjut?.
Kak H. Mutahar adalah seorang habaib (keturunan langsung Nabi Muhammad), tokoh kepanduan dan kepramukaan, pejuang kemerdekaan, pencipta lagu, penggagas Paskibraka (Pasukan pengibar Bendera Pusaka), wartawan, hingga Duta Besar Indonesia di Vatikan.
H. Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Agustus 1916. Meninggal di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2004 dalam usia 87 tahun. Nama lengkapnya adalah Habaib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al Muthahar. Namanya kemudian lebih dikenal sebagai Husein Mutahar atau Hs. Mutahar. Di lingkungan Gerakan Pramuka, beliau kerap dipanggil sebagai Kak Mut.
Sumber foto : republika.id
Nama : Haji Husein Mutahar Lahir : Semarang, 5 Agustus 1916
Riwayat Pendidikan : • ELS (Europese Lagere School) (SD Eropa 7 tahun), merangkap mengaji/ membaca Al-Quran pada guru wanita,Encik Nur. • MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs) atau SMP 3 tahun di Semarang, merangkap mengaji pada Kiai Saleh. • AMS (Algemeen Midelbare School) atau SMA, jurusan SastraTimur, khusus • bahasa Melayu, di Yogyakarta. • Universitas Gajah Mada, Jurusan Hukum merangkap Jurusan Sastra Timur, khusus Jawa Kuno di Yogyakarta • (sesudah 2 tahun drop out karena perjuangan). • Semua Kursus/Training Pemimpin Pandu di Indonesia dan di London. • Training School Diplomatic and Consulair Affairs di Nederland. • Training School Diplomatic and Consulair Affairs di kantor PBB (United Nation Organization/UNO), New York.
Riwayat Pekerjaan: • Guru Bahasa Belanda di SD swasta Islam di Pekalongan. • Wartawan berita kota, surat kabar Belanda “Het Noorderi’ di Semarang, 1938. • Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor, Noord Midden Java, Departement Ekonomische • Zaken, 1939-1942. • Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa Tengah, 1943. • Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di Semarang, 1943-1948. • Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indone-sia, 1945-1946. • Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik In-donesia, 1946-1948. • Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indone-sia, 1969-1979. • Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Direktur Jenderal Urusan • Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K, 1966-1968. • Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973. • Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara, 1973-1974 • InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan, merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap Kepala Protokol Negara, 1974. • Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IV/e.
Riwayat Pergerakan: • Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969 • Anggota Partai Politik, 1938-1942 • Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman, penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, sebagai gerakan elawan penyebaran semangat Jepang dan bungkus gerakan subversi melawan Jepang, 1942-1945 • Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang, 1945. • Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945. • Anggota redaksi majalah “Revolusi Pemuda”, 1945-1946. • Gerilya, 1948-1949 • Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indo-nesia”, 28-12-1945 s.d. 20-5-1961. • Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan,1961-1969. • Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004. • Alumni Penataran P-4 Tingkat Nasional XIX, 1980. • Ketua Umum organisasi sosial di bidang pendidikan “Parani Dharmabakti Indonesia” (PADI), 1987-2004. • Ketua Dewan Pengawas “Yayasan Idayu”.
Hobi dan Kegemaran : • Seni Suara • Studi Agama Islam dan perbandingan agama-agama serta organisasi kerohanian, baik di dunia Timur maupun Barat. Keluarga: • Tidak menikah, namun mempunyai 8 anak semang (6 laki-laki dan 2 perempuan). Sebagian merupakan “serahan” dari ibu mereka —yang janda— atau bapak mereka —beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Ada pula bapak/ibu yang sukarela menyerahkan anaknya untuk diakui sebagai anak sendiri. Semua sudah berumah tangga dan mempunyai 15 orang cucu (7 laki-laki dan 8 perempuan).
Meninggal dunia : • Hari Rabu, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB, dalam usia 87 tahun di Jln. Damai No.20 Cipete, Jakarta Selatan. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Ja-karta Selatan. Sebetulnya, beliau berhak dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki tanda kehormatan “Mahaputera” atas jasa menyelamatkan bendera pusaka Merah Putih dan “Bintang Gerilya” atas jasanya ikut perang gerilya tahun 1948-1949. Tetapi, beliau tidak mau, bahkan mengurus hal itu kepada pengacara dengan membuat surat wasiat. [Sumber: Drs H. Idik Sulaeman, AT, Booklet Paskibraka 2004 – SEKELUMIT KISAH TENTANG HUSEIN MUTAHAR]. – Sumber Informasi : korwilsolear.blogspot.com
H. Mutahar dan Kepramukaan;
H. Mutahar atau Husein Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan (sebelum lahirnya Pramuka), saat berdirinya Gerakan Pramuka, maupun setelah kelahiran Pramuka. Beliau telah aktif menjadi anggota kepanduan saat masih bersekolah di MULO dan AMS.
Dalam sejarah kepramukaan di Indonesia, beliau berperan aktif dalam Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia yang kemudian menyelenggarakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia pada tanggal 27 – 29 Desember 1945. Konggres ini sendiri kemudian berhasil membentuk Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepanduan saat itu. Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia (1945 – 1961).
H. Mutahar juga berperan aktif dalam usaha pendirian Gerakan Pramuka pada tahun 1961. Bersama tokoh-tokoh kepramukaan lainnya, beliau berjuang keras ketika saat usaha peleburan kepanduan menjadi pramuka berusaha dibelokkan oleh Partai Komunis Indonesia menjadi gerakan Pionir Muda yang berhaluan komunis.
Setelah berdirinya Gerakan Pramuka (14 Agustus 1961), Husein Mutahar menjabat sebagai anggota Kwartir Nasional hingga beberapa kali periode. Menjabat sebagai Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka periode 1973 – 1978. Selain itu, beliau juga aktif sebagai pembina pramuka hingga usia tuanya.
Bahkan dua minggu menjelang wafatnya, H. Mutahar meminta difoto dengan mengenakan pakaian pramuka lengkap dengan bintang jasa dan penghargaan yang diterimanya. Foto inilah yang kemudian dicetak dalam ukuran besar dan diletakkan di dekat jenazahnya saat beliau meninggal dunia. Padahal menurutu berbagai pihak, H. Mutahar termasuk tokoh yang kerap menghindar ketika hendak difoto.
H. Mutahar Sang Pencipta Lagu Perjuangan;
Bagi anggota pramuka H. Mutahar dikenal sebagai pencipta lagu Himne Pramuka atau Satya Darma Pramuka. Lagu Hymne Pramuka sendiri diciptakan pada tahun 1964. Lagu Satya Darma Pramuka ditetapkan sebagai Himne Pramuka dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 51.
Selain lagu Satya Darma Pramuka, Husein Mutahar juga menciptakan berbagai lagu lainnya, seperti:
Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi)
Bagi anggota pramuka Satya Darma Pramuka (Himne Pramuka), Syukur, Saat Berpisah, dan Bertemu Lagi (Di Sinilah Di Sini Kita Bertemu Lagi) merupakan lagu-lagu yang cukup dikenal. Meskipun beberapa diantara kita tidak menyadari bahwa lagu-lagu tersebut adalah karya dari Kak Mutahar.
H. Mutahar Pejuang Kemerdekaan dan Penyelamat Bendera Pusaka;
Kak Husein Mutahar, selain aktif di kepanduan, juga ikut bergerak aktif dalam perjuangan melawan penjajah. Pada Oktober 1945 terlibat langsung dalam ‘Pertempuran Lima Hari’ di Semarang. Ketika pemerintahan RI hijrah ke Yogyakarta pada tahun 1946, Mutahar diangkat menjadi Sekretaris Laksamana Muda Mohammad Nazir Isa yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (Kepala Staf TNI Angkatan Laut). Di tahun yang sama, HS. Mutahar kemudian diangkat menjadi Ajudan Presiden RI, Ir. Soekarno.
Menjelang Ir. Soekarno ditangkap Belanda pada saat Agresi Militer II Belanda (19 Desember 1948), H. Mutahar mendapatkan tugas khusus untuk menyelamatkan ‘bendera pusaka’ (bendera Merah Putih yang dikibarkan pertama kali saat Indonesia merdeka) agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Saat Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan pejabat lainnya ditangkap Belanda, H. Mutahar pun ikut ditangkap, namun dapat melarikan diri sambil menyelamatkan bendera pusaka.
Atas jasa beliau inilah kemudian pemerintah menganugerahkan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra.
H. Mutahar Bapak Paskibraka;
Selain dikenal sebagai tokoh pramuka sekaligus pencipta lagu Hymne Pramuka, Hs. Mutahar pun dikenal sebagai bapak Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka). Menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan pertama kali (17 Agustus 1946), Ir. Soekarno berniat melaksanakan peringatan Detik-Detik Kemerdekaan RI di halaman Gedung Agung Yogyakarta. Ir. Soekarno menugasi H. Mutahar untuk mengonsep dan mempersiapkan acara tersebut. Hingga akhirnya beliau menunjuk lima orang pemuda untuk mengibarkan bendera pusaka. Peringatan tersebut kembali dilaksanakan pada tahun 1947 dan 1948.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk mengonsepo dan mempersiapkan pengibaran bendera pusaka saat peringatan Hari Kemerdekaan RI. Hasilnya, H. Mutahar membentuk ‘Pasukan Pengerek Bendera’ yang formasinya terdiri atas tiga kelompok yaitu Kelompok Pengiring (17 orang), kelompok Pembawa (8 orang), dan kelompok Pengawal (45 orang). Nama ‘Pasukan Pengerek Bendera’ tetap dipergunakan sampai dengan tahun 1972.
Pada tahun 1973, Drs Idik Sulaeman, Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang saat Pramuka Penegak dibina oleh H. Mutahar mengusulkan mengganti nama dari ‘Pasukan Pengerek Bendera’ menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Riwayat Jabatan dan Pekerjaan Lainnya
Wartawan Surat Kabar Het Noordik, Semarang (1938)
Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945
Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (1945 -1946)
Redaksi majalah “Revolusi Pemuda” (1945-1946)
Ajudan Presiden Ir. Soekarno (1946 – 1948)
Perang Gerilya (1948 – 1949)
Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Udaka) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1966 – 1968)
Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia (1969)
Duta Besar Republik Indonesia di Vatikan (1969 – 1973)
Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara (1973-1974)
Kak Husein Mutahar tidak menikah sepanjang hidupnya sehingga tidak memiliki keturunan (anak). Meski demikian beliau mengangkat 8 anak semang (anak angkat).
Kak Hs. Mutahar meninggal di Jakarta pada tanggal 8 Juni 2004 akibat sakit tua yang dideritanya. Sebagai penerima tanda jasa penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, beliau seharusnya berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata. Namun sesuai dengan wasiatnya, beliau memilih dimakamkan di pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Tokoh pramuka yang sedari kecil hingga tuanya tetap setia bergelut dengan kepramukaan itu telah tiada. Meninggalkan warisan berharga bagi anggota pramuka se Indonesia. Di samping lagu Satya Darma Pramuka hasil ciptaaannya, semangat, perjuangan, konsistensi, dan kesederhanaan H. Mutahar patut menjadi suri tauladan bagi kita semua.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Pramuka Pangkalan SMAN 4 Sidoarjo (Smanivda) menggelar acara Anjangsana yang dihadiri oleh 20 perwakilan gugus depan pangkalan Pramuka Penegak dari berbagai sekolah negeri maupun swasta se-Kabupaten Sidoarjo. Perwakilan dari Kepanduan Hizbul Wathan (HW) SMA Muhammadiyah turut hadir, menegaskan semangat persaudaraan lintas organisasi dalam kegiatan Pramuka. Acara ini merupakan bagian dari program kerja Pramuka Smanivda untuk mempererat hubungan antar pangkalan.
Tujuan utama kegiatan adalah memperkuat tali persaudaraan dan memperluas wawasan kepramukaan di kalangan Penegak se-Kabupaten Sidoarjo. Setiap pangkalan mempresentasikan program kerja masing-masing, dengan Dewan Ambalan memaparkan program unggulan secara inspiratif. Ini menjadi ruang berbagi pengalaman yang dapat memotivasi peserta lain.
Suasana keakraban terlihat dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, bertanya dengan penuh penghormatan, dan serius menyimak pemaparan dari rekan-rekan mereka. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan kritis yang memicu diskusi aktif, menciptakan suasana interaktif yang sarat ilmu dan pengalaman.
Kak Warsini, S.Pd., M.Pd., selaku Pembina Gugus Depan Pangkalan SMAN 4 Sidoarjo, menyampaikan harapannya, “Semoga kegiatan ini tetap berlangsung setiap tahun agar wawasan kepramukaan makin berkembang. Dengan begitu, akan lahir generasi muda yang mandiri, terampil, dan tetap memiliki jiwa ikhlas bakti bina bangsa.”
Selain bertukar wawasan, kegiatan ini memperkuat nilai-nilai Pramuka seperti persaudaraan, kerja sama, dan rasa saling menghormati. Suasana kekeluargaan makin terasa saat peserta berbagi pengalaman dan berdiskusi. Mereka juga mendapat kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan ciri khas pangkalan masing-masing, menambah keberagaman wawasan.
Peserta memberikan apresiasi terhadap berbagai program unggulan yang dipresentasikan. Banyak yang terinspirasi dan mencatat ide-ide yang dapat diterapkan di pangkalan mereka. Beberapa bahkan merencanakan kolaborasi antar-gudep untuk mengembangkan program bersama di masa depan.
Panitia menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh pangkalan yang hadir. Mereka menegaskan pentingnya acara ini sebagai wadah membangun jaringan yang lebih luas antar sesama Penegak. Panitia juga menyoroti kontribusi peserta yang aktif berbagi ide, menjadikan acara ini sarana pembelajaran bersama yang berharga.
Sebagai penutup, peserta melakukan sesi foto bersama sebagai simbol persatuan dan kenangan. Sebelum berpisah, mereka saling bertukar kontak untuk menjaga komunikasi. Para peserta pulang dengan semangat baru, wawasan yang luas, dan motivasi kuat untuk memajukan kepramukaan di Kabupaten Sidoarjo.[JP-Red]
Jejak Pramuka — Gerakan Pramuka Gugus Depan 09.105 – 09.106 Pangkalan SMK Krian 2 Sidoarjo menggelar ajang bergengsi bagi Pramuka Penggalang se-Jawa Timur bertajuk Praskarida Competition for Penggalang (PCFP) 2 2025 dengan tema “Pramuka Berjiwa Kompetitif, Kreatif, Inovatif, Produktif, dan Berprestasi”. Kegiatan ini diikuti oleh 390 peserta dari 19 pangkalan gugus depan SMP/MTs Negeri maupun swasta se-Jawa Timur.
Acara dibuka oleh Ketua Harian Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Kak Dr. H. Mustain Baladan, M.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan, “Kegiatan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan ajang berburu prestasi yang menjawab tantangan zaman. Pramuka harus menjadi wadah kaum muda untuk berkreasi dan menunjukkan kemampuan intelektual, saya juga berharap ajang perlombaan ini juga dapat menginspirasi pengaktifan kembali kegiatan-kegiatan Pramuka secara lebih intensif di Jawa Timur.” ujar Kak Mustain menegaskan.
Kepala SMK Krian 2 selaku Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus), Kak Indra Wahyu Suliswanto, M.Pd., turut memberikan harapannya agar kegiatan ini menjadi pemantik semangat Pramuka di wilayah Sidoarjo. “Nilai-nilai Pramuka, seperti membentuk karakter, menumbuhkan tanggung jawab, memupuk semangat gotong-royong, dan membina jiwa kepemimpinan, sangat luar biasa dan perlu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Kak Indra.
Selain itu, Kak Indra menyoroti manfaat kegiatan Pramuka dalam membangun mental dan fisik, meningkatkan kepercayaan diri, memfasilitasi interaksi sosial, serta melatih kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. Beliau berharap, melalui kompetisi ini, para peserta dapat semakin memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Ajang PCFP 2 2025 menghadirkan berbagai lomba yang dirancang untuk mengasah kreativitas, ketangkasan, dan kepemimpinan para peserta. Lomba-lomba tersebut meliputi pionering, semaphore, cerdas cermat, dan berbagai kegiatan yang memupuk kerja sama tim serta jiwa sportivitas.
Dengan partisipasi peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, kompetisi ini menjadi wadah silaturahmi dan bertukar pengalaman antar anggota Pramuka. Harapannya, semangat yang tumbuh dari ajang ini dapat terus berkembang dan menjadikan Pramuka sebagai garda terdepan dalam membina generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berprestasi.
Ajang ini bukan hanya tentang kemenangan, melainkan tentang proses yang membentuk pribadi tangguh, kreatif, dan pantang menyerah. Kompetisi yang sehat melatih mental juara dan menanamkan prinsip pantang menyerah. Semangat juang dalam setiap perlombaan mencerminkan jiwa sejati Pramuka: berkarakter, bertanggung jawab, dan siap berbakti untuk bangsa. Dengan terus mengembangkan diri melalui ajang seperti ini, peserta bukan hanya menjadi pemenang di arena, tetapi juga di kehidupan nyata.[JP-Red]
Jejak Pramuka – Pramuka bukan sekadar seragam cokelat dan tepukan semangat, tetapi perjalanan menuju kemandirian, kepemimpinan, dan kebersamaan. Sebagai Pramuka Penegak, kita berada di fase paling dinamis dalam gerakan kepanduan—fase di mana tantangan semakin besar, tanggung jawab semakin nyata, dan jiwa kepemimpinan mulai ditempa.
Namun, bagaimana agar setiap latihan bukan hanya rutinitas biasa, tetapi menjadi pengalaman yang seru, menantang, dan selalu dinantikan?
Bayangkan sebuah latihan yang penuh semangat, di mana setiap baris-berbaris bukan hanya tentang disiplin, tetapi juga strategi dan kekompakan. Setiap materi bukan sekadar teori, tetapi simulasi yang membuat kita merasa sedang menghadapi tantangan di alam bebas. Setiap permainan bukan hanya hiburan, tetapi sarana mempererat persaudaraan dan melatih kecerdasan.
Inilah yang akan kita bahas! Rangkaian latihan mingguan yang tidak membosankan, penuh variasi, dan memberikan pengalaman berharga bagi setiap Pramuka Penegak. Siap untuk latihan yang lebih seru? Mari kita mulai!
Agar latihan Pramuka Penegak setiap minggu lebih menarik, berikut adalah rangkaian kegiatan yang bisa dilakukan dengan alur yang dinamis dan menyenangkan.
Rangkaian Kegiatan Latihan Pramuka Penegak
1. Persiapan Latihan (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Memastikan kelancaran latihan dengan persiapan yang matang.
✅ Kegiatan:
Pengurus Dewan Ambalan dan Pembina berkumpul lebih awal untuk mengecek kehadiran, perlengkapan, dan tempat latihan.
Regu atau Sangga berkoordinasi dan mempersiapkan diri.
Pemanasan ringan untuk menyiapkan fisik sebelum latihan.
💡 Tips: Buat tugas piket bergilir agar semua anggota terbiasa dengan kepemimpinan dan tanggung jawab.
💡 Tips: Sesekali buat variasi amanat berupa kisah inspiratif, motivasi, atau yel-yel semangat!
3. PBB – Latihan Baris-berbaris/Kesamaptaan (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Melatih disiplin, kekompakan, dan fisik yang prima.
✅ Kegiatan:
Latihan dasar PBB (sikap sempurna, hadap kanan/kiri, balik kanan, langkah tegap, dsb.).
Latihan variasi seperti formasi angka/simbol untuk meningkatkan kreativitas dan kekompakan.
Latihan fisik ringan: lari kecil, push-up, plank, atau peregangan untuk menjaga kebugaran.
💡 Tips: Adakan kompetisi antar regu/sangga untuk meningkatkan semangat!
4. Ice Breaking / Permainan Awal / Bernyanyi (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Meningkatkan semangat dan mempererat kebersamaan.
✅ Pilihan kegiatan:
Tebak Gaya: Salah satu peserta memperagakan suatu kata, yang lain menebak.
Tebak Lagu: Potongan lagu pramuka atau nasional dimainkan, siapa cepat dia menang!
Jaring Laba-Laba: Semua peserta berdiri melingkar dan saling melempar bola tali untuk membentuk jaring, sambil menyebutkan nama dan hal unik tentang diri mereka.
💡 Tips: Sesuaikan dengan suasana! Jika masih pagi, pilih permainan yang energik, jika sudah siang, pilih yang lebih santai.
5. Materi Kegiatan Latihan (45 Menit – 1 Jam)
⏳ Waktu: 45 menit – 1 jam 🎯 Tujuan: Mempelajari keterampilan kepramukaan yang menarik dan bermanfaat.
✅ Contoh materi latihan mingguan:
Minggu
Materi
Metode
1
Tali Temali
Membuat tandu darurat atau jembatan sederhana.
2
Navigasi Darat
Orientasi peta dan kompas dengan simulasi pencarian jejak.
3
Pioneering
Membuat menara, rakit, atau gapura sederhana.
4
Survival
Teknik bertahan hidup di alam, mencari air, dan membuat api unggun.
5
Pertolongan Pertama
Simulasi penanganan luka dan evakuasi korban.
6
Komunikasi Lapangan
Kode morse, semaphore, dan sandi-sandi Pramuka.
7
Jurnalistik dan Dokumentasi
Cara membuat laporan dan mendokumentasikan kegiatan Pramuka.
8
Kewirausahaan
Simulasi membuat usaha kecil di lingkungan sekitar.
💡 Tips: Gunakan simulasi atau praktik langsung agar materi lebih menarik!
6. Kesimpulan / Evaluasi Materi (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Merefleksi hasil latihan untuk meningkatkan pemahaman.
✅ Kegiatan:
Tanya jawab seputar materi yang telah dipelajari.
Setiap sangga menyampaikan hal yang paling menarik dan yang masih perlu dipelajari.
Pembina atau Dewan Ambalan memberikan kesimpulan dan catatan penting.
💡 Tips: Bisa dibuat santai, misalnya melalui diskusi dalam lingkaran sambil duduk.
7. Permainan Penutup / Bernyanyi / Kuis (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Mengakhiri latihan dengan suasana gembira dan semangat tinggi.
✅ Contoh kegiatan:
Kuis Kepramukaan: Sangga saling beradu menjawab pertanyaan terkait latihan.
Lomba Yel-yel: Masing-masing sangga membuat yel-yel dengan tema tertentu.
Permainan “Jalan Sehat”: Satu peserta ditutup matanya, yang lain memberi arahan dengan kode tepukan.
💡 Tips: Jangan lupa beri reward sederhana untuk pemenang agar lebih seru!
8. Upacara Penutupan Latihan Pramuka (10 Menit)
⏳ Waktu: 10 menit 🎯 Tujuan: Menutup latihan dengan hikmat dan disiplin.
✅ Susunan upacara:
Persiapan Pasukan.
Penghormatan kepada kakak Pembina.
Laporan Pemimpin Upacara.
Penurunan Bendera (jika ada).
Amanat singkat Pembina (motivasi atau evaluasi).
Doa penutup.
Laporan Pemimpin Upacara.
Penghormatan kepada kakak pembina.
Pembubaran pasukan.
💡 Tips: Tambahkan pengumuman penting atau agenda latihan berikutnya agar peserta lebih siap.
Penutup
Dengan susunan kegiatan yang bervariasi dan interaktif, latihan Pramuka Penegak akan lebih seru, tidak monoton, dan selalu dinantikan. Kuncinya adalah keseimbangan antara disiplin, materi, dan permainan yang menyenangkan.
🔥 “Jadilah Pramuka yang kreatif, aktif, dan selalu siap menegakkan nilai-nilai Trisatya dan Dasa Darma!” 🔥
Tentang Penulis :Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Aktif menjadi Pembina Satuan Pramuka Penegak di pangkalan SMKN 2 Buduran sejak 1999 – sekarang, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997), Pendiri SIKAP PANDUNATA (Sekolah Inspirasi Kepribadian Akhlak Perilaku), Owner Media :jejakpramuka.com;